
Merawat rumah bersama: mewujudkan pelayanan oikumenis dalam lensa Eko Teologi

Palu, Sulteng (ANTARA) - Di tengah krisis iklim yang semakin akut dan kerusakan ekosistem yang mengancam peradaban, gereja di Indonesia menghadapi panggilan baru yang tidak bisa dijawab sendiri-sendiri. Banjir, kekeringan, polusi, dan kepunahan sebagian satwa adalah masalah bersama yang melampaui batas-batas denominasi. Dalam konteks inilah, wacana tentang pelayanan gereja yang oikumenis perlu ditempatkan dalam bingkai lensa eko-misional.
Istilah "oikumenis" sendiri berasal dari bahasa Yunani oikoumene yang berarti rumah bersama, kediaman bersama. Secara tradisional, gerakan oikumenis dipahami sebagai upaya menyatukan gereja-gereja yang terpecah dalam doktrin dan struktur organisasi. Namun, jika dikaji secara mendalam, akar kata oikos (rumah) memperluas makna persatuan bukan hanya antar gereja, tetapi juga antara gereja dengan seluruh ciptaan yang mendiami "rumah" yang sama, yaitu bumi.
Lensa eko-teologi menawarkan paradigma baru. Ia menempatkan tanggung jawab ekologis sebagai inti dari missio dei (misi Allah), bukan sekadar program tambahan gereja. Dengan kata lain, merawat bumi adalah bagian tak terpisahkan dari merawat persatuan gereja.
Doa Yesus dalam Yohanes 17:21, "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau," selama ini sering dimaknai secara eksklusif antarmanusia. Padahal, kesatuan yang Yesus maksudkan adalah kesatuan yang merefleksikan relasi harmonis yang inklusif dan memberi kehidupan. Dalam lensa ekoteologi, persatuan gereja tidak akan sempurna jika masih mengabaikan tangisan bumi dan erangan makhluk ciptaan lainnya.
Opini ini disusun untuk menawarkan jalan alternatif yaitu pelayanan bersama yang tidak terjebak dalam friksi teologis yang berkepanjangan, tetapi bergerak pada titik temu kepedulian terhadap ciptaan. Dengan berpijak pada perspektif Alkitab dan dokumen-dokumen kesepahaman yang telah ada, kita dapat membangun platform kolaborasi yang inklusif, relevan, dan transformatif. Sekalipun berbeda afiliasi dan organisasi, pelayanan bersama dapat dilakukan karena kita diikat oleh satu "rumah" yang sama dan satu panggilan untuk merawatnya.
1. Rekonsiliasi Kosmik dan *Oikos* sebagai Rumah Bersama
Dasar biblis untuk eko-misi dan eko teologis akan jauh lebih kokoh daripada sekadar perintah moral untuk menjaga lingkungan. Teks kunci yang menghubungkan kedua hal ini terdapat dalam surat-surat Paulus, terutama Efesus dan Kolose. Konsep oikonomia (rencana keselamatan) dalam Efesus memiliki dimensi kosmik. Sedangkan dalam Efesus 1:9-10, Paulus menulis bahwa rahasia kehendak Allah adalah "untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi." Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa tujuan akhir missio dei adalah rekonsiliasi universal. Visi eskatologis ini adalah fondasi teologis bagi eko-misi: gereja dipanggil untuk menjadi saksi dan agen dari proses pemulihan seluruh ciptaan ini, mulai dari sekarang. Konsep pleroma (kepenuhan) Kristus melampaui batas-batas gereja institusional. Efesus 1:22-23 menyatakan bahwa gereja adalah tubuh Kristus, "kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu." Jika Kristus memenuhi alam semesta, maka kehadiran dan karya-Nya tidak terbatas pada ruang-ruang ibadah denominasional. Ia hadir dan bekerja dalam seluruh ciptaan. Kesadaran ini seharusnya membuat gereja rendah hati dan membuka diri untuk bekerja sama dengan siapa pun yang terlibat dalam merawat ciptaan, karena di sanapun Kristus hadir.
