Minat masyarakat mendaftar KPPS menurun akibat COVID-19

id Pilkada Sulteng,Pilkada Donggala,Rekrutmen KPPS

Minat masyarakat mendaftar KPPS menurun  akibat COVID-19

Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Donggala, Unggul. (Arsip)

Palu (ANTARA) - Minat masyarakat untuk mendaftar sebagai Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) pada Pilkada 2020 di sejumlah kabupaten di Sulawesi Tengah menurun di tengah pandemi COVID-19 dibanding pilkada pada situasi normal sebelumnya.

"Awalnya memang banyak yang mengambil formulir, tapi banyak yang tidak mengembalikan karena takut di-rapid test," kata Ketua KPU Donggala Unggul dihubungi dari Palu, Kamis.

Dia mengatakan masyarakat di Donggala banyak yang fobia dengan virus corona sehingga ikut berdampak pada minat masyarakat untuk mendaftar sebagai petugas di TPS pada pelaksanaan pilkada di tengah pandemi COVID-19.



Dia mengatakan untuk mengantisipasi hal itu pelaksana pemilu di tingkat kecamatan dan desa terpaksa harus turun langsung mencari orang sekaligus memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan pilkada di tengah pandemi.

"Alhamdulillah sekarang sudah terpenuhi semua, kita tinggal menunggu verifikasi berkasnya," kata Unggul.

KPU Donggala sebelumnya sempat memperpanjang pendaftaran rekrutmen KPPS karena belum terpenuhinya peserta yang diharapkan.

"Sekarang sudah terpenuhi bahkan satu TPS ada yang mendaftar sampai 10 sampai 13 orang," katanya.

Berbeda di Kabupaten Tolitoli justru peminat menjadi anggota KPPS cukup tinggi di masa pandemi ini.

"Ada dua kemungkinan penyebabnya. Pertama di masa pandemi ini ekonomi lagi sulit sehingga banyak orang yang ingin mencari aktivitas yang menghasilkan uang," kata Komisioner KPU Tolitoli Muhadir.



Kedua kata dia, karena kerja petugas KPPS kali ini tidak berat dibanding Pemilu 2019 karena hanya ada dua kotak suara untuk pemilihan gubernur dan bupati.

Muhadir mengakui pendaftaran rekrutmen KPPS diperpanjang sampai 19 Oktober 2020, tetapi bukan karena dampak pandemi.

"Masyarakat banyak yang terkendala dengan persyaratan karena banyak yang namanya masuk dalam parpol, tetapi tidak sepengetahuan mereka," katanya.

Dia mengatakan minat masyarakat cukup tinggi karena terbukti dengan jumlah calon KPPS yang melebihi dari jumlah yang dibutuhkan.

"Ada yang satu TPS 15 sampai 20 orang," katanya.
 
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar