Bi: Perekonomian Sulteng Masih Bergantung Pada Tiongkok

id bank

Bank Indonesia (antaranews)

Sulteng sangat berharap dengan China dan Jepang. Kalau kondisi China batuk-batuk, Sulteng juga ikut demam
Palu, (antarasulteng.com) - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan perekonomian Sulteng masih bergantung dengan Tiongkok sebagai mitra dagang utama.

"Sulteng sangat berharap dengan China dan Jepang. Kalau kondisi China batuk-batuk, Sulteng juga ikut demam," kata Miyono kepada puluhan peserta sosialisasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) di Palu, Selasa.

Miyono menjelaskan kondisi itu tidak hanya dialami Sulteng, tetapi juga secara nasional, yang masih bergantung dengan Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat, sebagai mitra dagang utama. Sepanjang kondisi perekonomian negara tersebut belum membaik ekonomi nasional secara eksternal juga masih sulit.

Kata dia, yang terjadi saat ini, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh sektor domestik atau dari konsumsi masyarakat.

Selain itu, kata dia, hampir separuh pertumbuhan ekonomi Sulteng juga ditopang dari sektor pertambangan dan industri pengolahan. Daerah yang masih menyumbang pertumbuhan ekonomi yakni Kabupaten Morowali dengan komoditi nikel dan Banggai dengan komoditi gas.

"Kita harus mensyukuri dengan adanya tambang itu, karena merupakan berkah dari Tuhan, tetapi kita juga tidak berharap itu sepenuhnya sebagi sumber pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Miyono menggungkapkan berdasarkan hasil analisis dari pertumbuhan ekonomi tahun 2017 hingga triwulan II, belum sesuai dengan harapan. Namun ia berharap pertumbuhan ekonomi itu bisa digenjot pada triwulan III dan triwulan IV.

"Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi tahun 2017, kami memprediksikan di kisaran 7,2 persen hingga 7,6 persen," imbuhnya.

Namun bagi Miyono, prediksi itu bukan sesuatu yang jelek, karena secara nasioanal pertumbuhan ekonomi ditergetkan berada pada angka 5,2 persen.

Miyono juga tetap berharap pertumbuhan ekonomi Sulteng bisa seperti tiga tahun lalu yang berada pada angka dua digit.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulteng mencatat, nilai ekspor Sulteng selama Juni 2017 senilai 225,91 juta dolar AS dimana ekspor langsung dari Sulteng senilai 223,43 juta US dolar dan provinsi lain senilai 2,48 juta dolar AS.

Selama Januari hingga Juni 2017, ekspor terbesar Sulteng ditujukan ke Tiongkok senilai 624,82 juta dolar AS dengan kontribusi sebesar 52,79 persen. Kemudian Jepang senilai 338,32 juta dolar AS dengan kontribusi sebesar 28,59 persen. Selanjutnya Korea Selatan senilai 162,74 juta dolar AS dengan kontribusi sebesar 13,75 persen. (skd) 
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar