Logo Header Antaranews Sulteng

BEI Sulteng dan Hannah Asa perkuat literasi investasi generasi muda

Rabu, 22 April 2026 14:47 WIB
Image Print
PT Bursa Efek Indonesia Kantor Perwakilan Sulawesi Tengah bersama Hannah Asa Indonesia berkolaborasi Bootcamp Smart Financial Journey untuk meningkatkan literasi finansial generasi muda. ANTARA/HO-Hannah Asa Indonesia

Palu (ANTARA) - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama Hannah Asa Indonesia berkolaborasi dalam memperkuat literasi investasi bagi generasi muda di daerah ini.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Sulawesi Tengah Putri Irnawati di Palu, Rabu, menyampaikan bahwa investasi merupakan proses jangka panjang yang harus dilandasi pemahaman yang kuat.

“Investasi adalah bagaimana mengelola aset agar memberikan hasil di masa depan, namun selalu disertai risiko. Karena itu, investor harus memahami produk, mekanisme, dan risikonya, bukan sekadar ikut tren,” katanya.

Karena itu, pihaknya dan komunitas Hannah Asa Indonesia yang bergerak di bidang literasi keuangan berkolaborasi dalam penyelenggaraan Bootcamp Smart Financial Journey yang juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini untuk meningkatkan literasi investasi serta pemahaman keuangan di kalangan generasi muda.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya mendapatkan edukasi secara teoritis, tetapi juga dibimbing untuk memahami dasar investasi, mengenali profil risiko, serta memulai investasi dengan praktik nyata melalui sesi “Get Started With Bibit”.

Selain itu, kata dia, BEI terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat melalui galeri investasi.

Pihaknya juga selalu mengedukasi masyarakat tentang investasi bodong, yang mana calon investor pasar modal harus memahami ciri-ciri investasi yang sah, supaya tidak terjerumus ke dalam investasi yang menyesatkan.

Sampai pada Desember 2025, jumlah investor pasar modal di Sulawesi Tengah yang terdaftar dalam Single Investor Identification (SID) mencapai 216.045 SID, meningkat dari 144.159 SID pada Desember 2024.

Instrumen reksa dana masih mendominasi dengan jumlah 164.562 SID atau sekitar 76,17 persen dari total investor. Selain itu, investor saham meningkat menjadi 42.271 SID dibandingkan 29.198 SID pada tahun sebelumnya. Investor Surat Berharga Negara (SBN) juga naik menjadi 4.212 SID dari sebelumnya 3.282 SID.

Sementara itu, Founder Hannah Asa Indonesia Mardiyah mengatakan bahwa program ini bukan hanya pelatihan, tapi merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas.

Menurut dia, tantangan saat ini bukan lagi soal akses keuangan, melainkan kualitas keputusan finansial.

Oleh karena itu, pihaknya ingin mencetak generasi yang tidak hanya mampu berinvestasi, tetapi juga memahami dan mengedukasi orang lain.

“Tahun ini, kami menargetkan lahirnya 1.000 edukator literasi keuangan dari Indonesia Timur yang dapat menjadi penggerak perubahan di masyarakat,” ujarnya.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026