WVI beri pendampingan petani tanam sayur organik di Touna

id Wvi, dampingi, petani

WVI beri pendampingan petani tanam sayur organik di Touna

Para petani di Desa Mangtangisi, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Touna, saat dilatih membudidaya sayur buah labu madu.(ANTARA/HO-Dok WVI).

Ampana (ANTARA) - Wahana Visi Indonesia (WVI) memberi pendampingan sejumlah petani untuk menanam sayur secara organik di Kabupaten Tojo Unauna (Touna), Sulawesi Tengah.

"Melalui program pengembangan sayur organik, WVI beri pendampingan kepada para petani di Desa Mangtangisi, Kecamatan Ampana Tete, agar tidak bergantung pada pupuk dan pestisida," kata Sudarman, salah satu pendamping lapangan WVI, di Ampana, Jumat.

Ia mengatakan petani hortikultura di Mantangisi, didampingi untuk bisa memanfaatkan dan mengolah sampah organik menjadi pupuk tanaman.

"Misalnya pembuatan mikroorganisme lokal dengan bahan utama bonggol pisang, dan perangsang tumbuh akar atau Plant Growth Promoting Rhizobacteria dengan bahan utama akar bambu," katanya.

Dijelasnya kegiatan pendampingan diawali dengan mengenalkan beberapa komoditi sayur misalnya sawi, kol dan pakcoy, kabocha lalu sayur buah labu madu. 

Namun kata dia, karena kekeringan banyak petani mengalami penurunan produksi ditambah dengan adanya pandemi COVID-19 menyebabkan pendapatan para petani menurun.

Sehingga katanya, petani setempat dilatih agar  bisa menanam labu madu menjadi salah satu komoditi andalan.

"Walaupun Labu madu komoditi belum familier di wilayah Kabupaten Touna, namun memiliki peluang agribisnis yang tinggi," katanya.

Juga kata dia, berdasarkan uji coba penanaman labu madu cocok dibudidayakan di wilayah Kabupaten Touna. 

"Hasil uji coba, dari satu bungkus benih yang berisi enam biji menghasilkan enam buah labu madu," katanya.

Kemudian ujarnya, para petani dampingan WVI mendapat pelatihan tentang budidaya dan teknik tanam dan panen labu madu. 

"Monitoring kegiatan petani juga tetap dilakukan selama pandemi COVID-19 melalui telepon ke kelompok tani," ujarnya.

Ia mengatakan, WVI juga giat mempromosikan sistem pertanian organik di Touna sekaligus mendampingi petani untuk menjual hasil pertanian mereka.
 
Tanaman sayur buah labu madu petani dampingan WVI di Kabupaten Touna.(ANTARA/HO-Dok WVI).

Sementara Nursida (47), salah satu petani dampingan WVI mengatakan, menanam labu madu lebih mudah dibanding dengan menanam sayur daun yang sebelumnya mereka budidayakan. 

Selain itu kata dia, harga jualnya mencapai Rp 18 ribu perkilonya. 

"Labu madu juga memiliki rasa yang lebih manis dan enak ketimbang labu biasa," ujarnya.

"Dengan program pendampingan dari WVI ini sangat membantu kehidupan keluarga, saya bisa menyekolahkan anak-anak dan membangun rumah," ujar ibu tiga anak ini.***
Pewarta :
Editor : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar