Suku Bajo se-Sulteng Gelar Musyawarah di Parigi

id bajo

Suku Bajo se-Sulteng Gelar Musyawarah di Parigi

Wakil Bupati Parimo Badrun Nggai menyerahkan bantuan kepada warga suku Bajo, disaksikan Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sulteng Hj. Siti Norma Mardjanu (tengah), di Parigi, Selasa (1/12) (Antarasulteng.com/Humas Parimo)

Suku Bajo juga terbilang langka dan istimewa di dunia karena bahasa Bajo di Indonesia dengan yang ada di luar negeri sama, tidak ada perbedaan.
Parigi (antarasulteng.com) - Untuk pertama kalinya, warga Suku Bajo yang mendiami Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar musyawarah di Kota Parigi.

Musyawarah ini difasilitasi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Tengah, dibuka Wakil Bupati Parimo H Badrun Nggai mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Selasa (1/12)

Ketua Suku Bajo Sulawesi Tengah H Usman Yamin mengatakan musyawarah ini bertujuan antara lain membicarakan pembentukan pengurus suku Bajo di tingkat kabupaten dan memperkenalkan asal usul suku Bajo kepada masyarakat luas karena sampai saat ini masih banyak yang bertanya-tanya tentang suku Bajo.

"Suku Bajo ini adalah bangsa besar. Coba lihat, mulai dari Indonesia hingga luar negeri terdapat suku Bajo," ujarnya.

Suku Bajo juga terbilang langka dan istimewa di dunia karena bahasa Bajo di Indonesia dengan yang ada di luar negeri sama, tidak ada perbedaan.
 
"Itu mungkin kelebihan suku Bajo, dimana mana di seluruh dunia, sama bahasanya," kata Usman Yamin.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sulteng Hj Siti Norma Mardjanu, SH MSi  mengatakan bahwa melalui musyawarah itu diharapkan pemerintah daerah bisa memberikan perhatian kepada suku Bajo di Sulawesi Tengah khususnya di Kabupaten Parimo, seperti halnya suku-suku lainnya karena semuanya asset bangsa dan daerah.

Sementara itu, Wabup Parimo Badrun Nggai mengatakan suku Bajo Merupakan suku pengembara yang dikenal sebagai nelayan tangguh. Mata pencarian suku Bajo adalah di laut.

"Hal itu membuat suku Bajo sering disebut sebagai pengembara samudera," katanya.

Dia berharap budaya suku Bajo bisa menjadi icon budaya dan pariwisata provinsi.

Pada kesempatan itu, Wabub Parimo menyerahkan bantuan peningkatan kapasitas usaha pariwisata untuk 30 kelompok usaha kuliner yang diserahkan secara simbolis kepadatiga orang warga suku Bajo yakni Siti Masita, Hardin dan Mirnas. (Humas Parimo)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar