Logo Header Antaranews Sulteng

Ekonomi Sulteng masih akan tumbuh tinggi pada 2026

Selasa, 7 Juli 2026 20:03 WIB
Image Print
Kepala KPwBI Sulawesi Tengah Irfan Sukarna menyampaikan pernyataan kepada sejumlah pewarta terkait program Serambi selama Ramadhan dan Induk Fitri 1447 Hijriah/2026 di Sulawesi Tengah. ANTARA/Moh Ridwan

Palu (ANTARA) - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah (Sulteng) menyebutkan perekonomian Sulawesi Tengah masih akan tumbuh tinggi di kisaran 7,75 hingga 8,55 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada tahun 2026.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna di Palu, Selasa, mengatakan pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih akan tumbuh positif didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan sebagai lapangan usaha utama Sulteng.

“Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada 2026 diprakirakan tetap tumbuh tinggi dalam rentang 7,75 hingga 8,55 persen (yoy),” katanya.

Meski demikian, ia menjelaskan di tengah prospek pertumbuhan yang positif, terdapat sejumlah risiko yang harus menjadi perhatian.

Dari sisi domestik, kata dia, pembatasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bijih nikel berpotensi membatasi pasokan bahan baku industri pengolahan.

Selain itu, moratorium smelter kelas I menyebabkan penambahan kapasitas produksi nickel pig iron (NPI) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) relatif terbatas.

Implementasi formula baru Harga Patokan Mineral (HPM) juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku industri nikel.

Sementara dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik global berisiko mengganggu pasokan sulfur dan meningkatkan ongkos produksi industri berbasis MHP.

Ia menyebutkan risiko cuaca juga perlu menjadi perhatian, khususnya potensi El Nino yang dapat menekan produksi sektor pertanian, perkebunan dan perikanan di Sulawesi Tengah.

Sementara itu, perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan I 2026 tumbuh 8,32 persen yoy, meskipun melambat dibandingkan triwulan IV 2025 yang tumbuh 9,43 persen (yoy).

Ia mengatakan capaian tersebut menempatkan Sulawesi Tengah sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga secara nasional, yang terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan.

Selain pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia memprakirakan inflasi Sulawesi Tengah pada 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen didukung oleh penguatan upaya pengendalian inflasi serta terjaganya stabilitas pasokan.

“Inflasi Sulawesi Tengah pada 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen (yoy), didukung oleh penguatan upaya pengendalian inflasi serta terjaganya stabilitas pasokan,” ujarnya.

Sebelumnya, Sulawesi Tengah mencatat inflasi sebesar 3,31 persen (yoy) sepanjang 2025. Meski demikian, kata dia, tekanan inflasi masih perlu diwaspadai seiring potensi dampak El Nino, fragmentasi geopolitik global, kenaikan harga energi dan biaya distribusi, serta dinamika pasokan pangan.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026