Suriah kuasai bukit strategis dekat perbatasan Israel

id suriah

Gerilyawan Suriah (Reuters/Muzaffar Salman)

Amman, (Antaranews Sulteng) - Angkatan bersenjata Suriah dan sekutunya berhasil menguasai sebuah bukit strategis yang menghadap langsung ke kawasan Israel di Dataran Tinggi Golan, demikian keterangan stasiun televisi negara dan kelompok gerilyawan pada Senin.

Pembebasan kawasan itu merupakan bagian dari upaya pasukan pemerintah untuk menguasai kembali wilayah tersisa di kawasan barat daya Suriah dari tangan gerilyawan.

Militer Suriah mengatakan bahwa mereka menguasai bukit al-Haara pada hari kedua operasi serangan untuk mengambil alih kawasan terakhir di Provinsi Quneitra yang sebelumnya dikuasai gerilyawan dan berada di dekat perbatasan Israel.

Bukit -- yang menjadi digunakan untuk menempatkan sebuah radar anti-pesawat sebagai bagian dari sistem pertahanan Suriah dari serangan Israel dan merupakan titik tertinggi di Provinsi Deraa --  tersebut jatuh ke dalam penguasaan gerilyawan pada Oktober tahun 2014.

Kawasan itu dibombardir oleh tentara Rusia dan Suriah sepanjang dua hari terakhir, demikian keterangan sejumlah gerilyawan dan sebuah badan pemantau perang.

Seorang sumber militer Suriah mengatakan bahwa pihaknya telah merebut sejumlah wilayah di Provinsi Quneitra, termasuk kota Mashara yang terletak 11 km dari perbatasan Dataran Tinggi Golan.

Pihak gerilyawan mengatakan bahwa pesawat tempur Rusia dan Suriah secara intensif membombardir sejumlah kota di Quneitra untuk membuat mereka menyerah. Mereka dipaksa memilih untuk terus mundur atau bergabung dengan kelompok milisi bersenjata pro-pemerintah.

Pertempuran terjadi hanya beberapa kilometer dari garis zona pasukan perdamaian yang diawasi PBB sejak tahun 1974 setelah berakhirnya perang Arab-Israel.

Israel sudah mengancam akan "membalas dengan tegas" jika ada upaya dari pasukan Suriah untuk menguasai zona tersebut. Israel tidak ingin musuh utama mereka Iran dan Hizbullah, yang merupakan sekutu dari Presiden Suriah Bashar al Assad, secara bebas menempatkan pasukan di dekat perbatasan.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin -- dalam sebuah konferensi pers bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki -- mengatakan bahwa dirinya dan Putin telah sepakat untuk bekerja sama dalam memastikan keamanan Israel.

Putin sendiri menyebut pentingnya memulihkan situasi keamanan di sepanjang perbatasan Golan sebagaimana terjadi sebelum dimulainya krisis di Suriah pada 2011 lalu.

Menjelang pertemuan antara Trump dan Putin, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menemui Putin di Moskow dan menghubungi Trump untuk membicarakan persoalan Suriah dan Iran.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan, Netanyahu telah menjelaskan kepada Putin bahwa dirinya tidak akan berupaya melengserkan sekutunya, Bashar. Namun dia meminta Moskow untuk mendesak Iran agar menarik pasukannya dari Suriah.

Operasi militer dari pemerintah Suriah bertujuan untuk menguasai sebuah area strategis yang terkenal dengan sebutan "Segitiga Maut", yang menghubungkan kawasan selatan Damaskus dengan Provinsi Deraa dan Quenitra.

Area itu adalah benteng pertahanan milisi yang terafiliasi dengan Iran seperti Hizbullah, kata sejumlah sumber intelejen negara Barat.

Israel mengindikasikan bahwa mereka tidak akan menghalangi operasi militer Suriah di Quneitra sepanjang mereka menjauh dari zona demiliterisasi PBB.

Sementara Suriah pada Minggu menuding Tel Aviv telah menyerang pangkalan udara Nairab di Aleppo, yang diduga digunakan oleh angkatan bersenjata Iran. Beberapa laporan menunjukkan bahwa beberapa tentara, termasuk dari Iran, yang terbunuh dalam serangan itu.
Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar