Logo Header Antaranews Sulteng

Nusron Wahid: Penting sanad keilmuan dalam belajar agama

Rabu, 1 April 2026 23:23 WIB
Image Print
Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid (ANTARA/Fauzi Lamboka)

Palu (ANTARA) -

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid menekankan, pentingnya sanad keilmuan dalam belajar agama di era modernisasi saat ini.

“Sanad keilmuan ini sangat penting. Tanpa sanad, kita tidak akan sampai pada pemahaman agama yang benar seperti hari ini,” katanya saat saat menghadiri Haul ke-58 Guru Tua di Kompleks Alkhairaat, Kota Palu, Rabu.

Ia menjelaskan bahwa sanad keilmuan yang dimiliki Guru Tua tersambung hingga kepada Rasulullah SAW melalui mata rantai para ulama besar, di antaranya Imam Syafi’i, Imam Ja’far Shadiq, hingga kepada Ahlul Bait.

Menurut Nusron, keberadaan Ahlul Bait menjadi penjaga moral dan spiritual bagi suatu negeri. Ia juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya belajar agama melalui media sosial tanpa rujukan yang jelas.

“Banyak yang belajar agama dari media sosial, tanpa sanad dan tanpa guru. Ini berbahaya karena bisa menyesatkan,” ungkapnya.

Ia bahkan mengutip sindiran terhadap fenomena tersebut, di mana seseorang belajar agama hanya dari internet seperti YouTube atau mesin pencari, namun tidak mampu memberikan jawaban yang benar ketika diminta fatwa karena tidak memiliki rujukan kitab yang muktabar.

Dalam kesempatan itu, mantan Ketum PP GP Ansor itu juga mengutip pandangan ulama bahwa sanad merupakan bagian penting dari agama. Tanpa sanad, seseorang dapat dengan mudah menyampaikan pendapatnya sendiri tanpa dasar yang jelas.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dalam diri Guru Tua terdapat berbagai sanad, mulai dari sanad keilmuan, sanad Al-Qur’an, sanad amalan (wirid), hingga sanad pertemuan atau musafahah dengan para ulama yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

“Sanad ini ibarat emas dalam ilmu. Ia menjadi jaminan keaslian dan kebenaran ajaran yang kita terima,” katanya.

Nusron menyampaikan rasa terima kasih atas kehormatan yang diberikan serta berharap nilai-nilai sanad keilmuan terus dijaga oleh generasi penerus Alkhairaat.

“Ini adalah warisan besar yang harus kita jaga bersama sebagai generasi penerus,” pesannya.

Puluhan ribu orang menghadiri peringatan wafatnya pendiri Perguruan Alkhairaat atau Haul ke-58 Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua dipusatkan di Komples Perguruan Alkhairaat, Kota Palu, Rabu.

Warga Alkhairaat (Abnaulkhairaat) berdatangan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, tumpah ruah di lapangan kompleks Alkhairaat seluas satu hektar. Bahkan, pengunjung membludak hingga ke Jalan Sis Aljufri Kota Palu, depan Kantor Pengurus Besar (PB) Alkhairaat.

Peringatan Haul ke-58 jatuh pada Rabu, 12 Syawal/1 April 2026 mengusung tema, meneguhkan spirit keteladanan Guru Tua dalam bingkai peradaban ilmu dan akhlak. Sebelum puncak haul, telah dilaksanakan Festival Raudhah SIS Aljufri sejak 28 hingga 30 Maret 2026.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026