26 tahun Nuni hanya bisa tengkurap

id Parimo

Wabub Parigi Moutong H. Badrun Nggai, SE saat menjenguk Nuni di rumahnya Desa Tompo, Rabu (20/8) (Antarasulteng.com/Yusuf-Humas Pemkab)

Badrun Nggai: nomor saya simpan di HP-nya, kalau dia rindu bisa WA atau SMS saya
Parigi (Antarasulteng.com) - Di rumah berdinding papan itu, Zulyufni, warga Desa Tompo, Kecamatan Taopa, tinggal bersama kedua orang tuannya.

Gadis berusia 26 tahun itu sejak lahir mengalami kelainan kongenital atau cacat bawaan sehingga hanya bisa tengkurap. 

Ia tidak bisa berbicara dengan normal, badannya terlihat kurus, kedua kakinya terlipat hingga nyaris menyentu paha belakang. Hanya sesekali dia bisa tidur terlentang.

Meski memiliki banyak keterbetasan dalam bergerak, namun semangatnya tetap tinggi. Ia bahkan cukup menguasai information technology (IT). Beberapa akun media sosial seperti Facebook dan Twitter miliknya dibuat sendiri tanpa bantuan orang lain. 

Melalui media sosial itulah anak kedua dari pasangan Aswin dan Darsia ini menulis status di akun fecebooknya soal keinginnya Wakil Bupati Parigi Moutong. Para nitizen yang sempat membaca itu lalu menyampaikannya kepada Wakil Bupati Parigi Moutong, H Badrun Nggai SE.

Bertepatan saat melakukan perjalanan dinas ke wilayah utara Kabupaten Parigi Moutong, H Badrun Nggai meluangkan waktunya membesuk gadis yang lahir di Tompo, 16 Desember 1991 itu.


Nuni, begitu ia biasa dipanggil, tampak sumringah saat Wakil Bupati membesuknya, Selasa (29/8). Didampingi kedua orang tua, paman dan bibinya, gadis yang hobi membaca itu hanya bisa tersenyum sambil memeluk bantal kesayangannya berwarna pink.

"Sudah lama dia ingin sekali bertemu Bapak Wakil Bupati," kata Darsia, ibu kandung Nuni yang tampak tegar merawat anaknya itu.

Darsia menuturkan, hampir 26 tahun ini, Nuni hanya bisa terbaring kaku dengan cara tengkurap. Ia tak bisa duduk apalagi berdiri. Saat hendak mandi dan buang air, adik kandung dari Zulkifli itu diangkat ke dapur. 

"Dia tidak bisa jongkok atau duduk, sehingga kalau buang air besar, dikasi tengkurap saja. Setelah itu saya, papanya dan biasa juga tantenya yang angkat kotorannya," tutur Darsia.

Aswin, ayah kandung Nuni menambahkan, sejak istrinya mengandung tidak ada tanda tanda kelainan. Ia bahkan rutin memeriksakan kesehatan istrinya ke Posyandu dan Puskesmas setempat. 

"Saat diperiksa normal. Namun saat lahir, saya kaget ketika melihat kondisi fisik anak saya tidak normal seperti bayi pada umumnya," ujar lelak berprofesi sebagai petani  itu.

akil Bupati Badrun Nggai saat mengunjungi Nuni tampak larut dalam kesedihan melihat kondisi Nuni yang hanya bisa tengkurap selama 26 tahun.

Mantan Sekda Parigi Moutong itu hanya bisa menghibur Nuni sambil sesekali mengusap punggung gadis itu.

"Meskipun hanya bisa tengkurap, saya mendoakan Nuni tetap sehat. Kita harus tabah menerima takdir Allah SWT ini," kata Badrun sambil merangkul Nuni.

Wakil Bupati lalu mengajak Nuni dan keluarganya foto bersama. 

"Nomor saya simpan di handphonenya, supaya kalau dia rindu bisa WA atau sms saya," ujar Wabub lagi.

Cacat bawaan Nuni, dalam istilah medis disebut kelainan kongenital. 

Made Sutayana, seorang dokter di RSUD Anuntaloko Parigi menjelaskan bahwa kelainan kongenital merupakan pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. 

Kelainan bawaan dapat dikenali sebelum kelahiran, pada saat kelahiran atau beberapa tahun kemudian setelah kelahiran. 

Menurutnya kelainan bawaan dapat disebabkan oleh keabnormalan genetika, sebab-sebab alamiah atau faktor-faktor lainnya yang tidak diketahui. 

Karena itu, dia kembali menyarankan ibu-ibu agar sada saat kehamilan,  rutin melakukan pemeriksaan dokter sehingga dapat diketahaui kondisi kesehatan janin.

"Antenatal teratur dan rutin melakukan pemeriksaan fetas scaning USG pada saat usia kehamilan di bawah 20 minggu, sehingga sejak dini dapat diketahui kondisi kesehatan janin," ujar dokter yang tengah menempuh pendidikan S2 kedokteran spesialis kandungan di Universitas Undayana Bali itu. (Jeprin/Humas Pemda)

Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar