HUT Tolitoli Diwarnai Demontrasi

id Hayun, Tolitoli, Lapangan

Aksi penolakan perubahan nama Lapangan Haji Hayun Tolitoli berlangsung di lapangan tersebut saat perayaan HUT Tolitoli ke 57, Senin.(Foto:Antarasulteng/Banjir)

"Hari ini kami datang untuk menolak pergantian nama Lapangan Haji Hayun,"
Tolitoli (antaranews.com) - Perayaan peringatan HUT Daerah Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah ke 57 diwarnai aksi demonstrasi masyarakat yang menolak pergantian nama Lapangan Haji Hayun yang rencananya diresmikan Senin.

Aksi tersebut berlangsung di lokasi upacara perayaan HUT Daerah di Lapangan Haji Hayun, Kelurahan Panasakan, Kecamatan Baolan.

Aksi penolakan itu berlangsung karena nama Lapangan Haji Hayun yang sudah berlangsung lama dan dikenal luas ingin diubah oleh pemerintah daerah setempat dengan nama Lapangan Muhammad Bantilan.

Nama Haji Hayun dalam sejarah adalah salah seorang tokoh agama di wilayah itu yang memimpin penolakan kerja paksa oleh Belanda hingga mengakibatkan beberapa tentara penjajah itu tewas.

Ratusan massa mendesak pemerintah untuk tidak meresmikan pergantian nama tersebut, sebab mereka berpendapat hal itu sangat bertolak belakang dengan keinginan sebagian besar warga Tolitoli.

"Hari ini kami datang untuk menolak pergantian nama Lapangan Haji Hayun," kata Safrudin dalam orasinya.

Meskipun memaksa menemui bupati, namun Bupati Tolitoli Moh Saleh Bantilan enggan menemui warga.

Sejumlah anggota DPRD dari beberapa fraksi juga ikut berorasi dan menyatakan sikap tegas menolak pergantian nama lapangan itu.

Bahkan mereka ikut menandatangani pernyataan sikap menolak pergantian nama Lapangan Haji Hayun di atas kain putih yang terbentang di tengah-tengah aksi demonstrasi.

"Hingga detik ini kami menolak pergantian nama, jangan lupakan sejarah. Haji Hayun adalah pejuang yang namanya sudah dikenal dan harus kita hargai," kata salah seorang anggota DPRD Tolitoli Haliyah, dalam orasinya.

Hingga siang ini aksi demonstrasi masih terus berlanjut dan mendapat pengawalan ratusan personil Polres Tolitoli.***
Pewarta :
Editor: Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar