Indonesia-Swedia akan perkuat kerja sama bidang teknologi dan SDM

id 70 tahun Indonesia Swedia,kerja sama Indonesia Swedia

Indonesia-Swedia akan perkuat kerja sama bidang teknologi dan SDM

Tangkap Layar: Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, I Gede Ngurah Swajaya, menyampaikan kuliah umum pada acara diskusi virtual bertajuk "Kemitraan dalam Membangun Link-and-Match antara Pendidikan dan Industriā€ yang diadakan Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Swedia di Jakarta, dan didukung oleh KBRI Stockholm, Kamis (24/9/2020). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

Jakarta (ANTARA) - Indonesia dan Swedia sepakat akan memperkuat kerja sama bidang teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) melalui kemitraan antara universitas dan sektor industri, pemberian beasiswa dan peluang magang, kata perwakilan dari dua negara pada acara seminar virtual, Kamis.

"Swedia merupakan negara paling inovatif kedua di dunia. Kami berharap dapat mengarahkan kerja sama dalam bidang tersebut," kata Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, I Gede Ngurah Swajaya saat menyampaikan kuliah umum pada acara diskusi yang menjadi bagian dari peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Swedia.

Ngurah menerangkan Pemerintah Indonesia percaya teknologi dan inovasi berpengaruh pada kerja yang lebih efektif dan efisien. "Teknologi juga berpengaruh pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan," tambah dia.



Menurut Ngurah, masih banyak peluang kerja sama yang belum dieksplorasi dua negara, termasuk di antaranya bidang teknologi. Oleh karena itu, ia berpendapat ada banyak potensi kemitraan yang dapat dijalin mulai dari pemerintah, swasta, sampai kalangan akademisi/universitas.

Dalam acara diskusi itu, Duta Besar Swedia untuk Indonesia Marina Berg menyampaikan pendapat yang sama bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia perlu dilakukan dengan menghubungkan sektor industri, universitas, dan pemerintah.

Dubes Berg pun menerangkan konsep triple helix, model pemberdayaan SDM yang telah banyak digunakan di Swedia dan negara lainnya.

"Ide dasar dari konsep itu, sejumlah orang dari latar belakang berbeda dengan cara pikir, wawasan, kompetensi, dan peran yang berbeda dapat bekerja sama mencari cara yang inovatif dan lebih baik dalam memecahkan masalah di masyarakat," terang Dubes Berg.
Tangkapan Layar: Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Marina Berg, menyampaikan sambutan pada acara diskusi virtual bertajuk "Kemitraan dalam Membangun Link-and-Match antara Pendidikan dan Industri” yang diadakan Kementerian Luar Negeri bersama Kedutaan Besar Swedia di Jakarta, dan didukung oleh KBRI Stockholm, Kamis (24/9/2020). (ANTARA/Genta Tenri Mawangi)


Sejalan dengan konsep itu, Berg pun memastikan sektor usaha asal Swedia akan senantiasa membuka diri pada berbagai peluang kerja sama dengan sesama pelaku bisnis dan pihak universitas demi menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan inovatif.

"Kita harus menjalin kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan universitas. Kedutaan Besar Swedia beserta sektor publik dan swasta di Swedia berkomitmen mewujudkan tujuan itu," kata Dubes Berg. Ia menambahkan ada lebih dari 80 perusahaan Swedia yang saat ini beroperasi dan menanamkan modalnya di Indonesia. Total nilai investasi Swedia di Indonesia pada tahun lalu lebih dari 20 juta dolar AS (sekitar Rp297 miliar).

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, lewat sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Kementerian Perindustrian Eko SA Cahyanto, menyambut baik wacana kerja sama itu. "Ke depan, kami harapkan dapat bekerja sama dengan Pemerintah Swedia untuk pengembangan industri 4.0," kata Menteri Agus lewat sambutannya.

Ia lanjut menjelaskan kemitraan yang dapat dijalin antara sektor industri dan kalangan universitas dari dua negara, di antaranya meliputi penyediaan kurikulum dan akses magang dan pelatihan tenaga kerja.

Pengembangan Industri 4.0 merupakan salah satu misi yang diluncurkan sejak 2018 oleh Pemerintah Indonesia yang bertujuan menggunakan teknologi digital dan informasi demi memperkuat industri manufaktur, menambah lapangan kerja, serta membangun pertumbuhan ekonomi. Lima sektor usaha jadi prioritas pemerintah dalam pengembangan industri 4.0, di antaranya industri makanan dan minuman, otomotif, elektronika, kimia dan petrokimia, serta tekstil.
 
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar