Logo Header Antaranews Sulteng

Korban banjir yang mengungsi sudah kembali ke rumah

Sabtu, 4 April 2026 20:01 WIB
Image Print
Salah satu warga sedang duduk di kursi depan teras rumahnya saat banjir merendam sejumlah wilayah di Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (4/4/2026). ANTARA/HO-BPBD Parigi Moutong

Parigi, Sulteng (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah mengatakan korban banjir di Kecamatan Moutong dan Taopa yang sebelumnya mengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing karena air mulai surut.

"Warga terdampak ada yang memilih tetap di rumah ada pula yang mengungsi ke rumah kerabat mereka. Dilaporkan hari kedua pascabanjir para pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing," kata Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai di Parigi, Sabtu.

Ia menjelaskan banjir terjadi pada Jumat (3/4) sekitar Pukul 17.00 Wita, dipicu hujan lebat yang mengguyur wilayah itu dengan intensitas tinggi. Akibatnya sungai di wilayah Moutong dan Taopa meluap.

Dari peristiwa itu tujuh desa terdampak, yakni Gio Barat, Moutong Utara, Pande, dan Pandelalap di Kecamatan Moutong, lalu Paria, Tompo, dan Sibatang di Kecamatan Taopa.

"Warga terdampak di Kecamatan Motung sekitar 227 kepala keluarga (KK), lalu di Kecamatan Taopa tujuh KK, termasuk 25 balita dan 15 lansia," ujarnya.

Dilaporkan di Desa Gio Barat satu rumah rusak ringan, selain itu Desa Pandelalap enam titik tanggul jebol dan satu jembatan rusak.

Selain itu tiga hektare kebun sawit, satu hektare kebun jagung dan cabai, lima hektare kebun kelapa terdampak di Desa Pandelalap.

"Sekitar 15 hektare kebun kakao, lima hektare kebun kelapa terdampak dan 10 hektare kebun jagung rusak total di Desa Pande," ucap Rivai.

Dilaporkan, hingga saat ini sejumlah wilayah masih tergenang, relawan juga membantu warga setempat membersihkan sisa-sisa material lumpur.

"Adapun tim terlibat dalam penanganan banjir yakni tim reaksi cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong, relawan TRC Moutong, TRC Taopa, personel Polri, pemerintah desa dan warga setempat," kata dia.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026