Logo Header Antaranews Sulteng

Salah kaprah yang terus diulang dalam ucapan Lebaran

Jumat, 27 Maret 2026 10:18 WIB
Image Print
Presiden Prabowo Subianto mengucapkan selamat HarI Raya Idulfitri kepada seluruh umat Islam tanah air di berbagai penjuru negeri. ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menetapkan Lebaran 1477 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Seketika ucapan selamat Lebaran bertebaran di berbagai platform media sosial.

Rasanya kurang afdal jika Lebaran tanpa ucapan selamat untuk para kerabat dan handai tolan. Ucapan itu mengandung fungsi bahasa ekspresif dan fatis, satuan lingual yang digunakan untuk memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan komunikasi antara komunikator dan komunikan.

Media yang digunakan untuk penyampaian ucapan selamat Lebaran mengalami perubahan dari zaman ke zaman. Semula masyarakat menyampaikan selamat Lebaran menggunakan kartu khusus yang dikirimkan melalui kantor pos pada era 1980—1990.

Era berikutnya pada awal 2000-an, masyarakat menyampaikan ucapan Selamat Lebaran melalui pesan pendek (short message service) dan blackberry messenger.

Saat Lebaran 1447 masyarakat mengirim ucapan itu melalui grup-grup Whatsapp dan media sosial lainnya. Sebagian pesan juga dikirim secara personal melalui Whatsapp.

Pembeda lainnya, pada Lebaran 1447 ini mereka juga menyertakan foto diri atau foto keluarga dalam ucapan Lebaran.

Model ucapan Lebaran seperti itu pernah dilakukan surat kabar harian pada 2010-an. Keruan saja penyampaian ucapan selamat Lebaran melalui media massa itu berbayar, mirip iklan baris.

Kesalahan ejaan

Ucapan Lebaran dalam bentuk teks atau lisan membentuk komunikasi untuk memperkuat ikatan sosial.

Pesan-pesan Lebaran lazimnya mengombinasikan unsur doa (misalnya taqabbalallahu), permohonan maaf, dan ucapan selamat yang tulus. Semua itu secara psikologis mampu memperkuat hubungan antarmanusia. Namun, penulisan ucapan selamat Lebaran itu banyak yang keliru.

Setidaknya hal itu tercermin di berbagai kelompok Whatsapp. Begitu juga ucapan selamat di spanduk-spanduk yang terbentang di halaman masjid atau musala sama saja, banyak terjadi kesalahan penulisan.

Para anggota grup Whatsapp antara lain menulis “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447.” Harap mafhum, di komunitas, grup Whatsapp, atau pengelola masjid tidak terjadi proses gatekeeping dalam penyampaian pesan.

Gatekeeping merupakan proses penyaringan, pemilihan, dan pengendalian akses terhadap informasi yang akan disebarluaskan kepada publik. Namun, media massa yang notabene memiliki proses “penjaga gerbang” pun tetap melakukan kesalahan serupa.

Berikut beberapa contoh penulisan judul berita yang keliru di berbagai media massa: Ucapan Selamat Idul Fitri untuk Klien yang Baik & Menyentuh Hati (19/3), Menag Sampaikan Pesan Idul Fitri: Momentum Menyemai Kebaikan & Keberkahan (20/3), dan Idul Fitri, Prabowo telepon Erdogan, PM Sharif, MBS, dan Raja Yordania (23/3).

Penulis berita dan penyunting naskah “konsisten” menulis Idul Fitri di bagian teras dan tubuh berita, alih-alih Idulfitri sebagaimana tertera di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Jadi, kesalahan pertama adalah penulisan ejaan Idul Fitri yang mestinya Idulfitri.

Kesalahan kedua, terjadi penulisan yang lewah. Lebaran dengan sendirinya merupakan hari raya. Mesti kata raya tidak disebutkan dalam ucapan itu, tetap saja Lebaran itu hari raya atau hari besar.

Kata idul atau ‘id yang kita pinjam dari bahasa Arab juga bermakna hari raya, perayaan, atau pesta. Jika seseorang menulis hari raya Idulfitri, maka terjadi redundansi atau pengulangan.

Jadi, kata raya pada ucapan itu mubazir karena merupakan bentuk lewah. Hal itu menandakan pengabaian ekonomi kata pada penulisan. Akibatnya makna pesan akan lebih lama dipahami oleh penerimanya.

Selain itu, kata idul berasal dari akar kata 'aada (kembali) karena perayaan Idulfitri berulang setiap tahun. Kata fitr berasal dari kata iftar yang juga menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia. Iftar bermakna hal berbuka puasa.

Kata fitri yang bermakna berbuka (makan) itu seperti tertera pada hadis yang diriwayatkan oleh Muslim berikut ini. "Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Tuhannya."

Lebaran pada 1 Syawal itu menandakan umat Muslim diperkenankan “kembali makan” pada pagi atau siang hari. Pada bulan sebelumnya, Ramadan (berarti membakar), umat Muslim berpuasa antara lain menahan haus dan lapar pada siang hari.

Pada bulan ke-10 kalender hijriyah, larangan makan dan minum pada siang hari, tidak lagi berlaku. Itulah sebabnya secara bahasa, sejatinya Idulfitri itu bermakna hari berbuka atau kembali makan.

KBBI juga mencatat kata fitri berarti kembali ke fitrah atau sifat pembawaan yang ada sejak lahir. Maksudnya adalah manusia mempunyai sifat pembawaan bertauhid kepada Allah dan suci dari segala dosa.

Jadi, Idulfitri juga bermakna kembali pada fitrahnya, yakni manusia yang taat kepada Allah dan bersih dari segala kesalahan. Dua bulan mendatang, kira-kira 26 Mei 2026, umat Muslim juga akan merayakan Iduladha. Ucapan Selamat Iduladha tidak segencar pada perayaan Idulfitri.

Variasi penulisan

Tradisi yang mengiringi Lebaran atau Idulfitri di Indonesia adalah prosesi bermaaf-maafan di sebuah tempat atau instansi. Banyak lembaga seperti instansi pemerintah, kampus, dan perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan itu.

Masyarakat dan media massa berpotensi salah menulis undangan untuk bermaaf-maafan. Hal itu terjadi karena banyak kata bersaing dalam bahasa Indonesia atau adanya variasi dalam penulisan, antara lain halal bi halal atau halal bihalal.

Penulisan baku yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, bukan keduanya (halal bi halal atau halal bihalal), melainkan halalbihalal. KBBI mencatat makna halalbihalal adalah hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang.

Secara harfiah kata halalbihalal tersusun atas kata halal dan bi (dalam bahasa Arab bermakna dengan), halal dengan halal. Halal berarti diizinkan, tidak bertentangan dengan syariat.

Jadi, halal dengan halal itu bersifat resiprokal atau saling menghalalkan dalam menjalin relasi antarmanusia.

Setelah halalbihalal maka hambatan komunikasi interpersonal, yang menghalangi proses penyampaian dan penerimaan pesan, dapat teratasi. Semua penghalang dalam berkomunikasi sudah “dihalalkan” atau dihilangkan.

Jika ucapan Selamat Idulfitri 1447 H atau undangan halalbihalal disampaikan secara lisan, kesalahan mungkin tidak akan tampak. Hal itu karena pengucapan keduanya sama persis.

Namun, jika pesan disampaikan tertulis, kesalahan penulisan tampak nyata. Oleh karena itu, komunikasi tulis menuntut kehati-hatian lebih tinggi daripada lisan.

Bukan saja karena komunikasi tulis tidak bisa ditarik secara fisik dan menjadi bukti otentik. Itulah sebabnya kesalahan penulisan kata dapat merusak reputasi.

Keruan saja, komunikasi tulis juga bersifat permanen, minim konteks nonverbal, dan mudah disalahartikan.


*) Dr. Sardi Duryatmo, M.Si adalah dosen di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan.




Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026