Konsep oikos dalam Yohanes 3:16, bahwa Allah mengasihi dunia (kosmos). Studi eko-misional menegaskan bahwa Yohanes 3:16 berbicara tentang kasih Allah pada realitas ciptaan secara utuh. Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia (kosmos) karena Ia begitu mengasihinya . Ini membalikkan cara pandang sempit yang hanya berfokus pada "jiwa manusia". Kasih Allah bersifat holistik. Oleh karena itu, jika gereja mengklaim sebagai tubuh Kristus yang dikasihi Allah, ia harus mewujudkan kasih yang sama kepada seluruh ciptaan, bersama dengan gereja lain yang memiliki visi serupa. Di sinilah kepedulian ekologis menjadi perekat oikumenis yang kuat.
2. Menghindari Friksi Teologis: Titik Temu dalam Dokumen Kesepahaman
Salah satu hambatan terbesar dalam dialog oikumenis adalah perbedaan doktrin yang mengakar, seperti sakramen, tata gereja, atau soteriologi. Lensa eko-teologis menawarkan jalan keluar dengan mengalihkan fokus dari "apa yang kita percayai secara berbeda" menuju "apa yang menjadi keprihatinan bersama kita." Kepedulian terhadap bumi adalah platform netral yang dapat diterima oleh semua kalangan, dari konservatif hingga liberal, dari Pentakotal hingga Reformed.
Deklarasi bersama tentang kepedulian terhadap ciptaan telah dikeluarkan oleh berbagai denominasi. Ini menunjukkan bahwa di tingkat tertinggi, para pemimpin gereja mengakui bahwa krisis ekologi adalah isu yang tidak bisa ditunda dan membutuhkan respons bersama. Hal ini menegaskan bahwa misi gereja dalam tanggung jawab eko-keadilan adalah sarana untuk memuliakan Allah dan meningkatkan kesejahteraan manusia. Prinsip ini tidak eksklusif bagi Reformed; ia dapat dianut oleh semua gereja yang mengakui Allah sebagai Pencipta. Gereja diundang untuk berpartisipasi dalam apa yang sedang Allah lakukan. Dalam konteks krisis iklim, apa yang sedang Allah lakukan? Ia sedang merestorasi, menyembuhkan, dan mengadili ketidakadilan ekologis. Partisipasi dalam karya Allah ini adalah milik bersama semua orang Kristen.
Dengan berfokus pada “mssio dei yang bersifat kosmik, gereja-gereja dapat bekerja sama tanpa harus menyeragamkan doktrin mereka. Mereka dapat menerima perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai tembok pemisah, karena mereka disatukan oleh panggilan profetik yang sama: bersuara bagi mereka yang tidak bersuara (Amsal 31:8), termasuk alam yang tidak bisa berbicara.
