195 Peserta Ikut Pelatihan Keterampilah Pengelolaan Sampah Organik

id kotaku, BKM, Palu

Moh Syukran DM,SE,Tenaga Ahli Pelatihan OSP VIII Program KOTAKU (Kota tanpa kumuh) Provinsi Sulawesi Tengah (kanan) saat membuka Pelatihan Keterampilan Pengelolaan Sampah Organik berlangsung di Aula Kantor Dinas Koperasi dan UMKM. (Foto Anas Masa)

Permasalahan kumuh dalam kawasan ini terdiri dari kondisi bangunan, aksesibilitas kawasan, drainase, layanan air minum, air limbah, pengolaan persampahan, serta pengamanan kebakaran.
Palu, (antarasulteng.com) - Sebanyak 195 peserta terdiri atas kelompok swadaya masyarakat, relawan dan anggota badan keswadataan masyarakat (BKM) se 13 kelurahan di Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah mengikuti pelatihan keterampilan pengelolaan sampah berlangsung sehari penuh.

Kegiatan dalam rangka mendukung program pemerintah yaitu KOTAKU (kota tanpa kumuh) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Dirjen Cipta Karya itu dibuka Tenaga Ahli Pelatihan OSP VIII Provinsi Sulteng, Moh Syukran DM SE, berlangsung aula Kantor Dinas Koperasi dan UMKM di Palu,Minggu.

Ia mengatakan program KOTAKU dilakukan pada Tahun 2016-2020 sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan Gerakan 100-0-100. Program tersebut juga akan membawa perubahan yang positif dan berkelanjutan terhadap masyarakat perkotaan di seluruh provinsi, termasuk di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulteng.

Ia menyampaikan bahwa Program KOTAKU menggunakan sinergi platform kolaborasi antara pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya di kabupaten/kota serta Pembangunan Infrastruktur Berbasis Masyarakat untuk mempercepat penanganan kumuh perkotaan dan gerakan 100-0-100 dalam rangka mewujudkan permukiman yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

Salah satu peran Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan penanganan permukiman kumuh perkotaan adalah melibatkan peran aktif masyarakat dalam upaya mensinergikan penanganan permukiman kumuh skala kota/kawasan dan skala lingkungan.

Permasalahan kumuh dalam kawasan ini terdiri dari kondisi bangunan, aksesibilitas kawasan, drainase, layanan air minum, air limbah, pengolaan persampahan, serta pengamanan kebakaran.

Dia menjelaskan ada tiga kategori pengklafikasian program tersebut antara lain meliputi kawasan kumuh berat, kumuh sedang dan kumuh ringan.

Pengklasifikasian didasarkan pada tujuh indikator (7+1) yang telah ditetapkan pemerintah.

Ketujuh indakator kumuh pertama bangunan yakni keteraturan, kepadatam dan kondisi fisik rumah.Selanjutnya menyangkut drainase, air bersih,sanitasi, sampah dan kebakaran.

Ia menambahkan pelatihan keterampilan pengelolaan sampah sebagai salah satu solusi guna mengurangi produksi sampah, terutama sampah rumah tangga (sampah basah dan cair) diolah menjadi pupuk organik.

Jika sampah-sampah yang diproduksi masyarakat diproses menjadi pupuk organik, maka akan sangat bermafaat bagi masyarakat itu sendiri.

Dan di Kota Palu, kata dia, sudah ada beberapa kelompok usaha yang mengembangkan produk sampah basah/cair menjadi pupuk organik.

Karena itu, kegiatan ini dilakukan agar sampah-sampah yang tadinya hanya menjadi limbah, kini bisa diolah menjadi pupuk organik.

Dengan demikian katanya, memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat sendiri.

Foto Anas Massa.

Pelatihan Keterampilan Pengelolaan Sampah bagi KSM dan relawan peduli sampah program KOTAKU di Palu juga dihadiri faskel pendamping di 13 kelurahan tersebar di Kecamatan Palu Utara, Palu Timur, Palu Selatan, Tatanga dan Mantikulore.
 
Berikut faskel pendamping program KOTAKU di Palu terdiri Solehudin (senior faskel), Sri Rahayu dan Okky Devianti (faskel teknik), Fitriani (faskel sosial) dan Eka Wardani Bandi (faskel ekonomi).

Sementara narasumber terdiri dari BPTP Sulteng, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palu, Moh Iqbal SH MH dan Direktur Utama Cipta Lestari Pupuk Organik Fahruddin SP
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar