Logo Header Antaranews Sulteng

Morowali gencarkan operasi pasar atasi kelangkaan LPG 3 kg

Sabtu, 13 Juni 2026 15:14 WIB
Image Print
Warga mengantre untuk mendapatkan tabung gas LPG 3 kg dalam operasi pasar di Morowali. ANTARA/HO-Dokumentasi Pemda Morowali

Morowali, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menggencarkan operasi pasar dan pasar murah untuk mengatasi kelangkaan tabung LPG 3 kilogram (kg) di daerahnya.

“Kenapa gas sekarang langka dan mahal, karena kuota di Morowali memang kurang. Kedua, Morowali menjadi sasaran kerja sehingga terjadi ledakan penduduk yang membuat kebutuhan gas semakin meningkat,” kata Staf Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah Morowali, Hendra di Morowali, Sabtu.

Menurut dia, kuota LPG subsidi yang dialokasikan untuk Kabupaten Morowali saat ini belum mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan masyarakat akibat pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang.

Oleh karena itu, Pemkab Morowali bersama Pertamina melaksanakan operasi pasar LPG subsidi di sejumlah kecamatan, antara lain Bungku Tengah, Bahodopi, Bungku Pesisir, dan di Bungku Barat.

Operasi pasar di Bungku Barat menyediakan sekitar 560 tabung LPG subsidi, Bungku Tengah dengan 150 tabung, Bahodopi 770 tabung, dan Bungku Pesisir sebanyak 200 tabung.

Selain operasi pasar, pemerintah juga menggelar pasar murah yang menyediakan LPG non-subsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg dengan harga lebih rendah dibandingkan harga di tingkat pengecer.

Menurut Hendra, dalam program pasar murah tersebut LPG 5,5 kg dijual seharga Rp145 ribu per tabung, sementara harga di tingkat pengecer dapat mencapai Rp170 ribu. Adapun isi ulang LPG 12 kilogram dijual Rp260 ribu, lebih rendah dibandingkan harga di tingkat pengecer yang mencapai sekitar Rp300 ribu.

Ia mengatakan program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong masyarakat yang tidak berhak menerima subsidi agar beralih menggunakan LPG non-subsidi.

“Masih banyak masyarakat yang tidak berhak menerima gas melon, tetapi masih menggunakannya. Itu yang coba kami alihkan ke gas 5,5 kilogram,” ujarnya.

Ia menjelaskan masyarakat yang ingin membeli LPG melalui operasi pasar diwajibkan menunjukkan KTP Kabupaten Morowali sesuai lokasi pelaksanaan kegiatan, membawa tabung kosong untuk ditukar, serta menyiapkan pembayaran sesuai harga eceran tertinggi (HET).

Untuk solusi jangka panjang, Pemkab Morowali sedang melakukan pendataan dan penyusunan basis data penerima subsidi yang akan diajukan kepada Pertamina. Data tersebut nantinya menjadi dasar penyaluran LPG subsidi berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), sehingga bantuan dapat tepat sasaran kepada masyarakat yang benar-benar berhak menerima.

Hendra menambahkan persoalan kebutuhan LPG bagi warga non-KTP Morowali hanya dapat diatasi melalui penambahan kuota dari pemerintah pusat. Namun selama kuota belum bertambah, masyarakat yang mampu diharapkan beralih menggunakan LPG non-subsidi agar ketersediaan gas melon dapat diprioritaskan bagi warga yang berhak menerima subsidi.

“Kalau kuotanya belum ditambah, ada baiknya masyarakat yang mampu menggunakan gas 5,5 kg. Sebab untuk warga ber-KTP Morowali saja, kuota gas LPG 3 kg yang ada saat ini masih belum mencukupi,” katanya.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026