Logo Header Antaranews Sulteng

Iran sebut Trump lebih memahami "bahasa kekerasan"

Kamis, 9 Juli 2026 08:07 WIB
Image Print
Ribuan pelayat menghadiri upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei di Masjid Imam Khomeini Mosalla di Teheran, Iran, pada 4 Juli 2026. Khamenei meninggal dunia dalam serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Bendera Iran terlihat selama upacara tersebut. ANTARA/Fatemeh Bahrami - Anadolu Agency /pri. (ANTARA/Fatemeh Bahrami - Anadolu Agency/pri.)

Istanbul (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump tampaknya lebih memahami “bahasa kekerasan”, setelah ia mengancam akan melancarkan serangan lanjutan ke Teheran.

Pernyataan Trump yang menghina bangsa Iran hingga mengancam melakukan serangan lebih lanjut bukanlah "tanda kekuatan, tetapi pengakuan atas kegagalan kebijakan yang selama bertahun-tahun dibangun di atas kekerasan, sanksi, dan ancaman,” tulis Gharibabadi di X, Rabu (8/7).

Ia pun menegaskan bahwa kebijakan Trump "gagal membuat bangsa Iran bertekuk lutut."

"Dengan Trump yang kriminal dan kejam, kita harus berbicara dalam bahasanya sendiri. Tampaknya, ia lebih memahami bahasa kekerasan,” kata Gharibabadi.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS mungkin akan kembali menyerang Iran pada Rabu malam, menyusul serangan AS semalam sebagai balasan atas serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.

"Kita telah menyerang mereka dengan sangat keras tadi malam, sangat, sangat keras. Mungkin akan menyerang mereka dengan keras lagi malam ini. Saya akan memberi mereka sedikit peringatan. Kita akan menyerang mereka dengan keras malam ini," kata Trump di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki.

"Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mereka sampah," ujar Presiden AS itu.

Trump juga mengatakan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu dengan Iran untuk mengakhiri konflik telah "berakhir."

Sumber: Anadolu



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026