3. Praksis Eko-Misional: Platform Kolaborasi Lintas Denomisasi
Jika landasan teologis dan dokumen kesepahaman sudah tersedia, pertanyaan selanjutnya adalah "bagaimana" mewujudkan pelayanan bersama ini. Dalam lensa eko-misional, pelayanan oikumenis tidak lagi berbicara tentang tukar mimbar atau perayaan ekaristi bersama yang rumit, tetapi bergerak pada aksi-aksi profetik dan praksis nyata yang menyentuh hajat hidup orang banyak dan alam. Gereja-gereja dari berbagai latar belakang dapat bersatu menyuarakan keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan akibat eksplorasi pertambangan yang berlebihan, penanaman sawit yang tidak terkendali dan polusi industri. Suara bersama ini akan jauh lebih kuat dan didengar pemerintah daripada jika gereja bersuara sendiri-sendiri. Gerakan Ekoteologi melalui pelatihan pertanian organik, atau konservasi sumber air lintas jemaat, aksi bersama ini membangun solidaritas dan persahabatan baru yang lebih otentik daripada pertemuan dialog dan debat doktriner di ruang ber-AC. Gerakan oikumene dapat berkolaborasi dalam menyusun panduan gereja ramah lingkungan yang dapat diadopsi semua pihak. Mulai dari penggunaan energi surya, pengelolaan sampah, hingga pembangunan taman gereja yang konservatif. Lensa eko-teologi berpotensi memberikan jalan keluar kepada gereja-gereja menemukan platform bersama yang kokoh secara biblis (Efesus 1:10; Kolose 1:15-20), relevan secara kontekstual, dan aman dari friksi teologis. Pelayanan bersama bukan lagi wacana, tetapi menjadi keniscayaan. Praktik-praktik ini menghindari friksi teologis karena tidak membahas doktrin yang memecah, tetapi langsung bergerak pada aksi yang mempersatukan. Dalam aksi, perbedaan menjadi tidak relevan; yang relevan adalah bagaimana kita bersama-sama menyelamatkan sungai yang tercemar atau menyelamatkan hutan yang tersisa. Opini ini mengajak pimpinan gereja, majelis gereja, pimpoinan sinode, lembaga pelayanan, dan warga gereja biasa untuk berani melangkah keluar dari eksklusivisme denominasi. Mari kita bangun jejaring eko-misional lintas iman. Mari kita jadikan gereja-gereja di Indonesia sebagai oikos-community yang otentik, yang tidak hanya berkhotbah tentang kasih Allah, tetapi secara aktif merawat ciptaan yang dikasihi-Nya. Sekalipun berbeda afiliasi, organisasi, atau bahkan cara berteologi, pelayanan bersama untuk bumi adalah perwujudan nyata dari doa Yesus. Karena pada akhirnya, bumi ini adalah satu-satunya rumah yang kita miliki bersama, dan merawatnya adalah ibadah bersama kita kepada Sang Pencipta.
SIMPULAN OPINI
Mewujudkan pelayanan oikumenis dalam lensa eko-misional menghadapi tantangan egoisme institusional dan primordialisme teologis. Ada kemungkinan gereja-gereja akan berhadapan dengan kepentingan bisnis atau kekuasaan yang merusak ekosistem alam. Namun, di era society 5.0 dan post-truth, peluang juga terbuka lebar. Generasi muda (Gen Z dan Milenial) sangat peduli pada isu iklim dan keadilan lingkungan. Mereka umumnya tidak peduli pada sekat-sekat denominasi yang dianggap usang. Mereka haus akan spiritualitas yang autentik dan relevan dengan krisis zaman.
Gereja yang mampu menyajikan spiritualitas ekologis dan aksi bersama lintas iman akan menarik minat mereka. Inilah saatnya gereja meninggalkan zona nyaman dan menjadi agen transformasi sosial-ekologis.
Lensa eko-misional juga menawarkan spiritualitas merawat rumah bersama. Ini adalah spiritualitas yang menyatukan, bukan memisahkan. Ia mengajak kita untuk keluar dari gedung gereja dan melihat karya Allah di alam semesta. Ia mengajak kita untuk tidak hanya menyanyikan "betapa indahnya dunia ini" di dalam gereja, tetapi juga menjaganya tetap indah di luar gereja.
Doa Yesus "agar mereka menjadi satu" tidak boleh dimaknai secara sempit dan eksklusif. Persatuan yang Dia kehendaki adalah persatuan yang merefleksikan harmoni kosmik, di mana Allah, manusia, dan seluruh ciptaan hidup dalam relasi yang saling memberi kehidupan. Dalam menghadapi darurat iklim, panggilan untuk menjadi satu menjadi semakin mendesak. Tidak ada waktu lagi bagi gereja-gereja untuk sibuk bertengkar soal perbedaan doktrin yang bersifat adiafora sementara "rumah" bersama kita sedang terbakar.
Penulis: Jefrie Walean Penyuluh Agama Kristen di Kementrian Agama Kota Palu Dan Dosen di Sekolah Tinggi Bala Keselamatan Palu
Pewarta : Jefrie Walean *)
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
