Jembatan Palu-Donggala Terancam Putus Tergerus Banjir

id jembatan

Dokumen--Sejumlah warga melintasi titian darurat akibat putusnya jembatan yang diterjang banjir bandang di Desa Dampal, Sirenja, Donggala, Sulawesi Tengah . (ANTARAFoto/Basri)

Palu,  (antarasulteng.com) - Satu jembatan yang menghubungkan Kota Palu dan Kabupaten Donggala di bagian utara Kota Palu terancam putus akibat tergerus banjir menyebabkan distribusi hasil pertanian terhambat masuk ke pasar.

Camat Tawaeli Zulkifli, di Palu, Minggu malam, mengatakan kondisi jembatan sepanjang 25 meter tersebut tidak bisa lagi dilintasi kendaraan roda empat sehingga hasil produksi pertanian dari daerah tetangga terhenti di jembatan tersebut.

"Sejak tadi malam (Sabtu malam) jembatan tidak bisa lagi dilintasi kecuali sepeda motor," katanya.

Zulkifli mengatakan jembatan di Sungai Ova yang menghubungkan Kelurahan Pantoloan Boya, Kota Palu dengan Desa Wombo, Kabupaten Donggala itu tergerus sepanjang 36 meter.

Dirinya khawatir jika mobil memaksa melintas akan menyebabkan longsor lebih besar dan jembatan terancam ambruk. Jika tetap dipaksanakan kondisinya akan lebih parah.

"Mobil yang dari Wombo (Donggala) tidak bisa menyeberang sehingga hasil pertanian seperti bawang terpaksa diangkut pakai motor," katanya.

Jembatan tersebut sebelumnya dibangun oleh pemerintah provinsi karena menghubungkan dua daerah kabupaten/kota.

Kondisi ini telah dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum setempat sehingga perlu dicarikan solusi penanganannya.

Dalam dua pekan terakhir, intensitas hujan yang mengguyur kota Palu cukup tinggi sehingga menyebabkan sejumlah kelurahan dihantam banjir dan beberapa sarana umum seperi jembatan juga ikut terancam.

Banjir tersebut setidaknya menghantam tiga kelurahan di Kecamatan Tawaeli yakni Kelurahan Baiya, Pantoloan Boya dan Pantoloan Induk.

Total korban mencapai 120 kepala keluarga atau 555 jiwa dan puluhan rumah rusak, masing-masing di Kelurahan Baiya 43 kepala keluarga, 173 jiwa dan 14 rumah terendam. Di Kelurahan Pantoloan Boya sebanyak 49 kepala keluarga, 267 jiwa dan di Kelurahan Pantoloan Induk 28 kepala keluarga dan 115 jiwa.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Demikian halnya fasilitas umum juga tidak ada yang rusak, kecuali jembatan Ova yang terancam ambruk.

Saat banjir terjadi, para korban sempat mengungsi di rumah penduduk sekitar yang aman dan tenda darurat yang disediakan Badan Penanggulangan Bencana. Namun saat ini sudah kembali ke rumah masing-masing walaupun sebagian rumah masih terdapat genangan di sekitarnya. * 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar