Logo Header Antaranews Sulteng

MUI Palu: Penggunaan pengeras suara selama Ramadhan harus bijaksana

Senin, 23 Februari 2026 21:04 WIB
Image Print
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu Prof Zainal Abidin memberikan keterangan terkait kebijaksanaan menggunakan pengeras suara di masjid saat membangunkan sahur. ANTARA/Muh Izfaldi

Palu (ANTARA) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengatakan penggunaan toa atau pengeras suara di masjid untuk kepentingan membangunkan sahur selama Ramadhan 1447 Hijrah/2026 harus bijaksana dan arif guna mengedepankan toleransi.

Ketua MUI Kota Palu Prof Zainal Abidin di Palu Kamis mengatakan, imbauan tersebut adalah langkah positif dalam menjaga kerukunan dan kedamaian antarumat beragama.

Sebab ia menilai imbauan itu lahir dari semangat merawat kehidupan masyarakat yang majemuk, dengan berbagai latar belakang agama, aliran, dan pemahaman keagamaan.

“Saya kira imbauan MUI pusat terkait pengeras suara, khususnya di bulan Ramadan, itu sebenarnya positif. Ini bagian dari upaya menjaga kehidupan yang rukun dan damai di antara sesama warga negara,” ujarnya.

Ia menjelaskan selama penggunaan pengeras suara tidak menimbulkan persoalan di tengah masyarakat, maka kebiasaan tersebut dapat dilanjutkan, namun apabila ada kelompok masyarakat yang merasa terganggu atau berada dalam kondisi tertentu seperti sakit misalnya, maka hal itu patut menjadi bahan pertimbangan bersama.

Karena menurutnya, keberhasilan syiar Islam tidak semata-mata diukur dari kerasnya suara yang dipancarkan dari masjid, melainkan ditentukan oleh cara penyampaian yang santun dan bijaksana.

“Menurut saya kejayaan dan kesuksesan Islam itu tergantung pada kelembutan dan kesantunan dalam menyampaikan pesan-pesan agama,” ucap Zainal yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah.

Oleh karena itu MUI Palu mendorong agar setiap dakwah harus menghadirkan rasa nyaman dan menyenangkan bagi semua pihak, terlebih Islam adalah sebagai Rahmatan lil alamin yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam semesta.

Terlebih di bulan Ramadhan, yang mana ibadah puasa seharusnya berdampak pada peningkatan akhlak dan terciptanya harmoni sosial, karena orang yang berpuasa sudah semestinya menunjukkan adab dan budi pekerti yang lebih baik, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia.

“Hubungan kita dengan Tuhan baik begitu pun sesama manusia juga harus baik. Agama mengantar kita pada kemaslahatan dan kebahagiaan bersama,” kata dia menuturkan.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026