Kabar baik bagi keanekaragaman hayati dari Komisi Eropa

id Uni Eropa,Keanekaragaman Hayati

Kabar baik bagi keanekaragaman hayati dari Komisi Eropa

Warga memanen sayuran yang ditanam pada tembok jalan di Kampung Siaga Pangan COVID-19, Warung Bandrek RW 05, Kelurahan Bondongan, Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/5/2020). ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/foc. (ARIF FIRMANSYAH/ARIF FIRMANSYAH)

Jakarta (ANTARA) - Kabar baik di tengah pandemi coronavirus disease 2019 atau COVID-19 yang masih menghantui dunia keluar dari Komisi Eropa menjelang Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang jatuh pada 22 Mei mendatang.
 

Sebuah strategi transformatif keanekaragaman hayati dikeluarkan berbarengan dengan transformasi sistem pangan oleh Komisi Eropa pada Rabu (20/5), dengan tujuan mengembalikan alam pada kehidupan manusia serta memastikan terbentuknya sistem pangan yang adil, sehat dan ramah lingkungan bagi Eropa dan seluruh dunia.
 

Dari keterangan resmi Komisi Eropa, Rabu (20/5), Strategi Keanekaragaman Hayati Baru tersebut berisi langkah konkrit Uni Eropa ke depan untuk mengembalikan lagi keanekaragaman hayati Eropa pada jalur pemulihan pada 2030, termasuk mengubah setidaknya 30 persen dari daratan dan lautan Benua Biru tersebut menjadi kawasan lindung yang dikelola secara efektif dan mengembalikan setidaknya 10 persen area pertanian di bawah fitur lanskap keanekaragaman hayati.
 

Saat ini, hanya tiga persen lahan dan kurang dari satu persen kawasan laut Uni Eropa yang dilindungi secara ketat, sehingga mereka merasa perlu melindungi lebih baik lagi. Setidaknya satu per tiga area yang dilindungi yang merepresentasikan 10 persen daratan dan 10 persen laut mereka harus dilindungi secara ketat, sehingga selaras dengan apa ambisi global yang diusulkan.
 

Sejalan dengan itu Uni Eropa menetapkan, memetakan, memonitor dan secara ketat melindungi seluruh hutan primer dan tua yang tersisa di sana. Akan juga penting untuk melakukan advokasi untuk hal yang sama secara global dan melanjutkan bahwa tindakan mereka tidak mengakibatkan deforestasi di wilayah lain di dunia.
 

Selain itu, untuk memiliki Jaringan Alam Trans-Eropa yang benar-benar koheren dan tangguh, Uni Eropa menganggap penting untuk membuat koridor ekologis untuk mencegah isolasi genetik, memungkinkan migrasi spesies, dan memelihara serta meningkatkan ekosistem yang sehat.

Dalam konteks itu, investasi dalam infrastruktur hijau dan biru dan kerja sama lintas batas antara negara-negara anggota di Uni Eropa harus dipromosikan dan didukung, termasuk melalui Kerja sama Wilayah Eropa.
 

Dana 20 miliar Euro atau sekitar Rp322,72 triliun per tahun akan dibuka untuk keanekaragaman hayati melalui berbagai sumber, termasuk dana Uni Eropa, pendanaan nasional dan swasta.

Semua akan digunakan untuk perlindungan alam, penggunaan berkelanjutan dan restorasi, dan diramalkan akan membawa keuntungan ekonomi bagi komunitas lokal, serta menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
 

Strategi Keanekaragaman Hayati yang baru menangani pendorong utama hilangnya keanekaragaman hayati, seperti penggunaan tanah dan laut yang tidak berkelanjutan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, polusi, dan spesies asing invasif.
 

Diadopsi di tengah pandemi COVID-19, strategi itu menjadi elemen sentral dari rencana pemulihan Uni Eropa, penting untuk mencegah dan membangun ketahanan terhadap wabah di masa depan dan memberikan peluang bisnis dan investasi segera untuk memulihkan ekonomi mereka.
 

Itu juga bertujuan untuk menjadikan pertimbangan keanekaragaman hayati sebagai bagian integral dari strategi pertumbuhan ekonomi Uni Eropa secara keseluruhan.
 

Strategi itu mengusulkan, antara lain, menetapkan target yang mengikat untuk memulihkan ekosistem dan sungai yang rusak, meningkatkan kesehatan habitat dan spesies yang dilindungi Uni Eropa, membawa kembali penyerbuk ke lahan pertanian, mengurangi polusi, menghijaukan kota-kota di sana, meningkatkan pertanian organik dan ramah keanekaragaman hayati lainnya praktik pertanian, dan meningkatkan kesehatan hutan Eropa.
 

Wakil Presiden Eksekutif untuk Kesepakatan Hijau Eropa, Frans Timmermans mengatakan krisis virus corona telah menunjukkan betapa rapuhnya semua manusia di Bumi, dan betapa pentingnya memulihkan keseimbangan antara aktivitas manusia dan alam.

Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah bahaya yang nyata dan mengancam kemanusiaan.
 

Dalam inti Kesepakatan Hijau Eropa, kedua strategi tersebut menunjukkan keseimbangan alam, sistem pangan, dan keanekaragaman hayati yang baru dan lebih baik. "Untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan rakyat kita, dan pada saat yang sama untuk meningkatkan daya saing dan ketahanan Uni Eropa. Strategi-strategi ini adalah bagian penting dari transisi hebat yang sedang kami jalani," ujar Timmermans.



 

Pangan sehat berkelanjutan
 

Sementara strategi transformasi pertanian yang mereka sebut The Farm to Fork Strategy tersebut mereka yakini akan memungkinkan Uni Eropa melakukan transisi sistem pangan yang berkelanjutan yang melindungi keamanan pangan dan memastikan akses diet sehat yang bersumber dari planet yang juga sehat bagi masyarakatnya.
 

Strategi pertanian tersebut bertujuan untuk mengurangi jejak lingkungan dan iklim dari sistem pangan Uni Eropa dan memperkuat ketahanannya, melindungi kesehatan warga dan memastikan mata pencaharian para operator ekonomi.
 

Selain itu, strategi transformasi pangan tersebut menetapkan target konkrit untuk mengubah sistem pangan Uni Eropa, termasuk pengurangan 50 persen penggunaan pestisida berisiko, 20 persen penggunaan pupuk, 50 persen pengurangan penggunaan antimikroba yang digunakan untuk hewan ternak dan akuakultur, dan membuat 25 persen lahan pertanian di sana menjadi pertanian organik.
 

Para petani, nelayan dan produsen akuakultur memainkan peran kunci transisi sistem pangan yang adil dan berkelanjutan tersebut. Mereka akan mendapat dukungan dari Kebijakan Pertanian Bersama dan Kebijakan Perikanan Umum melalui aliran dana baru dan skema untuk menjalankan praktik-praktik berkelanjutan.
 

Mereka yakin membuat merek dagangan berkelanjutan Eropa akan membuka peluang bisnis baru dan mendiversifikasi sumber pendapatan bagi petani dan nelayan Eropa saat pandemi dan pascapandemi COVID-19.
 

Komisaris Kesehatan dan Keamanan Pangan Komisi Eropa Stella Kyriakides mengatakan mereka harus bergerak maju dan menjadikan sistem pangan Uni Eropa sebagai pendorong keberlanjutan. Strategi Farm to Fork akan membuat perbedaan positif di seluruh bidang dalam cara mereka memproduksi, membeli, dan mengonsumsi makanan yang akan bermanfaat bagi kesehatan warga, masyarakat, dan lingkungan.
 

Strategi tersebut menawarkan kesempatan untuk merekonsiliasi sistem pangan Eropa dengan kesehatan Bumi, untuk memastikan keamanan pangan dan memenuhi aspirasi orang Eropa untuk memperoleh makanan yang sehat, adil, dan ramah lingkungan.
 

Sementara itu, Komisaris untuk Lingkungan, Lautan dan Perikanan Komisi Eropa Virginijus Sinkeviius mengatakan alam sangat vital untuk kesejahteraan fisik dan mental manusia, alam menyaring udara dan air, mengatur iklim dan menyerbuki tanaman.
 

"Tapi kita bertindak seolah-olah itu tidak masalah, dan kehilangan itu pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Strategi Keanekaragaman Hayati yang baru ini dibangun berdasarkan apa yang telah berhasil di masa lalu, dan menambahkan alat-alat baru yang akan menempatkan kita pada jalur menuju keberlanjutan sejati, dengan manfaat untuk semua. Tujuan Uni Eropa adalah untuk melindungi dan memulihkan alam, untuk berkontribusi pada pemulihan ekonomi dari krisis saat ini, dan untuk memimpin jalan bagi kerangka kerja global yang ambisius untuk melindungi keanekaragaman hayati di sekitar planet ini," lanjutnya.
 

Strategi tersebut jelas berbeda dengan yang akan dilakukan Pemerintah Indonesia yang berencana melaksanakan cetak sawah baru di lahan gambut seluas 900.000 hektare (ha) sebagai bentuk antisipasi krisis pangan. Hal ini yang menjadi kekhawatiran mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim.
 

Diversitas pangan, menurut Emil Salim, penting sebagai cara menghadapi krisis di masa depan akibat pandemi penyakit maupun sebab lain. Karenanya Indonesia perlu mengubah kebiasaan nutrisi masyarakat sehingga bukan hanya beras yang dikonsumsi, tapi ada diversitas pangan dari keanekaragaman hayati yang dimiliki negeri ini.
 

"Dan kekayaan hayati itu jadi penting karena memberi makna pembangunan yang berkelanjutan," ujar dia.
 

Isu keanekaragaman hayati tersebut, menurut dia, bisa menjadi input untuk kondisi kesehatan masyarakat sekarang ini. Bahkan Presiden Joko Widodo saja setiap hari minum jamu untuk menaikkan imunitas tubuh yang sebenarnya sudah merupakan bentuk pemanfaatan keanekaragaman hayati.
 

