Tiga wakil RI ke semifinal Indonesia Terbuka 2017

id bulutangkis

Pebulu tangkis ganda putra Indonesia Fajar Alfian (kiri) dan M Rian Ardianto meluapkan kegembiraan usai mengalahkan ganda putra Indonesia lainnya Ricky Karanda dan Angga Pratama pada babak kedua BCA Indonesia Open 2017 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (15/6/2017). Fajar-Rian melaju ke ba

Jakarta (antarasulteng.com) - Hari keempat babak eliminasi turnamen bulu tangkis Indonesia Terbuka (Indonesia Open) 2017 yang berhadiah total sejuta dolar Amerika Serikat (AS) dalam putaran perempat final di Jakarta Convention Centre (JCC), Sabtu, menempatkan tuan rumah memiliki tiga wakil menuju babak selanjutnya.

Dalam turnamen berlabel Super Series tersebut, wakil pertama Indonesia yang lolos ke empat besar berasal dari Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang berhasil menundukkan duet Thailand Kittinupong Kedren/Dechapol Puavaranukroh dalam drama tiga set 21-13, 18-21, 21-12 selama 55 menit.

"Seharusnya kami bisa menang dua gim langsung, namun karena salah menerapkan strategi ketika sudah memimpin perolehan poin, kami tersalip dan pertandingan dilanjutkan hingga gim pamungkas," kata Fajar, selepas pertandingan.

Saat set kedua, Fajar/Rian sempat unggul atas pasangan Thailand 17-14 langsung tersalip 17-19 dan berakhir dengan kekalahan 18-21.

"Seharusnya pada momen itu kami lebih berani bermain menyerang, tapi malah bertahan," ujar Fajar.

Pada pertandingan semifinal nanti, Fajar/Rian akan menantang pasangan unggulan kedua asal Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen, yang sempat mengalahkan mereka pada Kejuaraan Syed Modi India pada 28 Januari 2017 dalam laga tiga set, 21-11, 17-21, 19-21.

Wakil Indonesia selanjutnya berasal dari ganda campuran yang diwakili Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir (Owi/Butet). Pasangan peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Brazil, itu berhasil menggulung duet Malaysia Tan Kiang Meng/Lai Pei Jing, 21-18, 21-16.

"Bersyukur bisa menang hari ini dan masuk semifinal. Dari awal tidak mudah. Di awal gim kami terus tertinggal, tetapi kami terus berusaha. Kami tidak down. Kami terus fokus saat mengejar dan balik unggul, malah mereka yang tertekan. Gim kedua juga mereka leading 6-1, tetapi ya kami terus berusaha untuk tetap fokus dan tenang," ujar Liliyana.

Pada babak semifinal yang akan digelar Sabtu siang, Tontowi/Liliyana akan berjumpa wakil Malaysia lainnya, Chan Peng Soon/Peck Yen Wei.

"Semoga di semifinal nanti kami bisa tampil lebih tenang, dan terus fokus," kata Tontowi menambahkan.

Langkah dari kedua wakil Indonesia tersebut, diikuti juga oleh pasangan ganda putri Anggia Shitta Awanda/Ni Ketut Mahadewi Istarani yang menang atas duet Thailand Puttita Supajirakul/Sapsiree Taerattanachai 13-21, 21-19, 21-11.

"Hari ini kami main lepas saja dan ingin membuktikan kami bisa balas kekalahan dari mereka. Dalam keadaan kami harus mengejar, kami hanya berusaha melawan diri sendiri hingga akhirnya kembali main lepas lagi," kata Ketut.

Ganda putri Thailand menyebut pasangan Indonesia hari ini bermain baik, dan seperti ada sesuatu tambahan semangat terutama di gim pamungkas.

"Kami tidak tahu harus berkata apa, karena kami memiliki kesempatan menang di gim kedua, tetapi mereka tiba-tiba menjadi sulit dimatikan, terutama di gim ketiga," ujar Puttita.

Sementara itu, pasangan ganda putri Indonesia Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari gagal melaju ke putaran empat besar, setelah ditumbangkan duet unggulan tiga asal Korea Selatan Chang Ye Na/Lee So Hee 21-17, 13-21, 13-21.

"Saya kurang puas dengan permainan tadi. Kami sudah menang pada gim pertama, tapi justru tidak dapat keluar dari tekanan lawan pada gim kedua," kata Rosyita.

"Dalam turnamen super series seperti ini, tidak ada lawan yang mudah untuk dikalahkan. Kami harus terus evaluasi dan bertahan hingga akhir pertandingan pada kejuaraan berikutnya," ujar Della.

Sementara itu, pasangan Korea Selatan mengaku sempat terpengaruh dengan dukungan suporter di JCC ketika awal pertandingan menghadapi Della/Rosyita.

"Semestinya kami langsung fokus ke permainan. Tapi, kami terpengaruh dengan keriuhan penonton pada awal pertandingan," kata Chang Ye Na.

Kejutan

Para penonton yang memadati Jakarta Covention Centre (JCC) pada putaran perempat final ini, kembali bisa menikmati berbagai kejutan yang terjadi di hari keempat babak eliminasi ini.

Kejutan itu, di antaranya tunggal putri unggulan ketiga asal Jepang Akane Yamaguchi yang ditumbangkan pemain non-unggulan senegaranya Sayaka Sato 17-21, 21-18, 18-21; pasangan ganda putri Denmark unggulan dua Kamilla Rytter Juhl/Christina Pedersen yang ditumbangkan unggulan lima asal China Chen Qingchen/Jia Yifan 21-18, 17-21, 11-21.

Paling mengejutkan adalah tumbangnya peraih medali emas Olimpiade 2016 Rio de Janeiro nomor tunggal putra Chen Long dan juga tunggal putri nomor satu dunia Tai Tzu Ying.

Chen Long terhenti di putaran perempat final setelah harus kalah dari pemain India Prannoy Haseena Sunil Kumar 18-21, 21-16, 19-21 selama 75 menit waktu pertandingan.

"Saya sudah pernah menghadapi Prannoy sebelumnya. Dia bermain lebih bagus dan lebih sabar hari ini. Tapi, saya juga puas dengan permainan saya sendiri," kata pemain peringkat kedelapan dunia asal China itu.

Chen Long mengaku terpengaruh oleh angin ketika menghadapi Prannoy karena pertama kali bertanding di JCC Senayan.

"Hanya persoalan mengambil kesempatan, siapa yang lebih beruntung. Pemain-pemain unggulan pun kadang dapat kalah," ujarnya.

Sementara itu, Tai Tzu Ying yang memiliki rekor tak terkalahkan di Super Series sejak 2016 dengan meraih gelar juara di Indonesia Terbuka 2016, Super Series Final 2016, All England 2017 dan Malaysia Terbuka, harus menerima kenyataan rekornya terhenti di Indonesia.

Tzu Ying, yang merupakan juara bertahan Indonesia Terbuka, tersungkur oleh pemain Thailand Nitchanon Jindapol dalam drama tiga gim 19-21, 21-8, 17-21.

"Untuk pertandingan hari ini saya menjalaninya tidak begitu bagus dan kondisi saya juga tidak sedang baik makannya saya kalah, selain tentunya banyak kesalahan yang saya buat," katanya, selepas pertandingan.

Walau demikian, pemegang rekor gelar Super Series sejak 2016 itu menyebut kekalahannya bukan karena dirinya terbebani ataupun ada tekanan (pressure).

"Tidak ada pressure apa pun. Hanya main tidak dalam kondisi baik, dan tentu ada faktor kelelahan karena selama turnamen kesehatan saya menurun," katanya menambahkan. (skd)
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar