
Merawat masa depan sasi, penjaga bentang laut kepala burung

Jakarta (ANTARA) - Jarum jam baru menunjukkan pukul 09.00 WITA, namun dendang musik diselingi riuh tawa sudah terdengar semarak memecah sunyinya salah satu jalanan kecil di Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali.
Seusai sarapan bersama, para mama (ibu) memulai hari Jumat (10/4) mereka dengan memutar pinggang, mengepalkan tangan dan mengayunkan kaki, sebelum sibuk dengan serangkaian kegiatan demi satu misi penting: memastikan keberlanjutan sasi.
Ya, mereka semua adalah bagian dari kelompok sasi laut dari tiga desa, yakni Kelompok Waifuna dari Kampung Kapatcol, Kelompok Joom Jak dari Kampung Aduwei, dan Kelompok Zakan Day dari Kampung Salafen, yang keseluruhannya berasal dari Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat Daya.
Sasi merupakan aturan adat yang tidak mengizinkan masyarakat setempat memanfaatkan sumber daya alam, baik di darat maupun perairan selama periode waktu yang telah ditetapkan guna mendukung pelestarian ekosistem di dalamnya.
Ketika masa sasi berakhir, kelompok sasi diperbolehkan mengambil sumber daya alam dalam rentang waktu tertentu dengan menggunakan alat tangkap sederhana dan tidak bersifat destruktif terhadap lingkungan.
Bagi para mama, sasi tak ubahnya ibu, yang menjaga bentang laut kepala burung, julukan bagi Kabupaten Raja Ampat beserta isinya sehingga tetap tumbuh sehat dan berumur panjang.
Memastikan keberlanjutan sasi adalah memastikan keberlanjutan hidup anak cucu mereka sebagai masyarakat pesisir.
Karena itu, mereka rela menempuh perjalanan ribuan kilometer yang panjang nan sulit menuju Pulau Dewata demi mendapatkan pengetahuan sekaligus bertukar pikiran dengan sesama kelompok sasi laut.
Selama 5 hari mereka bergandeng tangan lintas generasi untuk memupuk asa akan keberlanjutan kelompok sasi perempuan di tengah berbagai ancaman krisis dunia.
Tukar resep mama jaga sasi
Di antara 20 peserta yang terdiri atas para mama dan perempuan muda, adalah Almina Kacili yang merupakan Ketua Kelompok Sasi Waifuna sekaligus generasi pelopor kelompok sasi perempuan di bentang laut kepala burung.
Usianya yang tahun ini menginjak 64 tahun tidak menyurutkan semangat Almina untuk bergerak, berbagi cerita dan pengalaman yang didapatnya selama menjaga keberlangsungan kelompok sasi perempuan.
Kelompok yang dipimpin Almina telah menjalankan sasi sejak tahun 2008 dan menjadi salah satu contoh inspirasi bagi kelompok sasi lainnya.
Di bawah kepemimpinan dia, Kelompok Waifuna masih konsisten melakukan patroli laut hingga hari ini.
Almina menegaskan berbagai kesibukan domestik para mama tidak boleh menjadi alasan batalnya kegiatan patroli laut.
“Selama masa sasi berlangsung, patroli rutin penting dilakukan untuk mencegah munculnya nelayan-nelayan pencuri. Mencegah praktik penangkapan ikan yang merusak, seperti menggunakan bom ikan di wilayah laut yang berbatasan dengan area sasi. Dengan begitu, kondisi laut akan tetap terjaga,” ujar Almina.
Namun demikian, tantangan merawat sasi bukan hanya datang dari dalam kelompok. Ia menyebutkan perubahan iklim yang kini membuat cuaca semakin tidak menentu menjadi tantangan lain bagi keberlangsungan sasi
Akibatnya, kata dia, ombak besar dan angin kencang yang kini semakin sulit diprediksi kerap kali menghambat, bahkan tidak jarang menggagalkan jadwal patroli yang telah disusun.
“Beberapa tahun terakhir, ombak besar, angin kencang, dan hujan jadi lebih sering kami hadapi saat patroli di wilayah sasi. Kalau badai tiba-tiba datang, kami jadi tidak bisa kasih jalan patroli padahal sudah tinggal tarik perahu,” kata Almina.
Karena itu, Kelompok Waifuna di bawah pendampingan sebuah yayasan konservasi tengah memperkuat tata kelola organisasi dengan membentuk kelompok-kelompok kecil dengan tugas yang berbeda, mulai dari penyelam, pencatat hasil panen, hingga pengelola keuangan.
Perempuan-perempuan berusia muda saat ini juga terus mendapatkan pelatihan, peralatan hingga sertifikasi free-diving secara profesional sebagai bekal mereka ketika melakukan patroli maupun penangkapan sumber daya laut ketika sasi dibuka.

Bergeser ke desa sebelahnya, Ribka Botot (54) yang merupakan Ketua Kelompok Sasi Joom Jak merasa mulanya lebih sulit mengalahkan rasa tidak percaya dirinya ketimbang berenang di laut lepas.
Sebelum akhirnya membentuk kelompok sasi di desanya, ia adalah murid Almina Kacili. Dia berguru segala ilmu yang dibutuhkan ke Desa Kapatcol.
Meski sudah banyak belajar, ia merasa masih minim pengalaman organisasi, apalagi kemampuan berbicara di depan umum.
“Karena semua mendukung, pace dukung, mama jadi berani ambil peran jadi ketua kelompok sasi sampai sekarang. Sampai sekarang mama masih terus belajar,” kata Ribka.
Kelompok sasi perempuan asal Desa Aduwei ini berdiri sejak tahun 2022, dan mengelola wilayah sasi laut seluas lebih dari 260 hektare.
Meski mayoritas anggota kelompoknya telah mahir berenang secara tradisional, Ribka tetap meminta pendampingan untuk memberikan pelatihan, peralatan hingga sertifikasi free-diving secara profesional.
Ia mengatakan pendampingan tersebut sangat berguna, apalagi saat patroli karena harus menyelam sampai ke dasar laut untuk mengamati dan mengingat perkembangan biota laut, utamanya lobster dan teripang yang akan dipanen.
“Pemantauan tidak hanya dilakukan di permukaan, tetapi juga hingga ke dasar laut. Jadi kalau lobster hanya boleh dipanen jika berukuran di atas 1 kilogram. Sementara lobster di bawah 8 ons atau yang sedang bertelur dilarang untuk diambil,” kata Ribka.
Regenerasi kepemimpinan
Forum yang berlangsung pada 9-11 April di Bali tersebut memang untuk memastikan keberlangsungan sasi di masa depan, dengan menguatkan peran perempuan sekaligus meregenerasi kepemimpinan mereka.
Selama 3 hari itu, para peserta dibekali dengan sejumlah pengetahuan, di antaranya ialah penguatan pengelolaan tradisi sasi sebagai bagian dari strategi konservasi ekosistem laut berkelanjutan.
Pada sesi ini, peserta kembali diingatkan mengenai pengaturan waktu buka-tutup sasi, pengelolaan spesies target, misalnya lobster dan teripang, maupun penerapan aturan tangkap, seperti alat, ukuran, dan lokasi.
Di samping itu, juga ada sesi penguatan kapasitas mereka sebagai kelompok perempuan melalui pelatihan kepemimpinan perempuan, penguatan organisasi kelompok yang mencakup struktur, peran maupun koordinasi.
Pada sesi ini pula, para mama dan perempuan muda yang diterbangkan jauh dari Raja Ampat itu mendapatkan pelatihan mengenai peningkatan kepercayaan diri mereka dalam pengambilan keputusan, hingga pengembangan kemampuan dalam mengelola sumber daya alam maupun manusia.
Selain dua sesi tersebut, sesi yang tidak kalah penting ialah pembelajaran silang antar-kelompok untuk berbagi praktik baik, tantangan, adaptasi perubahan hingga peluang kerja sama antar kelompok sasi.
Selain rangkaian kegiatan di Bali, para pengelola sasi itu juga mendapat sejumlah pelatihan yang dimaksudkan untuk melatih mereka agar kelak dapat menjadi pelatih untuk kelompok sasi baru di desanya.
Pelatihan tersebut, di antaranya ialah pelatihan protokol pemanenan terkait ukuran dan metode yang berkelanjutan, pengumpulan data tentang keanekaragaman hayati dan kelimpahan, pelatihan monitoring terkait sensus visual dan transek garis serta pelatihan pascapanen.
Pewarta : Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
