Rakyat Suriah di Douma rindukan kehidupan yang lebih baik

id suriah

Dokumentasi seorang pria menggendong anak perempuan yang terluka di situs yang rusak setelah terkena serangan udara dua kali di lingkungan yang dikendalikan pemberontak, Bab al-Nairab, Aleppo, Suriah, Sabtu (27/08/2016). Pasca konflik berkepanjangan, Suriah akan berbenah kembali. (REUTERS/Abdalrhman Ismail)

Saya mau membangun kembali rumah saya dan tinggal di dalamnya dengan penuh martabat bersama anak-anak dan istri saya
Douma, Suriah,  (Antaranews Sulteng) - "Mengapa anda tinggal di rumah yang rusak? Ini rumah saya, ke mana lagi saya mesti pergi?" demikian gumanan Ahmad, seorang warga Douma, Suriah.

Ia berdiri di rumahnya, yang tembok dan jendelanya telah hancur di Kabupaten Douma di sebelah timur Ibu Kota Suriah, Damaskus.

Nada suaranya tampak memperlihatkan ketidak-berdayaannya, tapi kebenarannya ialah orang yang terjebak di tengah perang telah mengembangkan keuletan yang kuat, sesuatu yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelum perang.

Tak ada yang tertata di rumah Ahmad; semuanya jungkir-balik, kondisi yang mencerminkan kehidupan orang yang telah menderita selama kehadiran gerilyawan di Douma dan tempat lain di pinggir Damaskus, Ghouta Timur.

Ahmad tidak sendirian dalam kondisi tersebut, sementara Douma telah menderita selama perang akibat kekurangan segalanya di tengah kehadiran gerilyawan, yang telah menyimpan makanan di gudang mereka sementara warga sipil membayar harganya.

"Hidup kami selama kehadiran gerilyawan tragis sebab tak ada yang menunjang kami dan memberi kami hidup yang bermartabat. Kami tak memiliki keamanan dan menghadapi kekurangan makanan dan minuman ... tak ada apa-apa sama sekali di tempat ini," kata Ahmad kepada Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa pagi. Ia berdiri di tempat yang dulu menjadi beranda rumahnya.

Setelah pengungsian gerilyawan dua pekan lalu, lelaki itu berkata, "Hidup kami jauh lebih baik sekarang. Kami bisa bepergian dan bahan bangunan telah mulai tersedia."

"Saya mau membangun kembali rumah saya dan tinggal di dalamnya dengan penuh martabat bersama anak-anak dan istri saya," katanya.

Baca juga: Dewan Keamanan PBB pertimbangkan permintaan gencatan senjata 30 hari Suriah

Ahmad adalah salah seorang warga sipil yang memiliki untuk tidak meninggalkan rumah mereka selama perang dan berkeras untuk tetap tinggal di rumah mereka.

Di jalan-jalan yang menjadi tempat pertempuran di Douma, sangat sedikit mobil bisa dilihat sementara orang memilih untuk naik sepeda, bahkan kuda untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain.

Yang paling mencolok ialah tawa anak-anak di tempat yang berantakan tersebut. Mereka tertawa dan saling berkejaran seakan-akan ketidak-tahuan mereka telah menjadi tameng buat diri mereka dari musuh perang.

Di satu taman kecil, seorang anak lelaki membawa saudarinya, yang masih kecil, dan menaruh mereka di ayunan berkarat serta mengayunnya sambil tertara. Kegembiran terlihat nyata di wajah mereka meskipun kehancuran tak bisa menyembunyikan diri.

"Kami tinggal di dekat sini dan syukurlah kami memiliki taman kecil ini di dekat rumah kami dan kamia cuma ingin memperoleh kegembiraan," kata anak lelaki tersebut. Ia bergegas untuk membantu adik perempuannya di ayunan.

Sebagian orang di Douma meninggalkan bangunan yang rusak parah sehingga tak bisa ditempati.

Di dekat Bundaran Syuhada di Douma, Jamal keluar dari satu bangunan yang rusak parah, dan semuanya tertutup jelaga.

Ketika ditanya bagaimana ia bisa hidup di sana, lelaki itu menjawab, "Sekarang tak ada yang lebih baik dibandingkan dengan ini." dan ia memang benar.

Baca juga: Prancis umumkan bantuan kemanusiaan 50 juta euro untuk Suriah
Pewarta :
Uploader : Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar