Pilot helikopter Bell-412 EP TNI AD ditemukan hidup

id heli

Bell 412 EP berdaya jangkau terbang sekitar 640 km atau terbang hampir empat jam tanpa henti, dengan kecepatan rata-rata 250 km/jam. Dia mampu menerbangkan 14 orang termasuk tiga pengawak atau membawa beban 2.500 kilogram. (antara foto )

Jakarta (antarasulteng.com) - Kepala Dinas Penerangan TNI AD, Brigadir Jenderal TNI Sabrar Fadhilah, menyatakan bahwa kopilot helikopter Bell-412 EP milik Pusat Penerbangan TNI AD, yang dinyatakan hilang sejak 24 November lalu, Letnan Satu CPN Abdi Darnain (29), ditemukan dalam keadaan hidup.

Lokasi penemuan penerbang TNI AD itu, kata dia, kepada pers di Jakarta, Minggu malam, adalah di jurang, lima kilometer dari Desa Long Sulit, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Adalah dua personel Korps Pasukan Khas TNI AU yang bisa turun memakai tali (teknik rapelling) ke titik persis helikopter nomor registrasi HA-5166 itu berada.

Adapun kapten pilotnya adalah Kapten CPN Yohannes Syahputra, yang bersama tiga pengikut lain helikopter itu belum ditemukan. 

“Helikopter itu ditemukan pada pukul 14.22 WITA hari ini setelah tim pencari gabungan berangkat dalam operasi pencarian pada pukul 06.00 WITA. Kondisi pilot dalam keadaan hidup dan kini sedang dibawa ke RS Tarakan, Kalimantan Utara, untuk dirawat lebih lanjut,” katanya.

Adapun empat personel TNI AD yang turut dalam penerbangan itu, katanya, masih diupayakan untuk bisa ditemukan.

Helikopter Bell-412 EP itu dalam misi distribusi logistik untuk pos-pos pengamanan perbatasan Indonesia-Malaysia yang lokasinya terpencil dan sangat sulit dijangkau.

Informasi sebelumnya menyatakan, warga Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sempat menyaksikan helikopter Pusat Penerbangan TNI AD yang hilang kontak pada 24 Nopember 2016, berputar-putar sebanyak empat kali sebelum ledakan terjadi.

Hal ini diluruskan Fadhilah, “Tidak ada ledakan. Mudah-mudahan ini yang benar karena lokasinya memang sangat sulit. Bahkan berkomunikasi memakai telefon satelit juga sangat susah.” 
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar