
Bahrain, negeri pencari mutiara di jantung Teluk Persia
Senin, 2 Maret 2026 14:51 WIB

Muharraq, Bahrain (ANTARA) - “From the depth of the sea I have risen, O Lord,
Twice times ten I went down below.
The date palm peg it held my nose,
The weights on the rope, they anchored my toes.”
Selain dilantunkan untuk menemani pelayaran, syair itu turut menggambarkan kerasnya kehidupan para penyelam tatkala industri mutiara masih menjadi penopang utama perekonomian Bahrain.
Kini, profesi penyelam mutiara atau dalam bahasa Arab disebut ghawws masih bertahan. Bukan sekadar mata pencaharian tradisional, melainkan menjadi wujud warisan identitas sekaligus saksi bahwa jauh sebelum ladang minyak ditemukan, denyut ekonomi negeri Teluk itu berasal dari mutiara di laut terdalam.
Kerajaan yang bergantung pada mutiara
Di salah satu rumah yang kini menjadi museum, Abbas Al-Faraj (41) berdiri di depan sebuah foto hitam putih berukuran besar yang terpacak di dinding. Gestur tangannya menunjuk potret penyelam mutiara sambil bercerita kepada para jurnalis.
“Para leluhur saya dulu menyelam tanpa tabung oksigen. Mereka hanya mengandalkan kemampuan menahan napas dan peralatan sederhana yang dibuat sendiri,” ujarnya.
Pemandu wisata Abbas Al-Faraj (41) yang juga seorang penyelam mutiara, menjelaskan sejarah Pearling Path kepada para jurnalis, Muharraq, Bahrain, Kamis (12/2/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)
Abbas merupakan seorang pemandu wisata dari Kementerian Pariwisata Bahrain yang ditugaskan menemani para jurnalis untuk mengunjungi Pearling Path, sebuah kawasan di Muharraq yang menjadi ‘museum’ bagi sejarah panjang industri mutiara Bahrain.
Di sepanjang jalur itu, rumah-rumah dibangun dari batu karang yang direkatkan tanah liat, berwarna coklat pucat menyaru dengan pasir gurun. Gang-gang sempit yang dulu dilalui para pedagang mutiara, kini ramai dengan turis yang berlalu-lalang.
Abbas memahami betul soal industri ini sebab dirinya sendiri merupakan salah satu penyelam mutiara, turun temurun dari keluarganya yang juga bagian dari generasi penyelam yang pernah menggantungkan hidup dari laut. Kisah keluarganya bukan cerita tunggal. Di masa itu, hampir seluruh negeri bergantung pada laut.
Sebelum dikenal sebagai negara penghasil minyak, Bahrain berabad-abad sebelumnya pernah menjadikan mutiara sebagai tulang punggung ekonominya.
Pada tahun 1877, mutiara menyumbang sekitar tiga perempat dari total ekspor Bahrain. Kemudian menjelang tahun 1905, Bahrain bahkan mengelola hampir setengah perdagangan mutiara di kawasan Teluk.
Letaknya yang strategis di jalur dagang antara Irak dan India menjadikannya simpul penting perdagangan global industri ini. Setiap musim panas, ribuan penyelam membuang sauh untuk berlayar mencari mutiara di perairan Teluk Persia.
Dalam industri penyelam mutiara, ada bentuk struktur sosial yang kompleks: nakhoda kapal (nakhuda), penyelam (ghawws), penarik tali (saib), hingga pedagang (tawash).
“Mutiara menjadi salah satu komoditas perdagangan paling sulit sekaligus paling menguntungkan. Karena yang dicari adalah sesuatu yang sangat langka,” ujar Abbas.
Kelangkaan mutiara bisa dipahami sebab mutiara yang terbentuk alami memang lahir dari proses biologis panjang. Ketika benda asing seperti pasir atau parasit, masuk ke dalam tiram (oyster), hewan itu punya mekanisme pertahanan dengan membungkus parasit menggunakan lapisan halus berkilau yang disebut nacre.
Lapisan demi lapisan tertimbun selama bertahun-tahun hingga terbentuk bulatan yang kita kenal sekarang sebagai mutiara. Kendati demikian, dari sekitar 10.000 tiram, mungkin hanya satu yang menghasilkan mutiara berkualitas tinggi.
Kelangkaan itulah yang membuat mutiara Bahrain dihargai sangat mahal di pasaran.
Tubuh yang bertaruh pada laut
Di balik romantisme mutiara sebagai perhiasan simbol status sosial masyarakat kelas atas, sebenarnya industri ini bertumpu pada tubuh-tubuh yang bertaruh nyawa di laut.
“Mereka menyelam puluhan kali sehari. Kadang tanpa tahu apakah tiram yang diangkat berisi mutiara atau tidak,” kata Abbas sambil menunjukkan sejumlah peralatan tradisional penyelam yang dipajang.
Penyelam tradisional mengikat batu pemberat di kaki agar bisa mencapai dasar laut. Mereka memasang penjepit hidung dari kayu pohon kurma agar air tak masuk. Lalu, tali yang diikat erat di pinggang menjadi penghubung dengan kapal di atas.
Para penyelam bisa menahan napas satu hingga dua menit tanpa tabung oksigen sembari mengais tiram dengan tangan kosong.
Selama berbulan-bulan di laut, makanan mereka sangat terbatas. Meski ikan segar mudah didapat, para awak kapal biasanya hanya mengandalkan nasi dan kurma.
Air minum dijatah ketat, bahkan buat membersihkan diri mereka menggunakan air laut. Akibatnya, para penyelam kerap bertubuh kurus karena beban fisik dan asupan makanan yang minim.
Kondisi hidup yang kurang higienis dan pola makan yang buruk menyebabkan banyak penyelam mengalami penyakit kulit, gangguan paru-paru, hingga infeksi. Tak sedikit pula yang akhirnya kehilangan penglihatan.
Meski demikian, Abbas mengatakan para penyelam mutiara tradisional Bahrain memang dikenal sebagai sosok yang tangguh.
Setelah musim penyelaman berakhir, hasil tangkapan dibagi berdasarkan porsi masing-masing. Kapten kapal mendapat bagian paling besar. Penyelam memperoleh bagian lebih besar dibanding penarik tali. Sementara anak buah kapal lain menerima sisanya.
Namun di balik itu, banyak para penyelam justru terjerat utang karena industri mutiara pada masa itu berjalan dengan sistem kredit.
Sebelum musim penyelam dimulai, kapten meminjam modal awal dari para pedagang buat mempersiapkan segala keperluan pelayaran. Ia kemudian meminjamkan uang kepada para penyelam agar keluarga mereka bisa bertahan selama ditinggal melaut.
Ketika musim berakhir dan hasil tak sesuai harapan, utang tetap harus dibayar. Akibatnya, banyak penyelam akhirnya terikat untuk kembali bekerja pada kapten yang sama di musim berikutnya.
Rantai ekonomi semacam itu perlahan berubah menjadi rantai ketergantungan.
Minyak dan kebangkitan industri mutiara
Syahdan, kejayaan suatu industri pada akhirnya bakal menemui titik akhir. Pun dengan industri mutiara. Industri mutiara alami mulai tergantikan dengan mutiara budidaya (cultured pearl).
Mutiara ini menggunakan campur tangan manusia dalam pembentukannya, dengan memasukkan inti (nukleus) ke dalam tiram sehingga mutiara terbentuk secara buatan. Hasilnya lebih murah dan bisa diproduksi massal.
Dengan ditemukannya metode ini, harga mutiara alami pun anjlok. Mutiara budidaya tumbuh pesat. Kalangan superkaya tak lagi menjadi satu-satunya pembeli, sehingga mutiara menjadi perhiasan yang terjangkau kelas menengah.
Tak lama kemudian, Bahrain menemukan minyak pada tahun 1932. Penemuan ini lambat laun menggeser industri mutiara sebagai sumber penerimaan utama negara. Bagi penyelam tradisional Bahrain, pasca penemuan minyak terasa seperti akhir sebuah era.
Saat ini mutiara memang tak lagi menjadi penyumbang utama produk domestik bruto (PDB) Bahrain. Namun, Pemerintah Kerajaan Bahrain mencoba untuk membangkitkan sektor ini dengan bentuk yang berbeda.
Industri mutiara kini menjadi industri ‘mewah’ yang menyasar kelas atas, serta dijalankan sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya lokal.
Pasar mutiara alami global diperkirakan bernilai puluhan hingga ratusan juta dolar AS per tahun, dengan keping-keping berkualitas tinggi mencapai harga sangat signifikan di pasar lelang dan kolektor kelas atas.
Bahrain dalam hal ini mengambil posisi unik. Sejak tahun 1928, Bahrain melarang impor dan penjualan mutiara budidaya. Semua mutiara yang diperdagangkan di dalam negeri harus 100 persen alami.
Kemudian, di garis depan kebangkitan industri ini berdiri Bahrain Institute for Pearls and Gemstones (Danat). Lembaga ini menjadi pusat riset dan laboratorium pengujian mutiara alami.
Dengan teknologi sinar-X dan perangkat canggihnya, Danat memastikan sebuah mutiara benar-benar terbentuk alami di laut, bukan hasil budidaya. Sertifikat dari lembaga ini menjadi jaminan prestisius sekaligus nilai tambah.
Di samping itu, pemerintah turut menghidupkan kembali profesi penyelam melalui sistem lisensi resmi. Mereka menggunakan peralatan modern seperti Scuba, berbeda dengan leluhur mereka yang hanya mengandalkan napas dan penjepit hidung.
Bagaimanapun juga zaman terus berubah. Kapal dhow kayu tergantikan oleh speedboat. Napas alami digantikan tabung oksigen. Mutiara dipindai sinar-X sebelum dipasarkan sebagai aset investasi.
Namun di jalanan Muharraq, ketika Abbas bercerita tentang betapa heroik kakeknya menyelam dengan dada sesak demi beberapa keping dinar, satu hal tetap sama, yakni kebanggaan seorang ghawws.
Sebab bagi Bahrain, mutiara bukan sekadar komoditas, Ia adalah warisan panjang tentang laut yang pernah menopang kemajuan sebuah kerajaan kecil di perairan Teluk Persia.
Pewarta : Bayu Saputra
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
