HUT ke-162 Wita Mori akan diperingati di Benteng Ensa Ondau

id morowali utara,mori,kolonodale

Relawan Monga’e saat melaksanakan upacara HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus 2016 di Benteng Matanda’u, Desa Sampalowo, Kecamatan Petasia Brat, Morut. (Antaranews Sulteng/Ale)

Kolonodale (Antaranews Sulteng) - Wita Mori (Tanah Mori) pada 2018 ini telah berusia 162 tahun, namun baru kali inilah hari ulang tahun tersebut akan diperingati oleh masyarakat Wita Mori.

Upacara peringatan akan digelar di Benteng Ensa Ondau, Desa Korompeeli, Kecamatan Lembo, Kabupaten Morowali Utara, pada tanggal 22 Juni 2018. 

Seluru prosesi upacara ini akan menggunakan bahasa Mori. Pihak penyelenggara sudah mengedarkan undangan dan diharapkan hadir para Ketua Lembaga Adat tingkat Desa dan kecamatan se-Kabupaten Morowali Utara, anak sekolah, Karang Taruna, pecinta alam, dinas terkait, dan masyarakat setempat. 

Tadulako Relawan Monga’e Alwun Lasiwua, SP,MM selaku pemrakarsa mengemukakan bahwa upacara ini dilakukan untuk menanamkan rasa kecintaan generasi muda terhadap nilai-nilai perjuangan para pendahulu yang gagah berani melawan penjajahan kolonial Belanda.

"Perang Ensa Ondau yang terjadi pada bulan Juni 1856 merupakan Perang Mori I dimana rakyat Mori dengan semangat dan keberanian berusaha mempertahankan wilayahnya dari serangan pasukan Belanda. Mereka melawan dengan peralatan seadanya demi mempertahankan harga diri. Ini poin penting yang perlu kita hayati bersama," kata Alwun.

Rangkaian acara di Benteng Ensa Ondau itu akan berlangsung selama tiga hari. Pada hari pertama, Kamis (21/6),  peserta akan menyiapkan lokasi upacara dan membuat tenda-tenda untuk penginapan peserta. Hari kedua, Jumat (22/6) jam 9 pagi upacara HUT Wita Mori ke-162, dan sore harinya naik ke Benteng Ensa Ondau untuk melihat jejak sejarah perjuangan rakyat Mori. Hari ketiga, Sabtu (23/6) kembali ke daerah masing-masing. Peserta diperkirakan sekitar 300 orang.

Penetapan HUT Wita Mori tersebut melalui proses yang panjang. Selama ini belum pernah ada kesepakatan di antara tokoh-tokoh Mori dan pemerhati sejarah Mori mengenai hari ulang tahun tersebut. 

Hasil seminar Dewan Adat

Keputusan hari lahir Wita Mori kemudian diambil melalui seminar yang dilaksanakan Dewan Adat Mori Kabupaten Morowali Utara di Desa Bunta, Kecamatan Petasia Timur, pada 3 Januari 2018 lalu. 

Seminar itu diikuti oleh unsur masyarakat, unsur pemuda, para kepala desa, camat, Staf Ahli Bupati Morowali Utara, Kabag Hukum Pemda Kabupaten Morowali Utara, serta unsur pimpinan Komisi II DPRD Kabupaten Morowali Utara.

Baca juga: Upacara Sumpah Pemuda di Morut gunakan Bahasa Mori
Peserta upacara Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2017 di Benteng Pelua, Kecamatan Lembo Raya, Morut. Peserta upacara dari relawan Mongae, Kelompok Pecinta Alam dan siswa SMP/SMA Kecamatan Lembo dan Lemboraya. (Antaranews Sulteng/Ale)


Dalam rekomendasi dan keputusan seminar yang ditandatangani Ketua I Dewan Adat Wita Mori Drs Julius Pode, MM dan Sekretaris Umum Alwun Lasiwua, SP, MM, para peserta seminar sepakat untuk menetapkan hari ulang tahun Wita Mori sebagai bukti keberadaan dan pengakuan terhadap nilai-nilai perjuangan para pendahulu dalam mempertahankan daerahnya.

Dalam seminar itu, narasumber Dr. Pramaartha Pode, S.IP, M.Si, yang melakukan penelitian khusus tentang perjuangan rakyat Mori memberikan masukan dalam menentukan HUT Wita Mori yang pertama kali perlu ditentukan adalah sejak kapan kata Mori masuk dalam literatur sejarah. Ia juga memberikan beberapa butir literatur sejarah yang menunjukkan keberadaan to Mori.

Dari hasil penelusuran catatan sejarah, kata Pramaartha Pode, ditemukan fakta bahwa kata Tomori tidak pernah muncul dalam catatan Belanda sampai dengan pertengahan abad 19, sehingga untuk menetapkan HUT Wita Mori dapat ditentukan dengan mengacu pada penggunaan kata Mori sejak pertengahan abad 19.

Setelah menentukan kata Mori pertama kali disebut pada pertengahan abad 19, ia melakukan perbandingan dengan beberapa daerah lain di Indonesia seperti HUT Jakarta, HUT Surabaya, HUT Mojokerto, HUT Tuban, dan HUT Banyuwangi, yang selalu didasarkan pada peristiwa penting dan bersejarah di daerah itu.

Dengan demikian, berdasarkan pengalaman kota-kota besar di Indonesia, pencarian hari lahir atau hari jadi sebuah kota atau daerah, selalu didasarkan kepada maksud tertentu, biasanya dalam upaya membangkitkan rasa bangga rakyat akan sejarah daerahnya, mendorong untuk mencintai daerahnya serta mendorong untuk ikut serta secara ikhlas dan bangga dalam pembangunan daerahnya di segala bidang.

“Penetapan hari jadi kota atau daerah dimanapun selalu diambil dari suatu peristiwa yang paling bersejarah dari kota atau daerah yang bersangkutan, yang dapat menimbulkan rasa bangga masyarakatnya," ujarnya.

Dari pemikiran itu, peserta seminar akhirnya sepakat menetapkan HUT Wita Mori pada tanggal 22 Juni 1856 yakni peristiwa Ensa Ondau yang juga biasa disebut Perang Mori I.

Perang Ensa Ondau tersebut merupakan peristiwa bersejarah karena merupakan titik awal perlawanan to Mori terhadap penjajahan Belanda. Waktu itu pasukan Belanda yang diperkuat dengan tambahan pasukan dari Kerajaan Bungku dan Kerajaan Banggai dengan kekuatan lebih 2.000 personil menyerbu pasukan Mori yang bertahan di Benteng Ensa Ondau dengan kekuatan hanya sekitar 60 orang. 

Relawan Monga’e Morowali Utara sudah beberapa kali melakukan ekspedisi dan melaksanakan upacara pada daerah-daerah bersejarah dan memiliki nilai perjuangan bagi rakyat Mori. Upacara tersebut dilakukan pada hari-hari penting nasional seperti Hari Sumpah Pemuda dan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus. 
 
Bupati Morowali Utara Ir. Aptripel Tumimomor, MT getol mendukung penggalian sejarah Mori hingga disepakatnya hari lahir Wita Mori, 22Juni  (Foto Antara/Chandra)
Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar