Kolaka, Sultra (ANTARA) - Sekitar 10 tahun lalu, lahan seluas puluhan hektare di Desa Tondowolio, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka, hanya menyisakan tanah yang terbengkalai.
Pembukaan awal pada 2015 tidak berbuah hasil karena lahan tidak dimanfaatkan secara produktif. Namun pada tanggal 8 Januari 2026, harapan baru lahir dari sela-sela tanah itu saat Kelompok Tani Padaidi berhasil melakukan panen jagung pakan, menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi komunitas bukan sekadar slogan, tapi bisa menjadi kenyataan nyata.
Jagung yang dipanen oleh kelompok tani binaan PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) IGP Pomalaa ini menghasilkan sekitar 6–7 ton per hektare, angka yang menjanjikan bagi komoditas jagung pakan di daerah tersebut. Di wilayah Kolaka sendiri, harga jagung pakan berkisar antara Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram, sehingga panen ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga kontribusi terhadap pendapatan keluarga tani setempat.
Kepala Desa Tondowolio, Asmanuddin, mengenang bagaimana lahan seluas 27 hektare itu sempat terbengkalai selama bertahun-tahun sebelum program pemberdayaan dimulai. Dari total luas tersebut, sekitar 5 hektare telah berhasil ditanami jagung pakan oleh kelompok tani yang terdiri dari 22 anggota. Bagi desa, transformasi potensi lahan seperti ini sangat berarti bukan sekadar pemanfaatan tanah, tetapi juga momentum kebangkitan pertanian lokal.
Menurut Ketua Kelompok Tani Padaidi, Baharuddin, selain tingkat produktivitas yang memuaskan, panen jagung ini memberikan motivasi baru bagi anggota kelompok untuk memperluas area tanam di musim mendatang. Jagung pakan sendiri memiliki peran strategis dalam mendukung kebutuhan pakan ternak lokal, yang pada gilirannya turut memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.
Panen jagung di Tondowolio merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang dijalankan oleh PT Vale di wilayah operasionalnya, termasuk di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Secara konsisten dialokasikan dengan investasi yang cukup besar.
Pada 2024 saja, perusahaan menggelontorkan sekitar US$4 juta untuk program PPM, mencakup dukungan pada pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan penguatan ekonomi lokal seperti pelatihan pertanian dan pemberdayaan kelompok tani.
Dalam konteks pertanian, data resmi menunjukkan bahwa di Kolaka terdapat 56 petani yang tergabung dalam Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) dengan total area tanam mencapai hampir 12 hektare dan telah melakukan 12 kali panen. Ini juga menunjukkan bahwa agenda penguatan ketahanan pangan tidak hanya sebatas satu komoditas atau satu lokasi saja, melainkan bagian dari strategi lebih luas yang mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap mata pencaharian masyarakat.
Menurut Endra Kusuma, Head of External Regional and Growth PT Vale, keberhasilan panen jagung ini merupakan bukti bahwa pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi lokal akan memperkuat kemandirian ekonomi.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan komunitas tani merupakan kunci untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
Komitmen ini sejalan dengan dukungan lain yang dilakukan PT Vale bagi ketahanan pangan, seperti penyaluran bibit jagung sebanyak 500 kg kepada petani di daerah lain untuk memperkuat produksi lokal pada masa sebelumnya, sebuah langkah yang mencerminkan upaya berkelanjutan perusahaan dalam sektor ini.
Program pertanian seperti yang dilaksanakan di Tondowolio selaras dengan tantangan ketahanan pangan yang masih relevan di Kabupaten Kolaka. Berdasarkan survei ketahanan pangan nasional, indeks ketahanan pangan Kolaka berada di angka yang menunjukkan posisi menengah di antara wilayah lain di Indonesia, menunjukkan ruang besar bagi inisiatif lokal untuk terus ditingkatkan.
Melihat potensi luas pertanian yang masih belum optimal serta kebutuhan akan produksi lokal yang kuat, aktivitas panen jagung pakan ini bukan sekadar momentum. Ia menjadi cerminan bahwa ketahanan pangan berbasis komunitas adalah solusi nyata yang bisa dijalankan secara bersamaan dengan pembangunan ekonomi desa bukan sekadar retorika, tetapi langkah konkrit yang ditopang komitmen dan kerja sama multi-pihak.
