
Gubernur: Industri pengolahan kontribusi besar bagi ekonomi Sulteng

Palu (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng) Anwar Hafid mengatakan sektor industri pengolahan memiliki kontribusi besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah dengan presentasi 43,43 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Sulteng sangat mengesankan pada triwulan I 2026 yakni 8,32 persen dan industri pengolahan masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah," kata Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid saat menghadiri forum ekonomi keuangan yang dilaksanakan Bank Indonesia di Palu, Kamis.
Ia mengemukakan kekuatan sektor industri pengolahan ditunjang dengan peningkatan produksi nikel yang tumbuh sekitar 15,9 persen, selain itu sektor penunjang lainnya yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 16,19 persen, serta pertambangan dan penggalian sebesar 14,17 persen.
Maka tiga lapangan usaha itu memberikan kontribusi sebesar 73,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Sulteng.
"Saat ini kekuatan ekonomi daerah masih bergantung pada sektor industri pengolahan, ke depan kami melakukan transformasi mengandalkan sektor pertanian dan perikanan, guna menunjang pertumbuhan berkelanjutan," ujarnya.
Menurut gubernur semakin banyak sumber pendapatan daerah asli daerah (PAD), maka pertumbuhan ekonomi daerah semakin kuat dan hingga kini Sulteng masih memiliki kekuatan fiskal.
Guna memperkuat ketahanan ekonomi daerah, gubernur menggagas kerja sama investasi dengan dua daerah di Tiongkok yakni Provinsi Hainan dan Sichuan, khusus bidang pertanian maupun perikanan yang mana penandatanganan nota kesepakatan di jadwalkan pada 17 Mei 2027 di China.
"Industrialisasi pertanian dan perikanan menjadi model pertumbuhan ekonomi baru di Sulteng, karena di dalamnya menyangkut penguatan rantai pasok," ucap Anwar.
Ia menjelaskan dalam menjaga ekonomi daerah supaya tetap tumbuh, maka salah satu langkah dilakukan yakni menjaga inflasi.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) inflasi tahunan (year on year/yoy) Sulawesi Tengah pada Maret 2026 sebesar 2,83 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,03.
"Dari sisi pengeluaran, terutama pengeluaran konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 21,03 persen, diikuti ekspor barang dan jasa sebesar 11,95 persen, " tutur Anwar.
Ia menambahkan, ke depan tantangan ekonomi semakin kompleks di tengah ketidakpastian global, maka investasi perlu diperkuat dan dikembangkan dengan mengandalkan berbagai potensi sumber daya alam (SDA) yang di miliki daerah.
"Kami terus berupaya meningkatkan ketahanan ekonomi daerah melalui kolaborasi lintas sektor, karena ketidakpastian ekonomi global dapat memberikan dampak serius terhadap daerah bila langkah-langkah antisipasi tidak dilakukan," kata dia.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
