Logo Header Antaranews Sulteng

Bupati Parimo: Hari kesiapsiagaan harus diikuti penguatan mitigasi bencana

Kamis, 23 April 2026 21:31 WIB
Image Print
Bupati Parigi Moutong Erwin Burase memberikan keterangan kepada sejumlah pewarta terkait langkah-langkah penanggulangan bencana di daerah itu. ANTARA/Moh Ridwan

Parigi, Sulteng (ANTARA) - Bupati Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) Erwin Burase mengatakan hari kesiapsiagaan harus diikuti dengan penguatan mitigasi bencana kepada seluruh lapisan masyarakat di daerah itu.

"Peringatan hari kesiapsiagaan menjadi alarm sebagai pengingat bahwa bencana kapan saja bisa terjadi, maka menghadapi potensi itu perlu dihadapi dengan manajemen yang baik lewat mitigasi," kata Bupati Parigi Moutong Erwin Burase di Parigi, Kamis, menanggapi hari kesiapsiagaan.

Ia mengemukakan, potensi bencana bukan hanya ancaman gempa bumi maupun tsunami, perubahan iklim juga bagian dari bencana hidrometeorologi yang dapat memberikan dampak kelangsungan hidup manusia.

Parigi Moutong salah satu daerah di Sulteng memiliki tingkat kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi berupa banjir maupun tanah longsor, maka menghadapi ancaman itu perlu kewaspadaan tinggi, pengetahuan cukup terutama tindakan penyelamatan dan evakuasi mandiri.

"Secara luas Indonesia hampir setiap tahun mengalami berbagai jenis bencana, baik alam maupun non-alam. Di Parigi Moutong bencana hidrometeorologi seperti banjir kerap terjadi karena kondisi geografinya memiliki banyak gunung dan anak sungai yang sewaktu-waktu bisa meluap dan merendam pemukiman warga saat hujan dengan intensitas tinggi," ujarnya.

Maka berbagai langkah pencegahan yang telah dilakukan pemerintah setempat lewat penguatan mitigasi, perlu dilaksanakan secara berkala supaya masyarakat memiliki pemahaman yang baik terhadap kebencanaan, terutama pada situasi darurat.

Menurut indeks risiko bencana Indonesia yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kajian Risiko Bencana Kabupaten Parigi Moutong Tahun 2023-2028, Kabupaten Parigi Moutong salah satu rawan bencana alam diantaranya banjir, banjir bandang, tanah longsor, gempa, tsunami, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, abrasi pantai maupun kekurangan.

"Termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang secara beruntun beberapa bulan terakhir melanda Parigi Moutong akibat kekeringan," ucap Erwin.

Kata dia, selain penguatan pemahaman kebencanaan kepada seluruh komponen masyarakat, simulasi bencana bersama aparatur, masyarakat dan pihak sekolah menjadi bagian penting.

Simulasi bertujuan menciptakan ketangguhan masyarakat terhadap bencana dengan mengenali ancaman bencana maupun mengurangi risiko dari dampak yang ditimbulkan.

"Penanggulangan bencana merupakan urusan bersama, sehingga keterlibatan semua pihak merupakan bagian tidak terpisahkan," tuturnya.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026