Cakupan vaksinasi COVID-19 di Palu mencapai 66 persen

id Rochmat, vaksinasi, pencegahan COVID-19, surveilans, Pemkotpalu, Sulteng

Cakupan vaksinasi COVID-19  di Palu mencapai 66 persen

Sejumlah pelajar menunggu giliran divaksin pada vaksinasi COVID-19 di Palu, Sulawesi Tengah. ANTARA/Basri Marzuki

Palu (ANTARA) -
Pemerintah Kota Palu menyebutkan cakupan vaksinasi COVID-19 di Ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah  itu telah berada di angka 66,40 persen per 13 November 2021.
 
"Pemerintah terus menggenjot layanan vaksinasi mengejar capaian target yang sudah ditetapkan secara Nasional," kata Ketua Tim Surveilans Kota Palu dr Rochmat yang dihubungi di Palu, Senin.

Ia memaparkan, pada layanan vaksinasi COVID-19 pemerintah telah memetakan cakupan sasaran target yakni diantaranya tenaga kesehatan (nakes) sebanyak 5.595 jiwa, kemudian, pelayan publik 29.893 jiwa, kelompok lanjut usia (lansia) 21.459 jiwa masyarakat umum dan masyarakat rentan 172.233 jiwa dan pelajar/remaja 36.282 jiwa dengan total target berjumlah 265.462 jiwa.

Dari jumlah tersebut kurang lebih 176.271 jiwa telah terlayani vaksinasi, lalu lanjutan vaksinasi dosis tiga khusus nakes mencapai angka 44,16 persen atau 2.471 jiwa.

"Angka ini terus menunjukkan progres yang positif, dan tentunya kami berharap giat ini lebih optimal agar Desember mendatang target Kota Palu 75 persen dapat tercapai, supaya warga terbentuk kekebalan tubuh mereka secara kolektif," ujar Rochmat.

Ia mengemukakan, selain memasifkan program vaksinasi, Pemkot Palu juga tetap memaksimalkan kegiatan testing, tracing dan treatmen (3T) sebagai cakupan upaya pencegahan, penanganan dan pengendalian penularan COVID-19 di lingkungan masyarakat.

Termasuk, maksimalisasi sosialisasi dan edukasi penerapan protokol kesehatan, sebab prokes masih menjadi rangkaian penting dalam meminimalisir penularan, selain upaya vaksinasi.

"Pemerintah tidak henti-hentinya mengimbau warga agar tetap mempedomani prokes, baik beraktivitas di lingkungan kerja, tempat umum termasuk di lingkungan keluarga itu sendiri," ungkap Rochmat.

Menurut prediksi berbagai pihak, akan ada gelombang ketiga COVID-19, karena ada agenda besar keagamaan di Bulan Desember dan menyambut Tahun Baru 2022, sehingga di khawatirkan terjadi penularan cepat.

"Penguatan kepada masyarakat penting, kita sudah siap menghadapi ancaman itu, tentunya prokes harus menjadi prioritas dan kami berharap apa yang di prediksi ini tidak terjadi," demikian Rochmat.
Pewarta :
Editor : Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2021