Logo Header Antaranews Sulteng

ESCAP ke-82: Menata ulang ketahanan Asia Pasifik

Rabu, 22 April 2026 13:51 WIB
Image Print
Presiden Prabowo Subianto (kanan) membacakan sumpah jabatan saat melantik Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) di Istana Negara, Jakarta, Jumat (19/12/2025). Presiden Prabowo Subianto melantik Yusron Bahauddin Ambary sebagai Duta Besar LBBP untuk Aljazair, Okto Dorinus Manik sebagai Duta Besar LBBP untuk Papua Nugini merangkap Kepulauan Solomon, Hari Prabowo sebagai Duta Besar LBBP untuk Thailand merangkap United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UN-ESCAP), Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir sebagai Duta Besar LBBP untuk Jepang merangkap Federasi Mikronesia, Gina Yoginda sebagai Duta Besar LBBP untuk Korea Utara, Rediyanto Heru Nurcahyo sebagai Duta Besar LBBP untuk Republik Slowakia. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/bar

Jakarta (ANTARA) - Di tengah tekanan ekonomi global yang kian terakumulasi --mulai dari gejolak energi, perlambatan pertumbuhan, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik-- Asia Pasifik tetap bertahan sebagai salah satu poros utama perekonomian dunia.

Namun, yang berubah bukan hanya laju pertumbuhan, melainkan cara kawasan ini menjaga keseimbangan ekonominya.

Risiko kini semakin saling terhubung. Guncangan di satu sektor dapat dengan cepat menjalar ke sektor lain, melintasi batas negara, dan mempersempit ruang kebijakan nasional.

Dalam kondisi seperti ini, stabilitas kawasan tidak lagi cukup ditopang oleh pendekatan domestik semata, melainkan membutuhkan koordinasi yang lebih erat antarnegara.

Kebutuhan tersebut mengemuka dalam pertemuan ke-82 United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) pada 20-24 April 2026 di Bangkok, Thailand.

Forum ini mengangkat tema “Leaving no one behind: advancing a society for all ages in Asia and the Pacific”, yang menekankan pentingnya pembangunan inklusif lintas generasi.

Tema tersebut mencerminkan pergeseran pendekatan kawasan, dari fokus pada pertumbuhan ekonomi menuju upaya memastikan manfaat pembangunan lebih merata dan berkelanjutan bagi seluruh kelompok masyarakat.

Dalam forum tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Thailand merangkap Komisi Ekonomi dan Sosial Asia dan Pasifik Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCAP), Hari Prabowo menilai bahwa agenda pembangunan global perlu ditempatkan dalam horizon yang lebih panjang.

Dalam pandangannya, pencapaian Sustainable Development Goals 2030 sebagai fondasi awal, sementara pembahasan kawasan perlu mulai bergerak menuju kerangka pasca-2030 yang lebih adaptif terhadap dinamika global.

Dari perspektif Indonesia, Asia Pasifik tidak hanya berperan sebagai motor pertumbuhan ekonomi dunia, tetapi juga memiliki potensi untuk ikut membentuk arah baru agenda pembangunan global yang lebih inklusif.

Dalam pembacaan tersebut, prinsip “tidak meninggalkan siapa pun” menjadi dasar utama kebijakan pembangunan. Prinsip ini tidak cukup berhenti pada komitmen, tetapi harus tercermin dalam kebijakan yang menjangkau kelompok rentan dan memberikan dampak nyata di tingkat masyarakat.

Pendekatan Indonesia juga menekankan pentingnya penguatan kerja sama lintas negara dan lintas generasi sebagai elemen kunci dalam memastikan pembangunan tetap inklusif di tengah dunia yang semakin saling terhubung.

