Logo Header Antaranews Sulteng

Menjaga anyaman Teduhu tetap hidup

Jumat, 10 Juli 2026 09:21 WIB
Image Print
Menjaga anyaman Teduhu tetap hidup. Foto dokumentasi PT Vale

Kabupaten Kolaka (ANTARA) - Di tangan Yulianti, lembaran serat teduhu yang berasal dari pakis hutan perlahan berubah menjadi tas, kotak tisu, hingga berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi. Anyaman yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Nuha, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, itu kini tak lagi sekadar menjadi simbol tradisi, tetapi juga membuka harapan baru bagi pengrajin lokal untuk menembus pasar yang lebih luas.

‎Harapan itu menguat saat produk anyaman teduhu tampil dalam ajang Pendampingan Kewirausahaan dan Pengembangan Produk Kerajinan Khas Daerah bagi UMKM Wilayah Sekitar Tambang dan Hulu Migas, yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan HUT Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ke-46 di Makassar, 9–11 Juli 2026.

‎Keikutsertaan pengrajin teduhu dalam pameran tersebut merupakan hasil pembinaan PT Vale Indonesia Tbk melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), yang menjadikan pelestarian budaya lokal berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat.

‎Bagi PT Vale, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan produk yang telah ada. Regenerasi pengrajin menjadi langkah penting agar keterampilan menganyam tidak berhenti pada satu generasi.

‎Head of External Relation Sorowako and Outer Area PT Vale, Yusri Yunus, mengatakan perusahaan kini membina generasi kedua pengrajin yang berusia 16 hingga 23 tahun untuk melanjutkan keahlian para perajin senior.

‎"Prinsip kami adalah tumbuh bersama masyarakat. Kami ingin memastikan produk lokal seperti teduhu memiliki daya saing tinggi sekaligus tradisinya tetap lestari. Karena itu kami memberikan pendampingan mulai dari bahan baku berkelanjutan, inovasi teknik menganyam, perlindungan hak kekayaan intelektual, penguatan manajemen usaha hingga membuka akses pasar," katanya.

‎Saat ini PT Vale membina dua komunitas pengrajin, yakni Komunitas Teduhu di Desa Nuha yang mengolah serat pakis hutan dan Komunitas Sampa Konao di Desa Matano yang memanfaatkan pelepah pohon aren sebagai bahan baku kerajinan. Produk-produk tersebut juga telah menjadi suvenir resmi perusahaan dan dipasarkan melalui jaringan hotel maupun galeri.

‎Bagi Yulianti, dukungan tersebut membawa perubahan besar bagi para pengrajin di desanya. Tradisi menganyam yang telah dikenal sejak 1970-an kini berkembang menjadi berbagai produk dengan desain yang lebih modern tanpa meninggalkan identitas lokalnya.

‎"Bersama PT Vale, kami bisa mengembangkan produk dari kotak tisu hingga tas modern. Kami juga mengajak anak-anak muda untuk ikut belajar menganyam agar tradisi ini tidak punah. Kesempatan mengikuti Dekranas menjadi peluang besar untuk memperkenalkan teduhu kepada pasar yang lebih luas," ujarnya.

‎Kehadiran anyaman teduhu di ajang Dekranas pun mendapat perhatian dari Ketua Harian Dekranas Tri Tito Karnavian bersama Wakil Ketua II Dekranas Sri Suparni Bahlil Lahadalia yang menyempatkan mengunjungi stan PT Vale.

‎Sri Suparni mengapresiasi semangat para pengrajin muda yang dinilai mampu menjaga warisan budaya sekaligus mengembangkannya menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

‎Menurut dia, pembinaan yang dilakukan perusahaan telah melahirkan generasi baru pengrajin yang siap bersaing dan terus meningkatkan kualitas produknya melalui berbagai pelatihan.

‎Bagi PT Vale, pelestarian anyaman teduhu bukan sekadar menjaga sebuah kerajinan tradisional. Lebih dari itu, upaya tersebut merupakan investasi sosial untuk memastikan budaya lokal tetap hidup, memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta menjadi bagian dari pembangunan berkelanjutan di wilayah sekitar operasional perusahaan.

‎Dari Desa Nuha hingga panggung nasional Dekranas, anyaman teduhu membuktikan bahwa tradisi dapat terus bertahan ketika diwariskan kepada generasi berikutnya dan didukung melalui kolaborasi yang berkelanjutan.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026