
Mendengar ingatan bahagia Daiki akan Jakarta di Nagoya

Nagoya, Jepang (ANTARA) - Ajang Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober mengusung slogan "IMAGINE ONE ASIA. Koko de, Hitotsu ni". Kalimat kedua, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, berarti "Di sini, menjadi satu".
Slogan tersebut menjadi representasi pelaksanaan Asian Games yang mempertemukan dan membaurkan beragam negara, budaya, serta semangat dalam agenda kompetisi olahraga terbesar di Asia itu.
Banyak hal menarik dan unik dapat ditemukan selama Asian Games, mulai dari yang kasat mata hingga cerita-cerita yang hanya dapat disampaikan melalui tutur kata. Cerita itu hadir dari orang-orang yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan Asian Games 2026.
Salah satunya adalah Nishida Daiki. Pria berusia 19 tahun itu menjadi bagian dari orang-orang yang ikut meramaikan pelaksanaan Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Daiki datang ke Nagoya sebagai jurnalis paruh waktu untuk Kantor Berita Jepang Kyodo. Ia datang bukan sebagai warga Kota Nagoya ataupun Prefektur Aichi.
Daiki berdomisili di Osaka, salah satu kota pariwisata yang termasyhur di Jepang. Namun, di tengah libur semester, ia memutuskan bergabung dengan Kyodo.
Keputusan yang diambilnya tersebut ternyata bertepatan dengan pelaksanaan Asian Games 2026 di Nagoya.
Berkat pengalamannya tinggal di Indonesia dan kemampuannya memahami Bahasa Indonesia, Daiki mendapat penugasan khusus untuk mengawal perjalanan sejumlah cabang olahraga andalan Kontingen Merah Putih.
Begitu Asian Games rampung, Daiki akan kembali ke Osaka untuk melanjutkan perkuliahannya. Masa liburnya pun berakhir bersamaan dengan selesainya pesta olahraga tersebut.
"Iya, saya masih bisa mengerti Bahasa Indonesia sedikit-sedikit. Tolong bantu saya ya untuk diterjemahkan kalau tidak bisa," ungkap Daiki saat ditemui di Kota Ichinomiya, Aichi, Jepang.
Sekolah di Indonesia
Saat ini Daiki merupakan mahasiswa tahun kedua jurusan Hubungan Internasional di Kwansei Gakuin University, Hyogo. Pilihan bidang keilmuan tersebut turut dipengaruhi pengalamannya tinggal di luar negeri.
Satu-satunya pengalaman tinggal di luar negeri yang pernah dijalaninya adalah di Jakarta, ketika ia sekeluarga diboyong sang ayah untuk ikut merantau ke ibu kota Indonesia.
Indonesia menjadi negara yang pernah ia tinggali selama kurang lebih lima tahun. Di sana, Daiki menghabiskan masa perantauannya sebagai siswa sekolah dasar di Jakarta Japanese School (JJS), yang berlokasi di Pondok Aren, Tangerang.
Namun, ia sedikit menyayangkan masa sekolahnya di Jakarta. Bukan karena pengalaman tersebut tidak menyenangkan atau bermasalah, melainkan karena periode pendidikannya tidak berlangsung utuh.
Daiki menuturkan, kepindahannya dari Osaka ke Jakarta terjadi karena mengikuti orang tuanya. Ayahnya merupakan salah satu petinggi perusahaan ekspedisi yang sedang melakukan ekspansi ke Indonesia.
Setibanya di Indonesia, Daiki langsung masuk kelas dua SD. Banyak pengalaman menyenangkan yang ia rasakan selama bersekolah di sana.
Sayangnya, belum sempat menuntaskan pendidikan hingga perayaan kelulusan, Daiki sudah harus kembali ke Jepang. Itulah sebabnya ia menyebut keputusan tersebut cukup disayangkan.
"Padahal sebentar lagi lulus, tapi saya harus kembali ke Jepang. Jadi di sana hanya kelas enam, tapi tidak sampai lulus, sayang sekali ya," kata Daiki dengan logat Bahasa Indonesianya yang masih terbata-bata.
Ingin kembali
Daiki tidak menampik bahwa ada keinginan dia untuk kembali ke Indonesia. Baginya, pengalaman tinggal di Indonesia menjadi bagian dari perjalanan hidup yang tidak akan terlupakan.
Di Jakarta, ia memiliki banyak teman baru. Bukan hanya sesama nihonjin atau orang Jepang, tetapi juga orang-orang Indonesia.
Ia menuturkan, perkenalannya dengan orang-orang lokal di Indonesia bukan terjadi di sekolah, melainkan di lapangan bisbol.
Bisbol, atau yaky dalam Bahasa Jepang, merupakan salah satu olahraga favorit di negara tersebut. Daiki adalah pecinta bisbol dan melampiaskan hobinya dengan bergabung bersama perkumpulan bisbol di Jakarta.
Dari lapangan bisbol di Senayan, ia tidak hanya mencetak angka dan menyalurkan hobi, tetapi juga membangun relasi baru yang memperkenalkannya pada budaya lokal, mulai dari bahasa hingga kebiasaan sosial.
Lima tahun di Indonesia juga memberinya kesempatan menjelajah berbagai lokasi. Sejumlah tempat wisata di Jakarta, Puncak, Cianjur, hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat, pernah ia sambangi.
Belum lagi jika berbicara soal kuliner lokal. Daiki tahu betul makanan yang menurutnya enak di Jakarta. Nasi goreng hingga bakso menjadi kuliner favoritnya untuk mengisi perut.
Ia bahkan masih mengingat buah-buahan yang hanya ditemuinya di Indonesia. Menurutnya, buah di Indonesia memiliki banyak jenis dan rasanya lebih enak dibandingkan buah-buahan serupa di Jepang. Selain itu, buah-buahan tersebut juga lebih mudah dan murah untuk didapatkan.
Ia menceritakan bahwa pada tahun depan terdapat peluang baginya untuk kembali ke Jakarta.
Perkumpulan bisbol yang pernah diikutinya dahulu berencana kembali berkumpul dan menggelar pertandingan kecil-kecilan di Senayan.
Mendengar kabar tersebut, Daiki sangat antusias dan berhasrat untuk kembali menjejakkan kaki di Indonesia.
"Nanti rencananya bulan Januari, semoga saya bisa ada waktu ke sana. Di Jakarta saya juga mau makan nasi goreng, enak sekali. Bakso juga enak, ingin makan lagi," tuturnya penuh semangat.
Pewarta : Roy Rosa Bachtiar
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
