Bahan Makanan Picu Inflasi Di Kota Palu

id makanan

Ilustrasi (antara)

Palu,  (antarasulteng.com) - Kelompok bahan makan menjadi pemicu utama inflasi di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Desember 2014 dengan andil 1,48 persen dari total inflasi sebesar 2,86 persen pada bulan itu.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tengah JB Priyono di Palu, Jumat, mengatakan kelompok bahan makanan selama Desember 2014 mengalami kenaikan indeks harga sebesar 7,61 persen, yakni dari 113,73 pada November 2014 menjadi 122,39 pada Desember 2014.

Kenaikan indeks harga terjadi pada subkelompok bumbu-bumbuan (29,73 persen), ikan segar (11,02 persen), padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya (6,25 persen), daging dan hasilnya (4,83 persen).

Selanjutnya, kacang-kacangan (2,84 persen), ikan diawetkan (2,63 persen), buah-buahan (2,19 persen), telur, susu dan hasil-hasilnya (1,30 persen), lemak dan minyak (1,27 persen), serta sayur-sayuran (1,05 persen).

Sementara kelompok transportasi menjadi pemicu inflasi terbesar kedua dengan andil 0,73 persen. "Bisa jadi banyaknya liburan di akhir tahun turut mempengaruhi hal itu," katanya.

Secara keseluruhan, kenaikan indeks harga terjadi pada beberapa kelompok pengeluaran meliputi bahan makanan (7,61 persen), transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (3,79 persen), perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar (1,79 persen), pendidikan, rekreasi, dan olahraga (1,21 persen), makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,94 persen), serta kesehatan (0,08 persen).

Sebaliknya, penurunan indeks harga terjadi pada kelompok sandang sebesar 0,86 persen.

Sementara dari 82 kota pantauan secara nasional, seluruhnya mengalami inflasi selama Desember 2014.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Merauke sebesar 4,53 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Meulaboh sebesar 1,17 persen.

Inflasi Kota Palu menduduki peringkat ke-14 secara nasional, dan peringkat ke-9 di dalam Kawasan Sulawesi, Maluku dan Papua. (skd) 
Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar