Logo Header Antaranews Sulteng

UIN gandeng Hannah Asa perkuat peran dosen sebagai edukator keuangan

Rabu, 15 April 2026 09:33 WIB
Image Print
Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menggandeng Hannah Asa Indonesia dalam melaksanakan program program Associate Wealth Planner Syariah (AWPS). ANTARA/HO-Hannah Asa Indonesia

Palu (ANTARA) - Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu menggandeng Hannah Asa Indonesia dalam upaya memperkuat peran dosen dan tenaga kependidikan sebagai agen edukasi keuangan di lingkungan kampus.

Rektor UIN Datokarama Palu Lukman Thahir di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, mengatakan bahwa transformasi peran dosen menjadi kunci dalam menjawab tantangan tersebut.

“Dosen tidak lagi hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai educator, mentor, dan advisor,” katanya.

Ia mengatakan, kemampuan untuk membimbing aspek kehidupan nyata, termasuk pengelolaan keuangan, menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial dan ekonomi.

Menurut dia, institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan praktik, khususnya dalam konteks literasi keuangan.

Adapun kolaborasi ini diwujudkan melalui pelatihan enterpreneurship program Associate Wealth Planner Syariah (AWPS) dengan dosen dan tenaga kependidikan dari Fakultas Sains dan Teknologi (FSAINTEK) serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) sebagai peserta.

Program AWPS merupakan intervensi berbasis praktik dengan cakupan materi meliputi perencanaan keuangan syariah, manajemen utang dan pengelolaan zakat, perencanaan tujuan hidup seperti haji, pendidikan, dan pensiun, simulasi keuangan berbasis aplikasi, serta literasi pasar modal.

Sementara itu, Founder Hannah Asa Indonesia Mardiyah menegaskan bahwa pendekatan literasi keuangan harus mengalami transformasi.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi keuangan Indonesia tercatat sebesar 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

“Indonesia telah berhasil meningkatkan inklusi keuangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu mengambil keputusan finansial yang tepat. Literasi tidak cukup berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi sistem dan perilaku,” katanya.

Menurut dia, di wilayah Indonesia Timur, tingkat literasi keuangan masih berada di bawah rata-rata nasional sehingga pendekatan literasi harus lebih kontekstual, berbasis wilayah, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Karena itu, lanjut dia, program AWPS menekankan pada implementasi langsung, bukan sekadar pemahaman teoritis, sehingga peserta diharapkan mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengedukasi mahasiswa dan masyarakat luas.



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026