Selain itu, ekonom Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu juga mengatakan upaya penyediaan pada masa normal baru pascapandemi COVID-19 sepatutnya dilakukan dengan tujuan memperhatikan nutrisi untuk imunitas tubuh sekaligus menyediakan lapangan kerja yang melibatkan masyarakat plural.
 

"Jangan naikkan pangan besar-besaran melibatkan BUMN, tapi naikkan produksi pangan untuk menaikkan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Biarkan masyarakat yang bekerja," ujar dia.



 

Pemulihan secara global

Sebagai bagian inti dari Kesepakatan Hijau Eropa, kedua strategi itu juga akan mendukung pemulihan ekonomi. Dalam konteks virus corona, strategi tersebut dibuat bertujuan untuk memperkuat ketahanan masyarakat Eropa terhadap pandemi dan ancaman di masa depan seperti dampak iklim, kebakaran hutan, kerawanan pangan atau wabah penyakit, termasuk dengan mendukung praktik-praktik yang lebih berkelanjutan untuk pertanian, perikanan dan akuakultur dan dengan menangani perlindungan satwa liar dan perdagangan satwa liar ilegal.
 

Strateginya juga memiliki elemen internasional yang penting. Strategi Keanekaragaman Hayati menegaskan kembali tekad Uni Eropa untuk memimpin dengan memberi contoh dalam mengatasi krisis keanekaragaman hayati global.
 

Komisi akan berupaya memobilisasi semua alat aksi eksternal dan kemitraan internasional untuk membantu mengembangkan Kerangka Keragaman Hayati Global PBB baru yang ambisius di Konferensi Para Pihak pada Konvensi Keanekaragaman Hayati pada 2021.

Strategi Farm to Fork bertujuan untuk mempromosikan transisi global untuk sistem pangan berkelanjutan, dalam kerja sama erat dengan mitra internasionalnya.
 

Perlindungan keanekaragaman hayati merupakan tantangan global dan dekade berikutnya akan sangat menentukan. Dalam semangat tersebut, Uni Eropa siap untuk memimpin semua upaya, bekerja bersama mitra yang berpikiran sama dalam koalisi untuk keanekaragaman hayati guna menyetujui kerangka kerja global baru yang ambisius setelah 2020 dalam Konferensi Para Pihak ke-15 untuk Konvensi Keanekaragaman Hayati yang rencananya akan digelar di Kunming, China, di 2021.
 

Dengan strategi ini, Komisi Eropa mengusulkan komitmen ambisius untuk dibawa ke meja perundingan. Uni Eropa juga harus mendukung pemerintah dan pemangku kepentingan di seluruh dunia untuk secara signifikan meningkatkan ambisi dan tindakan mereka untuk keanekaragaman hayati, termasuk dalam bentuk dukungan dan pembiayaan serta penghapusan subsidi yang berbahaya bagi keanekaragaman hayati secara bertahap.
 

Dalam semua kerja sama internasional Uni Eropa harus mempromosikan praktik pertanian dan perikanan berkelanjutan serta tindakan untuk melindungi dan memulihkan hutan dunia. Perhatian khusus juga akan diberikan pada pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan, pemulihan lahan terdegradasi dan perlindungan serta pemulihan daerah keanekaragaman hayati dengan jasa ekosistem tinggi dan potensi mitigasi iklim.
 

Uni Eropa akan meluncurkan inisiatif NaturAfrica untuk melindungi satwa liar dan ekosistem utama sambil menawarkan peluang di sektor hijau untuk masyarakat lokal. Selain itu, mereka juga mendukung Balkan Barat dan negara-negara tetangga dalam perlindungan keanekaragaman hayati.
 

Dalam semua pekerjaan, Uni Eropa akan memperkuat hubungan antara perlindungan keanekaragaman hayati dan hak asasi manusia, gender, kesehatan, pendidikan, sensitivitas konflik, pendekatan berbasis hak, kepemilikan tanah dan peran masyarakat adat dan komunitas lokal.
 

Kesimpulan dari Strategi Keanekaragaman Hayati Baru yang dikeluarkan Komisi Eropa tersebut yakni melindungi dan merestorasi keanekaragaman hayati adalah satu-satunya cara untuk melestarikan kualitas dan kontinuitas kehidupan manusia di Bumi. Komitmen yang diusulkan dalam strategi itu membuka jalan bagi perubahan yang ambisius dan perlu, perubahan yang akan menjamin kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi bagi generasi saat ini dan masa depan dalam sebuah lingkungan yang sehat.

Uni Eropa menginspirasi di saat dunia sedang mencoba mencari bentuk normal baru setelah COVID-19 menunjukkan bahwa apa yang telah dibangun umat manusia sejauh ini begitu rentan di tengah kehancuran keanekaragaman hayati Bumi. Akankah Indonesia mengikuti?


 

Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar