Logo Header Antaranews Sulteng

Impor kendaraan udara melonjak 594 persen hingga Juli 2026

Kamis, 3 September 2026 13:39 WIB
Image Print
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memberikan keterangan media di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (2/9/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut impor kendaraan udara dan bagiannya melonjak 594,46 persen pada periode Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Dalam keterangan di Jakarta, Kamis, Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi di antara komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan impor.
"Peningkatan impor nonmigas terbesar pada Januari-Juli 2026 terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya yang naik 594,46 persen; garam, belerang, batu dan semen naik 125,15 persen; serta bijih logam, terak, dan abu naik 66,01 persen," kata Budi.
Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia pada Januari-Juli 2026 mencapai 163,33 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau meningkat 19,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari total tersebut, impor nonmigas mencapai 137,56 miliar dolar AS atau tumbuh 16,78 persen, sedangkan impor migas mencapai 25,77 miliar dolar AS atau meningkat 40,24 persen.
Khusus pada Juli 2026, sejumlah komoditas juga mencatat lonjakan impor nonmigas secara bulanan. Impor serealia meningkat 78,38 persen dibandingkan Juni 2026, diikuti garam, belerang, batu dan semen sebesar 64,53 persen serta ampas dan sisa industri makanan sebesar 31,88 persen.
Kenaikan impor tersebut turut mendorong nilai impor Indonesia pada Juli 2026 menjadi 26,09 miliar dolar AS, naik 0,72 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 27,02 persen dibandingkan Juli 2025.
Kenaikan impor Juli terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 4,57 persen secara bulanan menjadi 22,33 miliar dolar AS. Sementara itu, impor migas justru turun 17,33 persen menjadi 3,77 miliar dolar AS.
Budi mengatakan komposisi impor Indonesia perlu dilihat berdasarkan jenis dan penggunaannya, karena sebagian besar impor merupakan barang yang dibutuhkan untuk kegiatan produksi dan investasi dalam negeri.
"Komposisi impor sebagian besar berasal dari bahan baku dan penolong serta barang modal yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan produksi dan investasi di dalam negeri. Oleh karena itu, perkembangan impor perlu dilihat secara proporsional berdasarkan jenis dan penggunaannya," kata Budi.
Berdasarkan golongan penggunaan barang, bahan baku dan penolong menjadi komponen terbesar impor sepanjang Januari-Juli 2026 dengan pangsa 71,45 persen dari total impor.
Selanjutnya, barang modal menyumbang 19,88 persen dan barang konsumsi sebesar 8,67 persen. Dengan demikian, bahan baku dan penolong serta barang modal secara keseluruhan mencapai 91,33 persen dari total impor Indonesia.
Dari sisi pertumbuhan, impor bahan baku dan penolong meningkat 20,42 persen, barang modal tumbuh 20 persen, sedangkan barang konsumsi naik 16,03 persen dibandingkan Januari-Juli 2025.
Berdasarkan negara asal, China masih menjadi pemasok impor nonmigas terbesar Indonesia dengan pangsa 42,38 persen. Sementara dari sisi pertumbuhan, impor nonmigas dari Prancis melonjak 168,36 persen, Argentina 70,57 persen, dan Federasi Rusia 70,41 persen.
Budi menegaskan pemerintah akan tetap menjaga keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan produksi dalam negeri dan penguatan ekspor. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan daya saing produk, pengembangan nilai tambah, serta perluasan dan diversifikasi pasar ekspor.
"Pemerintah akan terus menjaga keseimbangan antara penguatan perdagangan dalam negeri dan peningkatan ekspor, sehingga kinerja perdagangan Indonesia tetap tumbuh dan berkelanjutan," ujar Budi.



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026