Nelayan Dampelas Butuh Tempat Pendaratan Ikan

id ikan

Tiga kapal nelayan berbendera Malaysia yang ditangkap patroli Bea Cukai Pangkalan Operasi Pantoloan Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (25/3). (Antara Foto/Basri)

Palu, (Antarasulteng.com) - Nelayan di Dampelas, Kabupaten Donggala butuh pendaratan ikan yang memadai di daerah itu menyusul adanya tiga bantuan kapal tangkap dan pabrik es dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

"Kami tinggal butuh tempat pendaratan ikan supaya ada tempat pendaratan kapal nelayan," kata nelayan setempat Sahrudin di Palu, Minggu.

Dia mengatakan pemerintah telah memberikan perhatian serius kepada nelayan setempat setelah dikucurkannya bantuan alat tangkap, pembangunan pabrik es kapasitas 1,5 ton per hari dan menyusul tiga bantuan kapal tangkap masing-masing 20 gross ton.

Saat ini kata dia, dirinya selaku penggerak kelompok usaha nelayan di Desa Sabang, telah membebaskan lahan untuk tempat pendaratan ikan sehingga pemerintah sudah dapat membangun fasilitas tersebut.

Anggota DPRD daerah pemilihan Dampelas dan Sojol Aripudin Hatba mengatakan DPRD telah membahas rencana pembangunan pendaratan ikan tersebut dan rencananya akan dibangun 2017 dengan APBD.

"Kami sudah perjuangkan alokasi anggarannya. Mudah-mudahan tahun ini juga dapat dibangun," katanya.

Ketua DPC Demokrat Kabupaten Donggala itu mengatakan nelayan di Sabang telah membebaskan tanah untuk pembangunan tempat pendaratan ikan itu sehingga semakin memudahkan pembangunan infrastrukturnya.

Aripudin mengatakan sebagai wakil rakyat dirinya ikut bangga karena satu-satunya daerah yang mendapatkan bantuan pabrik es dengan kapasitas produksi 1,5 ton dari Kementerian Kelautan dan Perikanan adalah nelayan di Dampelas.

"Mungkin ini yang pertama di Sulawesi Tengah. Pabrik itu hanya dalam hitungan menit langsung jadi es," katanya.

Dirinya berharap dengan fasilitas tersebut hasil tangkapan nelayan bisa bertahan lama karena nelayan yang melaut sudah difasilitasi es yang cukup.

Saat ini nelayan tidak lagi kesulitan memperoleh es, karena selama ini hanya diproduksi sendiri dengan jumlah yang terbatas.
Pewarta :
Editor : Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar