Menyarungi lereng demi selamatkan jalan nasional Tawaeli-Toboli

id BPJN,Tawaeli-Toboli,Pumpunan,Rolex

Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Murwanto (kanan) dan Kepala BPJN XIV Akhmad Cahyadi menyaksikan pekerjaan 'manajemen lereng' pada ruas jalan nasional Tawaeli-Toboli (Kebun Kopi), Sulawesi Tengah, Selasa petang (15/5) (Antaranews Sulteng/Rolex Malaha)

Palu (Antaranews Sulteng ) - Ruas jalan ini panjangnya hanya 45-an kilometer, namun entah sudah berapa triliun uang negara tersedot sejak poros penting ini direkonstruksi oleh pemerintah pusat sejak dekade 1990-an.

Itulah ruas jalan nasional Tawaeli-Toboli atau lebih dikenal masyarakat Sulawesi Tengah sebagai jalur Kebun Kopi karena di puncak ruas ini, terletak sebuah desa yang disebut Kebun Kopi.

Disebut Kebun Kopi karena desa berudara sejuk dan terletak pada ketinggian sekitar 800-an meter di atas permukaan laut itu, menjadi tempat persinggahan untuk menyeruput kopi setelah berjam-jam menyusuri jalan sepanjang 25 kilometer dari arah Toboli ke Tawaeli atau sebaliknya.

Sebelum ditangani intensif oleh pemerintah menggunakan dana APBN pada dekade 90-an, kondisi jalan yang memiliki sekitar 1.000 kelokan ini masih sangat sempit dan tidak beraspal sehingga untuk jarak 45-an kilometer tersebut, harus ditempuh empat hingga lima jam. Maka Desa Kebun Kopi menjadi tempat persinggahan paling ramai, bahkan tempat-tempat menginap sempat tumbuh subur ketika itu.

Kini, sebagian besar ruas jalan di lokasi itu sudah lebar dan beraspal mulus. Ada yang dilapisi aspal panas (hotmix) dan ada pula yang dilapisi beton.

Namun demikian, persoalan tak selesai, dan proyek bernilai puluhan bahkan ratusan miliar setiap tahun pun seolah tak pernah berhenti. Persoalan pokoknya terletak di lereng, baik lereng atas (tebing) maupun lereng bawah (jurang).

"Inilah poros yang paling terkenal dengan masalah longsor, sangat identik dengan longsor. Longsor di lereng atas maupun lereng bawah," kata Julian Situmorang, PPK-9 Satuan Kerja III Balai Pelaksana Jalan Nasional XIV Kementerian PUPR yang menangani ruas Tawaeli-Toboli tersebut.

Setiap kali musim hujan tiba, perasaan was-was pasti muncul. Bila lereng atas yang longsor, maka badan jalan akan tertimbun, dan jika lereng bawahnya yang jatuh, maka badan jalan akan lenyap.

Hal itu terjadi karena kondisi alam dimana lapisan tanahnya sangat labil dan mudah tererosi, karena strukturnya didominasi oleh batuan molase dan metamorf dengan pelapukan tinggi.

Kondisi ini diperparah lagi oleh lingkungan yang semakin terganggu dengan perkebunan rakyat yang ekspansif, ditambah lagi adanya patahan (cesar) gempa tektonik yang cukup aktif melintas di ruas ini.
 

Managemen lereng

Melihat kondisi riil di lapangan, maka sejak 2014, Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengubah konsep penanganan ruas Kebun Kopi yang dikenal dengan `kelokan gergaji` ini, karena bila difoto dari udara, kelokan-kelokannya mirip mata gergaji.

Konsep penanganan itu disebut managemen lereng, artinya, fokus pekerjaan adalah memperbaiki kondisi lereng guna meminimalisasi terjadinya longsor dengan konstruksi khusus yang telah melalui kajian ilmiah dengan melibatkan para ahli geologi.

Ada dua kegiatan utama dalam managemen lereng ini yakni membuat lereng lebih landai (reslope) dan `menyarungi` lereng-lereng tersebut menggunakan material geogrid dan erosion mat.

Baca juga: Dirjen Bina Marga tinjau ruas Kebun Kopi, bawa pesan khusus Menteri PUPR (vidio)

Menurut Kasatker II PJN XIV Ibnu Kurniawan, lereng-lereng yang kemiringannya mencapai 75 derajat dengan kertinggian sampai 89 meter, digaruk menggunakan excavator agar lebih landai dengan kemiringan sekitar 55 derajat.

Setelah mencapai tingkat kelandaian tertentu, lereng itu kemudian disarungi (ditutup) dengan material geogrid, berupa jaring-jaring plastik tebal berwarna coklat tua yang fungsinya menahan batuan besar agar tidak lepas dari lapisan tanah.

Setelah material geogrid, lapisan sarung ditambah lagi dengan jaring-jaring plastik berwarna hijau kebiruan yang disebut erosion mat, berfungsi sebagai pengontrol erosi sekaligus menjadi media tanam tumbuhan menjalar yang diharapkan meminimalisasi erosi.

"Di semua lereng tersebut, kami juga membangun drainase sehingga aliran air saat hujan turun bisa dikontrol dan dikendalikan sehingga tidak menyebar liar ke permukaan lereng yang sudah disarungi dengan material geogrid dan erosion mat tadi," ujarnya.

Akibat begitu besar dan rumitnya manajemen lereng itu, maka anggaran pembanguna jalan di ruas Tawaeli-Toboli saat ini sebagian besar disedot oleh penanganan lereng, bukan pada peningkatan kualitas badan jalan.

Saat ini, ada dua paket proyek peningkatan jalan ruas Tawaeli-Toboli yang sedang berjalan yakni pertama rekonstruksi dan penanganan lereng Nupabomba-Kebun Kopi-Toboli sepanjang enam kilometer yang menghabiskan dana APBN tahun jamak (2017-2018) sebesar Rp123,2 miliar dan dikerjakan kontraktor PT. Wasco SP-KSO.

Paket kedua adalah rekonstruksi dan penanganan lereng Tawaeli-Nupabomba-Kebun Kopi-Toboli (4 km) menggunakan dana APBN tahun jamak (2017-2018) sebesar Rp74,7 miliar dikerjakan PT. Tunggal Mandiri Jaya (TMJ).

"Sekitar 80 persen dari total anggaran (hampir Rp200 miliar) yang dialokasikan pada dua proyek itu terserap untuk penanganan lereng," ujar Julian Situmorang dan menambahkan konstruksi seperti ini baru diterapkan di dua lokasi di Indonesia yakni di ruas Kenbun Kopi (Sulteng) dan di NTB.
 
Suasana proyek pengembangan infastruktur jalan nasional Trans Sulawesi di Kawasan Pegunungan Kebun Kopi, Sulawesi Tengah, Senin (14/5). Pengerjaan jalur pegunungan ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) menyerap anggaran sekitar Rp200 miliar dengan dominasi pekerjaan fisik yakni 'menyarungi' lereng. (Antaranews SUlteng/Mohamad Hamzah

Tuntas 2022

Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN XIV) Sulteng-Sultra Akhmad Cahyadi berharap penanganan ruas Tawaeli-Toboli yang kini ditingkatkan statusnya menjadi proyek strategis nasional berdasarkan Inpres No.3 Tahun 2018 itu akan tuntas pada 2022.

Tuntas di sini artinya bahwa ancaman longsor di seluruh ruas jalan yang menghubungkan trans Sulawesi di pesisir barat dan pesisir timur Pulau Sulawesi itu akan menjadi sangat minimal dengan menerapkan konsep managemen lereng yang sedang berjalan.

Dirjen Bina Marga Arie Setiadi Murwanto ketika meninjau proyek rekonstruksi jalan Kebun Kopi pada Selasa (15/5) pekan lalu meyakini konsep pengamanan saat ini cukup efektif, namun meminta stafnya untuk terus mengkaji cara-cara baru yang lebih efektif.

"Sehingga pada akhirnya, Ditjen Bina Marga tidak lagi seperti Dinas Kebersihan yang hanya muncul membersihkan saat ada longsor, tetapi betul-betul menemukan cara yang jitu untuk menghindari terjadinya longsor," ujarnya.

Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola memberikan apresiasi tinggi kepada Ditjen Bina Marga yang terus melakukan penanganan yang intensif terhadap ruas Toboli-Tawaeli, karena jalur ini sangat strategis bagi Kota Palu baik dari sisi perekonomian, pertahanan keamanan dan sosial kemasyarakatan.

"Sedikit saja jalan ini terganggu, ekonomi masyarakat segera terdampak. Harga-harga langsung naik karena distribusi berbabai kebutuhan masyarakat pasti stagnan," ujarnya.
 

 
Pewarta :
Editor : Adha Nadjemudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar