Perwakilan Kedubes Jerman kunjungi situs Megalit Poso

id situs megalit

Perwakilan Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, David Tantow bersama Direktur Program di Deutsche Gesellschaft f?r Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Georg Buchholz dalam kungjungannya ke Sulawesi Tengah mengatakan sangat kagum melihat situs megalit di Dataran Napu, Kabupaten Poso. (Foto Antara/Anas Masa)

Saya senang dan jujur mengatakan bahwa Sulteng miliki benda-benda bersejarah dan berada di wilayah cagar biosfer Lore Lindu
Palu, (Antaranews Sulteng) - Perwakilan Kedutaan Besar Jerman untuk Indonesia, David Tantow bersama Direktur Program di Deutsche Gesellschaft f?r Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Georg Buchholz dalam kungjungannya ke Sulawesi Tengah mengatakan sangat kagum melihat situs megalit di Dataran Napu, Kabupaten Poso.

"Saya senang dan jujur mengatakan bahwa Sulteng miliki benda-benda bersejarah dan berada di wilayah cagar biosfer Lore Lindu," kata David di Palu, Jumat.

Dia mengatakan baru saja melakukan kunjungan ke Kabupaten Sigi melihat kegiatan konservasi hutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat yang merupakan program dari kerjasama antara Pemerintah Jerman dan Indonesia.

David mengatakan selama dua hari di Sulteng, ia bersama rekannya itu telah melihat program rehabilitasi lahan di sekitar Daerah Aliran Sungai (Das) Palu, Poso dan Sigi khususnya di Desa Baluase, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi.

Ini salah satu dari kegiatan kosenservasi yang dilaksanakan dalam rangka menjaga kelestarian alam dan lingkungan, juga dalam meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat sekitar cagar biosfer Lore Lindu.
Situs megalit di Kabupaten Poso perlu dilindungi dengan Perda (ANTARA/Basri Marzuki)


Lore Lindu selama ini sangat dikenal karena selain di dalamnya ada Kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), juga telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai cagar biosfer pada 1977.

"Lore Lindu sebagaimana diketahui merupakan paru-paru dunia yang perlu dijaga dan dipelihara dengan baik," kata dia.

Sepintas ia melihat bahwa masyarakat yang bermukim di sekitar Kawasan TNLL cukup perhatian dengan kawasan tersebut sehingga mereka patut diberi apresiasi dengan kegiatan-kegiatan pemberdayaan.

Dengan pemberdayaan itu, ekonomi dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat dan mereka akan menjaga hutan dan alam serta apa yang ada di dalamnya, termasuk flora dan fauna serta berbagai situs sejarah yang ada karena telah merasakan dampak positif dari keberdaan cagar biosfer Lore Lindu.

Baca juga: Perwakilan kedutaan besar Jerman terpesona telaga Tambing

David Tantow mengatakan situs megalit yang ada di Dataran Napu, Bada dan Behoa di Kabupaten Poso, terutama di Desa Watutawu, Kecamatan Lore Piore dan Desa Tamadue, Kecamatan Lore Timur merupakan bukti nyata keberadaban manusia zaman purbakala.

Karena itu, pemerintah dan masyarakat hendaknya menjaga dengan baik karena benda-benda purbakala itu hanya ada di cagar biosfer Lore Lindu.

"Ini kekayaan yang luar biasa bagi pemerintah dan masyarakat Sulteng serta juga Indonesia," kata dia.

Hal senada juga disampaikan Direktur Program Deutsche Gesellschaft f?r Internationale Zusammenarbeit (GIZ) Georg Buchholz dan konsultan forest programme III Sulteng, Bernd Unger.

Pemerintah Jerman kata mereka sangat memberikan perhatian besar terhadap cagar biosfer Lore Lindu yang sangat kaya dengan keanekaragaman flora dan fauna, seni dan budaya serta menyimpan banyak benda-benda bersejarah.

Dalam kunjungan ke situs megalit di Desa Tamadue, Lore Timur, juga ikut serta Konsultan Forest Programme III Sulawesi, Bernd Unger dan perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Mereka didampingi Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu, Jusman. Mereka disambut dengan upacara dan makan adat dihadiri langsung Ketua Majelis Hondo Pekurehua Taweilia Lore, Harry Kabi.

Menurut pengakuan mereka penyambutan yang luar biasa itu tidak akan pernah dilupakan karena mereka telah diterima menjadi warga Hondo Pekurehua Taweilia.

Upacaya adat tersebut merupakan bentuk penghormatan bagi para tamu-tamu khusus yang telah dilakukan para leluhur secara turun-temurun sampai sekarang ini. 

Baca juga: German embassy representatives mesmerized by lake Tambing`s beauty
Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar