
Mengenang satu windu gempa Palu, membentuk karakter 6R masyarakat Kota Palu: resilient, robust, resourceful, redundant, rapid, dan resolute

Palu, Sulteng (ANTARA) - Senja di Lembah Palu tidak akan pernah terasa sama setelah tanggal 28 September 2018. Kini, pada September 2026, tepat satu windu (delapan tahun) berlalu sejak bumi Kaili berguncang hebat, laut mengamuk, dan tanah menelan apa saja yang ada di atasnya. Peringatan satu windu ini bukan sekadar momen untuk memanggil kembali memori duka yang menguras air mata, melainkan sebuah titik refleksi historis. Kita menengok ke belakang untuk menghormati mereka yang telah berpulang, dan menatap ke depan untuk melihat seberapa jauh kita telah melangkah. Di atas puing-puing kehancuran masa lalu, Kota Palu tidak mati. Masyarakatnya justru berevolusi membentuk karakter baru yang menjadi fondasi masa depan: Resilient, Robust, Resourceful, Redundant, Rapid, dan Resolute (6R).
Tragedi gempa, tsunami, dan likuifaksi Jumat kelabu delapan tahun silam itu bermula dari patahan sesar Palu-Koro yang melepaskan energi raksasa dalam bentuk gempa bumi bermagnitudo 7,4 M. Guncangan keras yang berlangsung selama beberapa detik itu memicu kepanikan luar biasa. Namun, itu barulah permulaan. Kondisi geometri Teluk Palu yang menyempit dan dalam mendorong peningkatan tinggi gelombang yang drastis di pantai, menciptakan tsunami setinggi hingga lima meter yang menyapu pesisir Teluk Palu hingga Donggala.
Di saat yang bersamaan, fenomena geologis yang kala itu masih asing di telinga masyarakat awam yaitu likuifaksi terjadi di beberapa lokasi. Di Balaroa, Petobo, dan Jono Oge, tanah kehilangan kekuatan gesernya akibat guncangan gempa dan saturasi air, mengubah daratan padat menjadi lumpur hisap yang bergerak bergulung-gulung. Ribuan rumah, fasilitas umum, dan manusia tertelan ke dalam perut bumi. Kejadian langka bencana gempa, tsunami, likuifaksi secara bersamaan mencatatkan Palu dalam sejarah kelam kebencanaan dunia.
Dampak dari bencana ini sangat luar biasa, yang secara nyata melumpuhkan kondisi daerah Palu, Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat 2.256 orang warga meninggal dunia, 1.309 orang menghilang, 4.612 orang mengalami luka berat, dan sebanyak 223.751 warga harus mengungsi. Kerugian material ditaksir mencapai lebih dari Rp 18,48 triliun dengan infrastruktur kota yang lumpuh total. Bencana tersebut terbukti membuat seluruh sarana dan prasarana seperti bangunan, jalan, dan jembatan menjadi rusak dan hancur, jaringan listrik dan komunikasi terputus, dan fasilitas layanan kesehatan kolaps di saat korban luka membeludak. Tercatat secara spesifik bangunan yang terdampak mencakup 68.451 rumah rusak, 265 sekolah rusak, 327 rumah ibadah rusak, dan 45 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan.
Pada minggu-minggu pertama pascalindu, kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat berada di titik terendah. Sanitasi buruk di tenda-tenda pengungsian memicu ancaman wabah penyakit. Di luar penderitaan fisik, kesehatan mental masyarakat hancur. Sindrom trauma pascabencana, rasa kehilangan, dan keputusasaan menyelimuti langit Palu. Warga yang tersisa harus bertahan di tengah bayang-bayang kelaparan, ketakutan akan gempa susulan, dan ratapan kehilangan sanak saudara.
Meskipun sempat luluh lantak, layaknya pepatah "badai pasti berlalu," masa pemulihan melalui tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi perlahan mulai berjalan. Solidaritas dan bantuan kemanusiaan dari berbagai penjuru nusantara hingga dunia internasional mengalir deras, membawa harapan baru bagi para korban. Secara bertahap, denyut nadi kehidupan dan perekonomian kota pun kembali berdetak. Pemerintah dan lembaga non-pemerintah memetakan kembali Zona Rawan Bencana (ZRB) yang tidak boleh lagi didirikan bangunan (zona merah). Warga yang kehilangan tempat tinggal perlahan direlokasi ke kawasan Hunian Tetap (Huntap) seperti di Tondo dan Duyu, yang secara geologis dinilai lebih aman. Adaptasi kebencanaan menjadi napas baru kota ini. Infrastruktur mulai dibangun kembali dengan standar Build Back Better and Safer (Membangun Kembali dengan Lebih Baik dan Aman). Tanggul pelindung pantai dibangun untuk memecah energi tsunami, rumah sakit, sekolah dan infrastruktur lainnya dikonstruksi ulang dengan struktur tahan gempa, dan kesadaran lingkungan mulai dipupuk kembali.
Satu windu proses pemulihan pascabencana secara perlahan namun pasti telah menempa mentalitas dan karakter masyarakat Kota Palu. Pengalaman melewati krisis besar kini melahirkan identitas baru bagi masyarakat yang hidup di atas zona patahan aktif. Berdasarkan perpaduan antara ketangguhan mental warga dan prinsip manajemen risiko bencana yang komprehensif, karakter masyarakat Palu kini berevolusi dan terangkum dalam filosofi 6R:
Resilient (tangguh secara mental dan psikologis) Masyarakat Palu membuktikan diri sebagai masyarakat yang tangguh, mampu kembali bangkit akibat tekanan dan krisis pascabencana. Trauma masa lalu tidak dibiarkan menjadi belenggu, melainkan diubah menjadi kewaspadaan mawas diri. Melalui berbagai program pendampingan psikososial dan edukasi, trauma kolektif perlahan disembuhkan. Warga Palu tidak lagi menyangkal realitas geografis, melainkan menerimanya dengan memegang prinsip Build Back Better (Membangun Kembali Lebih Baik). Pemerintah dan Masyarakat memperkuat kelembagaan dan komunitas untuk melakukan persiapan dan perencanaan menghadapi ketidakpastian alam.
Robust (kuat dan kokoh) masyarakat kini memandang infrastruktur fisik dan tata ruang. Masyarakat dan perencana kota kini menuntut kekokohan struktural. Kepatuhan terhadap zonasi mitigasi (menghindari zona merah likuifaksi dan tsunami) serta standar kelayakan bangunan tahan gempa mulai ditegakkan melalui pendampingan dan pengawasan. Infrastruktur pelindung dan ketangguhan fisik kota kini menjadi benteng utama pelindung kehidupan. Penguatan struktural ini meminimalisasi risiko kerusakan masif dan menjamin keselamatan warga.
Resourceful (cerdik, kreatif, dan mengoptimalkan sumber daya) Keterbatasan pascabencana memaksa masyarakat mengelola kapasitas sumber dayanya secara maksimal. Masyarakat lokal kembali bangkit dengan inovasi baru, memanfaatkan sumber daya lokal untuk memutar roda ekonomi kota. Lebih dari itu, kearifan lokal masa lalu digali kembali sebagai panduan mitigasi, seperti struktur rumah tradisional atau kesadaran menanam kembali mangrove (bakau) sebagai perisai pesisir alami. Masyarakat belajar mandiri, siap dengan tas siaga bencana di rumah, dan tahu bagaimana memobilisasi sumber daya di sekitar mereka tanpa harus selalu menunggu bantuan luar.
Redundant (berlapis dan sistem cadangan) Masyarakat Palu kini menyadari pentingnya tidak bergantung pada satu sistem tunggal yang rentan putus saat krisis. Karakter Redundant (berlapis) diterapkan baik secara fisik maupun sosial. Secara fisik, warga mulai memikirkan jalur evakuasi alternatif jika rute utama terputus, serta sistem cadangan untuk kebutuhan dasar seperti air dan penerangan darurat. Secara sosial, jaring pengaman gotong-royong dan solidaritas antarwarga menjadi "sistem cadangan" yang sangat bisa diandalkan ketika layanan formal pemerintah sedang kewalahan di jam-jam pertama bencana.
Rapid (cepat tanggap dan sigap beraksi) Bencana mengajarkan bahwa waktu adalah nyawa. Karakter Rapid tercermin dari kecepatan warga dalam merespons ancaman dan memulihkan kondisi. Sistem peringatan dini (early warning system) tidak hanya dirawat secara teknologi, tetapi juga direspons dengan evakuasi mandiri yang cepat dan terukur oleh warga. Selain kecepatan menyelamatkan diri, kecepatan (rapidity) ini juga terlihat dari kelincahan masyarakat Palu dalam membersihkan puing, mendirikan fasilitas darurat komunal, dan menghidupkan kembali pasar-pasar tradisional sesegera mungkin agar kehidupan kota tidak lumpuh terlalu lama.
Resolute (teguh, bertekad kuat, dan pantang menyerah) Lebih dari sekadar memulihkan infrastruktur, warga Palu memiliki keteguhan hati dan tekad untuk tidak menyerah pada nasib. Ada komitmen kolektif yang tak tergoyahkan untuk terus menjadikan Palu sebagai kota yang layak huni, seberat apa pun tantangan geologisnya. Keteguhan ini diwariskan kepada anak-anak muda, membentuk generasi yang tidak melarikan diri dari tanah kelahirannya, melainkan bertekad menjaganya. Mereka menjadi agen-agen mitigasi yang vokal mengedukasi lingkungan sekitarnya, memastikan bahwa tragedi masa lalu menjadi guru terbaik untuk masa depan.
Memasuki dekade kedua pascabencana, visi ke depan Kota Palu haruslah menjadi rujukan kota tangguh bencana (Disaster-Resilient City) di tingkat global. Rencana tata ruang kota tidak boleh lagi berkompromi dengan kepentingan ekonomi jangka pendek yang mengorbankan keselamatan. Program peningkatan kapasitas pemahaman terhadap bencana diharapkan mampu mengintegrasikan kurikulum pendidikan kebencanaan secara wajib di seluruh sekolah dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi, menjadikan mitigasi sebagai budaya sehari-hari, bukan sekadar teori di atas kertas. Selain itu, pembangunan ekonomi kota harus berbasis ekonomi hijau yang berdamai dengan alam. Kita memimpikan Palu yang maju, modern, namun memiliki alarm alami yang menyatu dalam sanubari setiap warganya.
Peringatan satu windu gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi 28 September 2018 adalah sebuah monumen ingatan. Air mata mungkin telah mengering, luka fisik mungkin telah pulih, namun kewaspadaan tidak boleh luntur. Kepada ribuan nyawa yang terenggut delapan tahun lalu, kita kirimkan doa terbaik; dan sebagai penghormatan tertinggi kepada mereka, kita berjanji untuk terus merawat bumi Kaili ini dengan karakter Resilient, Robust, Resourceful, Redundant, Rapid, dan Resolute. Palu bangkit, Palu kuat, dan Palu akan terus melangkah ke depan.
Penulis adalah Andi Rusdin Dosen Teknik Sipil, Universitas Tadulako.
Oleh Andi Rusdin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
