Danrem Minta Warga Parigi Moutong Tetap Tenang

id danrem

Danrem 132/Tadulako Kol Inf Muh Saleh Mustafa didamping Kapenrem Mayor Inf Dedi Afrizal memberikan ketetangan kepada pers di Parigi, Sabtu (5/8) (Foto Antara/Rolex Malaha)

Kami meminta masyarakat Parigi Moutong tetap tenang. Jangan terprovokasi dengan isu-isu yang muncul. Jangan takut dan tidak usah khawatir. Kami mengimbau jika ada orang mencurigakan untuk segera melaporkan kepada aparat keamanan agar mempercepat pena
Paarigi (antarasulteng.com) - Komandan Korem 132/Tadulako Palu Kolonel Infanteri Muh. Saleh Mustafa meminta masyarakat Kabupaten Parigi Moutong untuk tetap tenang karena TNI dan Polri tetap menjaga keamanan masyarakat dari gangguan para pelaku teror di Poso.

Imbauan Danrem itu dikemukakannya kepada wartawan di Koramil Parigi, Sabtu, sehubungan dengan peristiwa tewasnya seorang petani di Desa Parigimpu, Kamis (3/8), akibat tertembak kelompok sipil bersenjata anggota Mujahiddin Indonesia Timur (MIT) yang menjadi DPO Satgas Operasi Tinombala.

Danrem yang juga Wakil PJKO Satgas Operasi Tinombala itu menjelaskan bahwa efek tekanan dari Satgas Tinombala yang terdiri atas personel Polri dan TNI untuk mematikan jalur logistik sisa kelompok teroris MIT pimpinan almarhum Santoso di Kabupaten Poso, kelompok tersebut makin terdesak hingga mulai bergeser ke daerah pegunungan di wilayah Parigi Moutong.

Tekanan Satgas Tinombala itu membuat kelompok tersebut berusaha mempertahankan hidupnya di wilayah yang baru dengan menghalalkan segala cara walaupun harus dengan langkah membunuh masyarakat yang tidak mau memberikan logistik kepada mereka, ujarnya.

Aksi kekerasan kelompok MIT, kata Danrem yang didampingi Kapenrem Mayor Inf. Dedi Afrizal, dapat terlihat dengan terjadinya penembakan oleh anggota kelompok itu kepada seorang warga Desa Parigimpu di pegunungan Pora, Kabupaten Parigi Moutong.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Kamis, 3 Agustus 2017 sekitar pukul 09.00 Wita. Korban adalah warga masyarakat di Desa Parigimpu atas nama Simson alias Suju berusia 30 tahun. Korban tewas ditembak oleh kelompok OTK sisa DPO akibat melakukan perlawanan saat ditodongkan senjata laras panjang oleh kelompok tersebut yang mendatangi korban untuk meminta makan.

Kejadian itu mengakibatkan timbulnya keresahan dan ketakutan masyarakat desa yang memiliki lahan kebun di pegunungan sekitar Pegunungan Pora tersebut, khususnya kepada keluarga korban, karena korban adalah tulang punggung untuk menghidupi keluarganya.

Menyikapi kejadian ini, dia mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak perlu takut dan khawatir karena aparat Polri dan TNI selalu siap untuk melindungi masyarakat.

"Masyarakat yang akan berkebun ke pegunungan tidak usah takut, tetaplah berkebun seperti biasa dengan body sistem jangan sendiri-sendiri. Apabila di atas bertemu dengan anggota TNI dan Polri, masyarakat jangan lari, laporkan tujuannya agar masyarakat tersebut dapat dilindungi oleh aparat TNI/Polri yang ada di pegunungan," katanya.

Selain itu, Danrem juga mengimbau seluruh masyarakat segera melaporkan kepada aparat TNI/Polri ataupun pemda setempat yang terdekat apabila melihat orang-orang yang tidak dikenal di sekitarnya.

"Kami meminta masyarakat Parigi Moutong tetap tenang. Jangan terprovokasi dengan isu-isu yang muncul. Jangan takut dan tidak usah khawatir. Kami mengimbau jika ada orang mencurigakan untuk segera melaporkan kepada aparat keamanan agar mempercepat penangkapan pelaku," ujarnya. (skd) 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar