TS usulkan "resource sharing"

id its

Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MScES PhD. (Laily Widya)

Kuala Lumpur (antarasulteng.com) - Rektor ITS Surabaya Prof Ir Joni Hermana mengusulkan "resource sharing" pada "ASEAN University Presidents Forum" yang diselenggarakan di Penang, Malaysia, Senin.

"Sinergi resource sharing penting agar keterbatasan anggaran dan peralatan laboratorium di setiap perguruan tinggi dapat diatasi," kata Joni Hermana di Kuala Lumpur, Senin.

Dia mengatakan, sinergi ini sangat diperlukan untuk kemudahan pengembangan masing-masing universitas ke depan.

Joni juga menyampaikan pentingnya memperkuat kerjasama antar universitas yang berkelanjutan. 

"Beberapa konsep dan alternatif jejaring antara PT lintas negara dan level negara perlu terus dilanjutkan," katanya.

"ASEAN University Presidents Forum" merupakan forum pertemuan yang diinisiasi oleh Toyohashi University of Technology bekerjasama dengan University Sains Malaysia.

Pertemuan ini dihadiri oleh 25 rektor dari delapan negara ASEAN dan Jepang. 

Dari Indonesia, salah satu pimpinan universitas yang diundang adalah Prof Ir Joni Hermana sebagai Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Sesuai dengan temanya, forum Rektor se Asia Tenggara ini membahas tentang upaya meningkatkan kolaborasi internasional antara pendidikan tinggi dalam bidang sains dan teknologi. 

Isu utama yang dibahas dan dikerjasamakan terbagi dalam isu-isu, yaitu tantangan dalam perencanaan strategi globalisasi universitas, tantangan dalam mobilisasi dan kerja sama internasional untuk dosen dan mahasiswa di masing-masing negara.

Dalam sambutan pembukaannya, Prof Datuk Dr Asma Ismail, Rektor USM sebagai tuan rumah menyatakan bahwa telah terjadi perubahan yang sangat massif dalam pendidikan tinggi karena dunia yang terus berubah.

"Perubahan pertama membawa dampak terhadap mobilisasi mahasiswa dan Dosen antara Universitas di dunia, terutama ASEAN dan Jepang. Perubahan kedua adalah terjadinya massifikasi pendidikan tinggi setiap Negara bahkan relatif tanpa batas Negara," katanya.

Asma Ismail menjelaskan bahwa perubahan pertama, yaitu mobilisasi mahasiswa terutama di antara negara-negara di Asia, terjadi karena perubahan kekuatan ekonomi dunia yang secara perlahan bergeser, dari America ke Asia. 

"Dalam hal ini dipimpin oleh India dan China sebagai super power baru di masa depan. Namun, Asia dan ASEAN tetap menjadi sangat menarik untuk dikunjungi dan dijadikan tempat belajar," ungkapnya.

Ismail mengatakan, perubahan kedua adalah massifikasi pendidikan tinggi memberi dampak bahwa pemerintah tidak akan mampu lagi menyelenggarakan pendidikan tinggi tanpa bantuan dari pihak swasta. 

Karena itu, ujar dia, bagaimana melakukan harmonisasi antara pemerintah dan swasta agar proses kualitas proses pendidikan dapat berlangsung dengan baik.

"Karena itu, forum ini penting untuk membahas adanya acuan yang dapat disepakati bersama di ASEAN agar dapat menjamin kualitas pendidikan tinggi yang lebih baik," katanya. 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar