Logo Header Antaranews Sulteng

Jejak pengelolaan sampah Vale dari Sorowako menarik perhatian dunia

Kamis, 11 Juni 2026 18:11 WIB
Image Print
Vale saat mengikuti Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta. Foto : ANTARA/HO/ (Dokumentasi Vale)

Jakarta (ANTARA) - Deretan ember berisi sisa makanan yang tertata di depan rumah-rumah karyawan setiap malam mungkin terlihat sederhana. Namun, dari langkah kecil itulah sebuah ekosistem pengelolaan sampah berkelanjutan tumbuh dan kini menjadi salah satu praktik yang diperkenalkan PT Vale Indonesia Tbk kepada publik internasional dalam Indonesia International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta.

Di tengah berbagai inovasi teknologi lingkungan yang dipamerkan dalam ajang yang berlangsung pada 11–13 Juni 2026 tersebut, PT Vale membawa cerita dari Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Sebuah kisah tentang bagaimana sampah rumah tangga yang kerap dianggap persoalan justru dapat menjadi sumber manfaat ekonomi dan lingkungan.

Melalui booth bersama MIND ID dan anggota holding lainnya, perusahaan tambang nikel itu memperlihatkan praktik pengelolaan sampah yang telah berjalan di kawasan operasionalnya. Bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan sistem yang telah diterapkan dan melibatkan masyarakat, karyawan, hingga pemerintah daerah.

Salah satu program yang menarik perhatian adalah "Emberisasi", yakni gerakan pemilahan sampah organik langsung dari rumah tangga. Program yang diluncurkan pada Desember 2024 itu diawali dengan melibatkan 100 rumah karyawan di Perumahan Pontada, Sorowako.

Setiap malam, warga meletakkan ember berisi sisa makanan dan sampah organik di depan rumah. Keesokan harinya, tim pengelola mengumpulkan sampah tersebut untuk diproses lebih lanjut.

Dari program sederhana itu, rata-rata 100 kilogram sampah organik berhasil dikumpulkan setiap hari. Jumlah yang sebelumnya berpotensi berakhir di tempat pembuangan, kini menjadi bahan baku berbagai proses pengolahan yang bernilai.

Sampah yang terkumpul kemudian dibawa ke fasilitas pemilahan atau Segregation Plant yang mampu menangani 12 hingga 15 ton sampah organik dan anorganik setiap hari.

Di fasilitas tersebut, sebagian sampah organik diolah menjadi kompos. Sebanyak 500 hingga 700 kilogram per hari dapat diproses menjadi pupuk yang kembali dimanfaatkan untuk mendukung penghijauan dan pertanian.

Sementara itu, sebagian lainnya diberikan kepada larva lalat Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih dikenal sebagai maggot. Serangga kecil ini menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah karena mampu mengurai limbah organik secara cepat dan efisien.

Ketika maggot mencapai ukuran dewasa, hasilnya tidak berhenti sebagai limbah baru. Maggot kemudian dimanfaatkan sebagai pakan ikan, menciptakan siklus ekonomi sirkular yang mengubah sampah menjadi sumber daya produktif.

Tidak hanya sampah organik, material anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi seperti plastik, botol kaca, dan besi bekas juga dipilah dan disalurkan kepada bank sampah maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Dalam setahun, sekitar empat ton sampah terpilah didonasikan kepada berbagai pihak yang dapat memanfaatkannya kembali.

Untuk memastikan seluruh sistem berjalan berkelanjutan, perusahaan mengalokasikan anggaran lebih dari Rp700 juta setiap tahun untuk mendukung pengelolaan sampah terpadu tersebut.

Presiden Direktur PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan apa yang ditampilkan perusahaan di Jakarta merupakan gambaran nyata dari praktik yang telah berjalan di Sorowako selama bertahun-tahun.

"Yang kami bawa ke Jakarta bukan sekadar konsep. Ini adalah apa yang nyata terjadi di Sorowako. Dari rumah karyawan, ke fasilitas pengomposan, hingga warung yang memasak menggunakan gas dari sampah. Kami percaya bahwa perusahaan tambang bisa dan harus menjadi bagian dari solusi lingkungan," katanya.

Bagi PT Vale, pengelolaan sampah bukan hanya tentang mengurangi volume limbah, tetapi juga membangun kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perusahaan mendukung ekonomi sirkular, yaitu sistem yang menempatkan sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali, bukan sekadar dibuang.

Ke depan, program Emberisasi yang saat ini diterapkan di lingkungan karyawan direncanakan diperluas kepada masyarakat sekitar Sorowako sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

Langkah itu sejalan dengan komitmen perusahaan untuk mencapai target nol sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) pada tahun 2050.

Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap perubahan iklim dan pengelolaan lingkungan, pengalaman Sorowako menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Kadang, perubahan besar justru berawal dari kebiasaan sederhana di rumah tangga—seperti memisahkan sisa makanan ke dalam sebuah ember.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026