DKP Sulteng kembangkan kolam nila intensif

id DKP Sulteng

DKP Sulteng kembangkan kolam nila intensif

Kadis KP Sulteng Hasanuddin Atjo (kedua kanan) meninjau kolam nila intensif yang sedang dibangun belum lama ini. (Antarasulteng.com/Hanif)

Dengan produksi 600 kg/siklus panen, pemilik kolam bisa meraih untung Rp2 juta/bulan.
Palu (antarasulteng.com) - Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah kembali melakukan inovasi di sektor budidaya perikanan dengan mengembangkan sistem budidaya ikan nila yang diberi label kolam nila intensif.

Saat ini, pilot proyeknya sementera berjalan. Diharapkan kolam percontohan yang terletak di RM Sauna, Kelurahan Kabobena ini sudah akan berproduksi akhir tahun 2016.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR Ir H Hasanuddin Atjo, MP mengatakan kolam nila intensif yang sedang dibangun sebagai percontohan hanya sekitar 7,3 meter persegi dengan kedalaman dua meter. Dengan masa budidaya antara tiga hingga empat bulan, kolam ini diprediksi bisa memproduksi 600 kilogram nila berukuran 3 hingga 4 ekor per kilonya.

Kunci sukses kolam produktif ini hingga bisa menghasilkan ikan nilai lebih setengah ton dalam satu siklus panen adalah pada pergantian air di kolam. Jika selama ini rekomendasi budidaya dilakukan pergantian air 20 hingga 30 persen perhari, namun di kolam nila intensif, pergantian air mencapai 50 persen dalam siklus 12 jam. 
Penggantian air dilakukan secara reguler atau teratur karena mesin pompa air menggunakan alat pengatur waktu otomatis (timer).

"Timer air kita programkan setiap dua jam untuk melakukan penggantian air. Jadi setiap dua jam, ikan akan mendapatkan air baru. Dengan begitu, ikan akan lebih optimal pertumbuhannya, karena sehat," katanya.

Buangan air dari kolam nila intensif tetap bisa digunakan untuk dimasukkan ke dalam kolam pembesaran lele. Nantinya, untuk tahap awal, setelah pekerjaan konstruksi kolam selesai, akan ditebar benih nila sebanyak 2.500 ekor. Dengan masa pemeliharaan paling lama 4 bulan, diharapkan mampu menghasilkan nila 600 kg.

Untuk menyuplai air, akan dipasang mesin air berkekuatan 250 watt serta blower yang berkekuatan 200 watt. Karena itu dibutuhkan daya listrik sekitar 450 watt. Blower dibutuhkan, selain untuk menjaga temperatur kolam, juga sebagai pemasok oksigen ke dalam kolam.

Inovasi yang didapatkan dalam kolam intensif ini adalah pemanfaatan lahan yang tidak terlalu luas namun mendapatkan hasil panen yang maksimal. Inovasi lainnya, adalah penggunaan timer yang rancang sendiri untuk mengatur suplai air ke dalam kolam. Timer yang digunakan sama dengan yang digunakan pada mesin poengatur suhu udara (AC) dan televisi. Teknologi itu kita aplikasikan ke mesin air untuk mengatur suplai air," kata Hasanuddin Atjo, penemu teknologi budidaya udang supra intensif Indonesia itu.

Dari sisi ekonomis, kata Atjo, jika kolam beton berukuran 7,3 meter persegi ini berhasil mendapatkan panen 600 kg dalam masa pemeliharaan 4 bulan, maka dengan harga jual nila yang kini mencapai Rp35 ribu/kg, setelah dipotong dengan biaya operasional dan biaya lainnya, termasuk listrik dan pakan, pembudidaya bisa meraup laba  Rp2 juta lebih setiap bulannya.

"Teknologi atau inovasi ini, akan kita ujicobakan dulu. Lokasinya kita pilih RM Sauna karena lokasi dianggap cukup layak dan pemiliknya, Sarifudin, menyambut baik program inovbasi ini dengan menyiapkan lahan. Insya Allah, setelah berhasil, inovasi ini kita akan bawa ke masyarakat untuk dicontoh dan dimasifkan replikasinya," tandasnya.

Ditemui terpisah, pemilik RM Sauna, Sarifudin A Darmansyah mengaku senang bahwa pilot project kolam nila intensif ditempatkan di lokasinya. Ia berjanji untuk mengadopsi dan mereplikasi inovasi tersebut bila sukses.

"Teknologi budidaya nila secara intensif ini bisa menjadi solusi bagi kami dalam mendapatkan bahan baku ikan untuk menyuplai kebutuhan rumah makan kami," kata Sarifudin. 

Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar