Menpora Jadwalkan Pembahasan Penyatuan KONI-KOI

id menpora

Menpora Jadwalkan Pembahasan Penyatuan KONI-KOI

Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Bagaimana mungkin ada dua bagian dalam satu unit keolahragaan, yang mengurus pembinaan dan pengiriman atlet, dan berdiri-sendiri-sendiri
Jakarta (antarasulteng.com) - Menpora Roy Suryo menjadwalkan awal tahun 2014 akan membuat forum pertemuan antara pemerintah, KOI dan KONI untuk membahas penyatuan kembali dua lembaga olahraga tersebut, menyusul terpuruknya Indonesia di SEA Games 2013 Myanmar.

"Januari tahun depan kami akan duduk bersama mencari solusi terbaik seperti yang diinginkan masyarakat untuk kembali menyatukan KOI dan KONI," kata Menpora kepada wartawan di gedung Kemenpora, Jakarta, Senin.

Menpora mengatakan bahwa sebelum SEA Games Myanmar, dirinya sudah melihat tidak adanya harmonisasi diantara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

"Bagaimana mungkin ada dua bagian dalam satu unit keolahragaan, yang mengurus pembinaan dan pengiriman atlet, dan berdiri-sendiri-sendiri," katanya.

"Makanya saya sangat setuju kalau dua badan itu disatukan lagi," tambahnya. 

Berkaitan dengan keterpurukan prestasi Indonesia di SEA Games Myanmar, yang hanya meraih 65 medali emas, dari target 120 medali dan hanya berada di posisi empat dibawah Thailand, Myanmar, dan Vietnam, dalam perolehan medali, Roy Suryo secara tegas menyatakan bertanggungjawab atas kegagalan itu.

"Saya sebagai Menpora menjadi orang yang bertanggungjawab terhadap kondisi ini," katanya.

Menpora berharap agar masyarakat tidak menyalahkan atlet atas kegagalan Indonesia meraih target juara umum dan perolehan medali itu.

"Atlet telah berjuang maksimal sesuai dengan kemampuan mereka, jangan salahkan atlet," tambahnya.

Pada SEA Games 2013 Myanmar, Indonesia, menargetkan mempertahankan juara umum dan meraih 120 medali emas.

Menyinggung tentang evaluasi hasil perolehan medali Indonesia di Myanmar, Roy Suryo mengatakan ada perhitungan prosentasenya.

Menurut dia, 13,8 persen Indonesia mengalami sukses yaitu meraih emas melebihi target seperti diantaranya dari cabang catur dan bulutangkis.

Sementara 44,4 persen meraih hasil normatif yaitu sesuai target atau kurang dari target tapi mampu meraih emas, ini ada 16 cabang.

Namun keterpurukan Indonesia dipertajam dengan gagalnya 15 cabang meraih medali emas, bahkan disitu termasuk beberapa cabang yang sama sekali tidak mampu meraih medali seperti taekwondo dan Judo.

Namun, Menpora yang sempat berkunjung ke tempat berlangsungnya SEA Games. 2013 kota Nay Pyi Taw, Myanmar, cukup mengeluhkan tentang hasil penilaian wasit di beberapa cabang tidak terukur.

"Tuan rumah Myanmar yang berambisi menjadi juara umum tentu akan melakukan segalanya untuk bisa menang," katanya.

"Yang saya sempat lihat sepak takraw, atlet Indonesia tidak diberi kesempatan pemanasan, tapi langsung disusuh turun bertanding sesampainya di lapangan," tambahnya. 

Sementara itu menyinggung keberadaan program Prima, Roy Suryo dengan tegas menyatakan tetap mempertahankan Prima.

"Prima tetap saya pertahankan, tapi saya berharap untuk ada perbaikan dari program itu" katanya.

Sementara Ketua Satlak Prima Surya Darma yang hadir pada pertemuan pers itu hanya mengatakan dirinya merasa sedih dengan hasil Indonesia di SEA Games Myanmar. "Saya sedih dan ini merupakan cambuk bagi kami," katanya.

Sedangkan wakil dari KONI Pusat Bambang mengatakan setuju kalau KONI dan KOI digabung. "Saya setuju jika KONI dan KOI digabung,"(skd)
Pewarta :
Editor : Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar