Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah mengatakan gerakan menanam sayur-sayuran merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan pangan di tingkat keluarga dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah.
"Pemkot Palu punya program inovasi Palu mandiri tangguh pangan yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama dengan memanfaatkan pekarangan rumah, sebagai upaya untuk memenuhi konsumsi pangan keluarga," kata Asisten bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Sekda) Kota Palu Rahmad Mustafa di Palu, Sabtu.
Ia mengemukakan kemandirian pangan harus diwujudkan dimulai dari lingkungan keluarga, yang mana dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam aneka ragam komoditas pangan sangat membantu dari sisi pemenuhan kebutuhan bahan pokok, kemudian mengurangi biaya belanja kebutuhan dapur.
Oleh sebab itu, Pemkot Palu terus menggenjot program Palu mandiri tangguh pangan, dengan melibatkan masyarakat secara individu maupun kelompok tani atau gabungan kelompok tani di 46 kelurahan di ibu kota Sulawesi Tengah.
"Meski lahan pertanian Kota Palu terbatas, kami terus berupaya menggenjot produksi pertanian, paling tidak produksi yang dihasilkan petani dapat membantu ekonomi keluarga, terlebih kebutuhan konsumsi keluarga," ujarnya.
Gerakan tanam sayuran saat ini masih di dominasi komoditas cabai, yang mana program inovasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Palu itu pada akhir 2025 menggandeng Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di delapan kecamatan di Kota Palu, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan stok cabai di awal 2025 dengan jumlah benih yang disiapkan saat itu kurang lebih 4 ribu bibit
Program Palu mandiri tangguh pangan hingga kini masih menjadi andalan, yang mana Pemkot Palu terus melakukan penguatan melalui Dinas Pertanian setempat.
"Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu, rata-rata harga cabai rawit di pasar lokal Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Hingga akhir Agustus ini harga cabai relatif stabil," tutur Rahmad.
Ia menambahkan, rata-rata harga bahan pokok penting di pasaran relatif stabil, namun satu komoditas yakni bawang merah masih mengalami lonjakan harga Rp60 ribu per kilogram, kondisi ini dipicu karena sebagian pasokan bawang merah didatangkan dari luar daerah yakni Sulawesi Selatan dan Pulau Jawa.
"Upaya menekan harga dilakukan Pemkot Palu melalui kerja sama lintas daerah di bidang pertanian, kemudian memfasilitasi petani bawang melalui perjanjian kerja sama (PKS) dengan pemerintah setempat, karena di Kota ada sejumlah petani bawang," kata dia.