Sejalan dengan itu, Indonesia juga menegaskan peran UNESCAP bukan hanya sebagai forum teknis, tetapi sebagai ruang strategis untuk memperkuat multilateralisme dan mendorong pembangunan kawasan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Di tengah tekanan eksternal, Asia Pasifik masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif stabil. Berdasarkan Asian Development Outlook April 2026, ekonomi kawasan ini diperkirakan tumbuh sekitar 5,1 persen pada 2026-2027, mencerminkan moderasi di tengah ketidakpastian global.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa gejolak geopolitik dan harga energi masih menjadi faktor yang memengaruhi biaya produksi dan harga konsumen di kawasan.

Namun, permintaan domestik tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Sejalan dengan itu, inflasi kawasan diperkirakan meningkat menjadi sekitar 3,6 persen pada 2026, seiring dampak kenaikan harga energi yang mulai merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Menjaga pertumbuhan di tengah tekanan

Di sejumlah bagian kawasan, perlambatan mulai terlihat seiring meningkatnya tekanan eksternal.

World Bank dalam South Asia Economic Update April 2026 memperkirakan pertumbuhan Asia Selatan berada di kisaran 6,3 persen pada 2026. India tetap menjadi motor utama pertumbuhan kawasan, meski prospek ekonomi dibayangi risiko dari volatilitas harga energi global.

Meski masih menjadi salah satu kawasan dengan pertumbuhan tercepat di antara negara berkembang, Asia Selatan menghadapi risiko dari meningkatnya biaya produksi dan tekanan eksternal yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.

Dalam situasi ini, penguatan kerja sama regional dinilai semakin penting untuk menjaga ketahanan kawasan terhadap guncangan global.

Menurut pengamat ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, meningkatnya keterhubungan ekonomi kawasan membuat kerja sama antarnegara Asia Pasifik semakin penting untuk merespons guncangan global secara lebih terkoordinasi.

Pendekatan kolektif menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas kawasan di tengah ketidakpastian global.

Dari ketimpangan ke ketahanan kawasan

Di balik ketahanan pertumbuhan, ketimpangan masih menjadi tantangan struktural yang belum sepenuhnya teratasi.

Pertumbuhan ekonomi di kawasan masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu, sementara akses terhadap peluang ekonomi dan layanan dasar belum merata. Ini menandakan bahwa manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya terdistribusi secara luas.

Kondisi tersebut mendorong pergeseran arah pembangunan menuju kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, penguatan struktur ekonomi domestik dan regional kian krusial untuk menjaga daya tahan terhadap guncangan eksternal.

Tekanan global, —termasuk dinamika energi dan perdagangan— memaksa negara-negara di kawasan untuk menyesuaikan strategi agar lebih adaptif terhadap perubahan.

Di sisi lain, integrasi ekonomi yang semakin dalam membuka peluang kerja sama yang lebih luas, sekaligus mempercepat transmisi guncangan, seperti kenaikan harga dan perlambatan ekonomi, melintasi batas negara.

Dalam situasi ini, keseimbangan antara keterbukaan ekonomi dan penguatan kapasitas domestik menjadi semakin penting.

Sejalan dengan dinamika tersebut, peran Indonesia kian menonjol melalui dorongan ekonomi hijau, penguatan hilirisasi industri, serta perluasan pembiayaan berkelanjutan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan manfaat ekonomi.

Langkah ini diperkuat melalui penguatan rantai pasok domestik dan regional guna meningkatkan ketahanan ekonomi.

Dalam konteks itu, terbuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih besar dalam mendorong pembangunan kawasan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Pertemuan ESCAP ke-82 menunjukkan bahwa Asia Pasifik tengah memasuki fase baru pembangunan. Kawasan ini tidak lagi semata-mata mengejar laju pertumbuhan, melainkan mulai menata ulang fondasi ketahanannya di tengah tekanan global yang terus berubah.

Di titik inilah arah baru kawasan mulai terbentuk, bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat ia tumbuh, tetapi juga oleh seberapa kuat ia mampu bertahan dan beradaptasi secara kolektif.




Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026