Logo Header Antaranews Sulteng

Kemenhut pamerkan produk inovasi ramah lingkungan karya generasi muda

Rabu, 20 Mei 2026 14:07 WIB
Image Print
Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia Semiawan (dua kiri) beserta jajaran didampingi Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Rut Krüger Giverin (tiga kanan) memberikan keterangan pers dalam rangkaian peluncuran film dokumenter "Merawat Esok" di Jakarta, Rabu (20/5/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memamerkan berbagai produk inovasi ramah lingkungan hasil karya generasi muda pelestari hutan dalam rangkaian peluncuran film dokumenter "Merawat Esok" di Jakarta, Rabu.

Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Kementerian Kehutanan Indra Exploitasia Semiawan yang ditemui selepas acara peluncuran film itu, mengatakan bahwa berbagai produk bernilai ekonomi tinggi seperti madu dan kopi hasil binaan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan turut dipamerkan dalam kesempatan tersebut.
"Kiprah dari generasi muda ini cukup signifikan. Selain menyaksikan film inspiratif, kawan-kawan bisa melihat booth yang menampilkan karya-karya inovasi anak-anak muda, ada madu dan juga kopi. Ini membuktikan mereka mampu merawat alam sekaligus memanfaatkannya secara berkelanjutan," kata dia.
Indra menjelaskan karya kreatif tersebut lahir dari tangan para mahasiswa dan pemuda penggerak yang memanfaatkan potensi perhutanan sosial tanpa merusak tegakan pohon. Melalui inovasi ini, generasi muda didorong untuk menjadi motor penggerak ekonomi hijau (green economy) di masa depan.
Kementerian Kehutanan mencatat kontribusi finansial dari program perhutanan sosial telah menembus angka Rp1,08 triliun sejak 2023. Di mana, mayoritas kontribusinya disumbang oleh komoditas bukan kayu, seperti bambu, rotan, madu, rempah-rempah, serta pemanfaatan jasa lingkungan.
Sementara itu, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Rut Krüger Giverin yang turut meninjau langsung pameran tersebut mengaku sangat terkesan dengan kreativitas anak-anak muda Indonesia dalam menciptakan solusi berbasis alam atau nature-based solutions.
"Sangat menginspirasi berada di sini dan melihat peran anak-anak muda menciptakan solusi inovatif melalui agroforestri. Saya telah melakukan banyak percakapan menarik dengan para pelajar yang memproduksi madu, kopi yang lezat, hingga berbagai produk inovatif lainnya," kata dia.
Menurut Giverin, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) lewat sistem agroforestri ini menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia siap menghadapi tantangan perubahan iklim global melalui aksi nyata yang berdampak ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan.
Melalui pameran inovasi ini dia berharap dapat memicu semangat kewirausahaan lingkungan di kalangan generasi muda di seluruh Indonesia guna mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca pada sektor kehutanan dan lahan, sebagaimana komitmen Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net Sink 2030.
Norwegia, menurut dia berkomitmen penuh mendukung target Indonesia FOLU Net Sink hingga 2030. Dalam hal ini, Pemerintah Norwegia telah menyalurkan kontribusi dana berbasis hasil (result-based contribution) senilai 216 juta dolar AS.
Dukungan pendanaan menjadi modal penting untuk aksi sektor kehutanan FOLU Net Sink Indonesia, yang berupaya menekan angka emisi gas rumah kaca dari yang diprediksi sebesar 2,8 miliar ton CO2 ekuivalen pada 2030, menjadi 1,2 miliar ton CO2 ekuivalen.
Adapun strategi utama untuk mencapai target tersebut meliputi penanaman pohon guna meningkatkan cadangan karbon, menjaga kawasan hutan lindung dan taman nasional sebagai stok karbon, serta perlindungan lahan gambut yang memiliki potensi emisi 20 kali lipat lebih tinggi dari tanah biasa.




Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026