65 Tahun Donggala, dimana pemerintah daerah?

id Donggala

Adha Nadjemuddin, Ketua Litbang Donggala Utara (Antarasulteng.com/Istimewa)

Adha: Kasihan daerah itu!!
Palu (Antarasulteng.com) - Sebagai pria kelahiran Donggala, saya prihatin dengan kondisi daerah itu dalam usianya ke 65 tahun. 

Saat pemerintah daerah menggelar upacara HUT ke 65 yang meriah di kantor bupati Senin siang, seakan tidak ada masalah yang serius di sana.

Padahal dalam usia 65 tahun itu, jumlah penduduk miskin di kabupaten tertua di Sulawesi Tengah tersebut justru bertambah. 

Pada 2012, penduduk miskin hanya 17,02 persen atau 48,4 ribu orang namun tahun 2016 meningkat menjadi 18,59 persen atau sebanyak 55.690 ribu orang. Dimana pemerintah daerah?

Dalam usia Donggala yang 65 tahun ini pula, ternyata hampir separuh dari penduduk Kabupaten Donggala hanya memiliki kemampuan belanja makanan antara Rp300 ribu sampai Rp499 ribu per bulan. Dan hanya 1,58 persen masyarakatnya yang memiliki kemampuan belanja makanan antara Rp750 ribu s/d Rp999 ribu per bulan.Dan hanya 0,8 persen dari penduduk Donggala yang memiliki kemampuan belanja makanan di atas Rp1 juta perbulan. 

Ini artinya pendapatan masyarakat di Donggala sangat rendah. Dimana pemerintah daerah?

Di usia Donggala ke-65 tahun, kinerja keuangan pemerintah setempat justru memburuk. Lima tahun berturut-turut sebelumnya, kinerja pengelolaan keuangan mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Justru diusianya ke 65 tahun ini mendapat nilai wajar dengan pengecualian (WDP). Dimana kinerja pemerintah daerah?

Sebagai anak petani di Donggala, saya prihatin dan sedih setelah melihat peranan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut lapangan usaha sudah mengalami pergeseran luar biasa khususnya di sektor pertanian. 

Kontribusi ekonomi dari sektor pertanian dari tahun ke tahun terus menurun. Dari 2012 kontribusi pertanian, kehutanan dan perikanan di Donggala masih sebesar 42,72 persen. Pada 2016 sudah turun drastis menjadi 36,60 persen.

Penurunan juga terjadi perdagangan besar dan eceran, reparasi modil dan sepeda motor. Pada 2012 kontribusi sektor ini masih 10,26 persen. Pada 2016 tinggal 8,63 persen. Yang naik justru sektor pertambangan dan penggalian dari 11,54 persen 2012 menjadi 17,47 persen pada 2012.

PDRB perkapita di Donggala pada 2015 baru Rp31,902 juta. Sementara pertumbuhan riil PDRB menurut lapangan usaha justru menurun. Pertumbuhan PDRB 2012 masih sebesar 6,86 persen, turun menjadi 4,89 persen pada 2016. Dimana program pertanian pemerintah daerah?

Kasian daerah itu!!!
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar