Logo Header Antaranews Sulteng

OJK Sulteng dan Hannah Asa perluas edukasi keuangan ke kelompok rentan

Minggu, 10 Mei 2026 15:09 WIB
Image Print
OJK dan Hannah Asa Indonesia melaksanakan kegiatan bootcamp literasi dan inklusi keuangan bagi penyandang disabilitas. ANTARA/HO-Hannah Asa Indonesia

Palu (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah bersama Hannah Asa Indonesia memperluas edukasi keuangan yang inklusif dan praktis, khususnya bagi kelompok rentan dan komunitas penyandang disabilitas.

Kepala OJK Sulawesi Tengah Bonny Hardy Putra di Palu, Minggu, mengatakan pentingnya memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses edukasi keuangan yang setara.

“Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memahami dan mengakses layanan keuangan yang aman, legal dan bermanfaat,” katanya.

Ia mengatakan melalui kolaborasi bersama Hannah Asa Indonesia dalam kegiatan Bootcamp Literasi dan Inklusi Keuangan bertema “Edukasi Keuangan dan Business Matching kepada Komunitas Penyandang Disabilitas Kota Palu”, pihaknya ingin memastikan literasi keuangan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

Pada kesempatan itu, OJK juga melakukan peluncuran dan penyerahan simbolis Buku Saku Pengelolaan Keuangan untuk penyandang disabilitas.

Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi OJK bersama Kementerian Sosial Republik Indonesia, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia sebagai bagian dari penguatan akses literasi keuangan yang ramah disabilitas.

Sementara itu, Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah mengatakan kemandirian finansial bukan hanya berkaitan dengan akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga kemampuan dalam mengelola keuangan secara bijak.

“Mandiri finansial adalah kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, memiliki kontrol atas arus kas, dan mampu mengambil keputusan keuangan secara sadar tanpa tekanan,” ujarnya.

Ia menuturkan berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 dari OJK, tingkat inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen, sementara tingkat literasi keuangan baru sekitar 66,46 persen.

“Artinya, banyak masyarakat sudah memiliki akses keuangan, tetapi belum tentu memahami cara mengelolanya,” katanya.

Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari komunitas penyandang disabilitas, komunitas inklusif, mitra perbankan, serta berbagai pemangku kepentingan sektor jasa keuangan.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi terkait pengelolaan dana darurat dan perlindungan konsumen jasa keuangan, serta pemahaman mengenai investasi legal dan aman di pasar modal bersama Bursa Efek Indonesia Sulawesi Tengah.

Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap literasi keuangan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi menjadi gerakan nyata dalam menciptakan masyarakat yang lebih mandiri, berdaya, dan siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026