Tim Basarnas Sulteng kembali cari korban tenggelam

id tenggelam, sar,tambing

Seorang anggota Tim Basarnas Sulteng siap melakukan penyelaman mencari korban yang tenggelam di Danau Tambing. (Foto Antara/Anas Masa)

Kita diberi waktu tujuh hari dalam mencari korban," kata Dirman
 Palu, 26/6 (Antara) - Tim Badan SAR Nasional, pada Selasa pagi, kembali mencari seorang pengunjung yang tenggelam di obyek wisata Danau Tambing, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada 24 Juni 2018.

Koordinator Tim Basarnas Sulteng Dirman dari lokasi tempat kejadian peristiwa (TKP) di Desa Sedoa, Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, Selasa, mengatakan pihaknya kembali melakukan pencarian di sekitar tempat tenggelamnya korban yang berinisial Raymon, pemuda asal Marawola, Kabupaten Sigi itu.

 "Hari ini kita akan menyisir lagi dengan cara menguncangkan air danau dan menyelam di sekitar lokasi kejadian," kata dia.

 Dalam pencarian tersebut, Tim Basarnas Sulteng menurunkan 10 personel dan?secara bergantian mereka akan melakukan penyelaman dibantu pula masyarakat di Desa Sedoa dan petugas dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (TNLL).

 Obyek wisata Danau Tambing terletak pada ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut dan berada pada pengawasan penuh Balai Besar TNLL.

Karena obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan lokal, nusantara maupun mancanegara tersebut juga masuk dalam wilayah cagar biosfer yang ditetapkan UNESCO pada 1977.

 Menurut Dirman kondisi fisik Danau Tambing selain airnya sangat dingin, juga berlumpur dan keruh.

 Beberapa penyelam dari Tim Basarnas yang diterjunkan melakukan penyelaman pada sepanjang hari Senin (25/6) mengaku sulit menemukan korban karena gelap.

 "Jarak pandang sangat dekat dan banyak lumpor serta tumbuhan air yang tidak kelihatan jika dari atas permukaan danau," kata Dirman.

 Namun demikian, Tim Basarnas tetap berusaha keras sampai korban bisa ditemukan.

"Kita diberi waktu tujuh hari dalam mencari korban," katanya.

Tetapi berharap tidak sampai tujuh hari, korban bisa ditemukan.

 Ihsan, paman korban menyerahkan pencarian keponakannya kepada Tim Basarnas dan berharap besar segera ditemukan dalam waktu dekat ini.

 Dia mengemukakan merasa sangat kehilangan karena korban adalah anak pertama dari tiga bersaudara.

Karenanya, ia tidak mempersalahkan pihak pengelola obyek wisata, sebab kejadian itu murni musibah. Lagi pula selama ini tidak diizinkan pengunjung untuk turun ke danau.
rakit khusus untuk digunakan petugas membersihkan sampah di danau


 Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNLL, Periskila Sampeliling kembali mengimbau para pengunjung untuk tidak turun ke danau.

 Selama ini, para pengunjung yang hoby memnacing ikan hanya memancing bisa dari penggiran danau saja.

 Dia juga menegaskan rakit tradisional yang ada di danau bukan untuk digunakan oleh pengunjung. Rakit itu sangat sederhana dan digunakan petugas setiap kali membersihkan sampah yang ada di danau.

 "Itupun hanya di pinggiran danau saja sampah dibersihkan, sebab rakit hanya dibuat sederhana dari bahan baku beberapa potong kayu sehingga sangat berbahaya sehingga hanya petugas yang bisa menggunakanya," kata dia.

 Musibah ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap pengunjung obyek wisata Danau Tambing dalam beberapa hari ini tetap ramai.

Obyek wisata yang berada di poros jalan Palu-Napu selama ini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dan banyak disukai para wisatawan mancanegara karena meraik dan unik.

 Uniknya, di sekitar kawasan itu menjadi habitat berbagai flora dan fauna, termasuk endemik seperti kayu leda, tumbuhan anggrek, kantong semar dan juga ratusan jenis burung, termasuk 30 persen endemik.

 Sehingga para wisatawan mancanegara berdatangan hanya khusus mengamati dan meneliti burung. Bagi wisatawan mancanegara hutan sekitar Danau Tambing adalah "surga" bagi ratusan jenis burung yang hidup dan berkembangbiak dalam kawasan cagar biosfer Lore Lindu.

 
Pewarta :
Editor : Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar